Suasana pagi di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Serpong terasa berbeda (25/11/25).
Lapangan utama dipenuhi santri berseragam rapi, guru berdiri dengan penuh wibawa, sementara bendera merah putih perlahan naik ke puncak tiang.
Upacara Hari Guru Nasional 2025 bukan sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi mendalam tentang peran guru sebagai teladan dalam membentuk peradaban.
Upacara dipimpin langsung oleh Dr. KH. Mahrus Iskandar, B.Sc., yang dalam amanatnya menegaskan bahwa guru harus senantiasa memberikan suri teladan yang baik.
Beliau mengaitkan pesan ini dengan keteladanan Nabi Idris A.S. dan Nabi Musa A.S., dua sosok nabi yang dalam sejarah Islam dikenal dengan keistimewaan masing-masing.
“Nabi Idris adalah teladan dalam kesabaran, ketekunan, dan kecintaan pada ilmu. Beliau dikenal sebagai nabi pertama yang menulis dengan pena, menandai lahirnya peradaban melalui tulisan. Sementara Nabi Musa adalah teladan dalam keberanian menghadapi kezaliman, keteguhan dalam membimbing umat, dan komitmen menegakkan syariat Allah. Guru harus meneladani keduanya: tekun dalam ilmu seperti Idris, dan berani menegakkan kebenaran seperti Musa,” ujar KH. Mahrus dalam amanatnya.
Pesan ini menjadi refleksi mendalam bagi para guru. Dalam konteks pendidikan modern, guru bukan sekadar pengajar materi, tetapi juga pembimbing moral dan spiritual.

Keteladanan Nabi Idris mengingatkan bahwa guru harus sabar dan tekun dalam menanamkan ilmu, meski prosesnya panjang dan penuh tantangan.
Sementara keteladanan Nabi Musa mengajarkan bahwa guru harus berani menghadapi tantangan zaman, termasuk arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan krisis moral yang melanda generasi muda.
Selepas amanat, suasana upacara berubah menjadi panggung ekspresi santri. Siswa kelas XII membawakan lagu “Syukron” dengan penuh penghayatan.
Liriknya menggema di lapangan, seolah menjadi doa bersama atas jasa guru yang tak pernah lekang oleh waktu.
Dilanjutkan dengan puisi berantai yang dibacakan oleh Evril, Nasha, dan Inez (siswa MTs).
Kata-kata mereka mengalir bergantian, menyampaikan pesan tentang ketulusan guru yang mengabdikan diri tanpa pamrih.
Acara ditutup dengan penampilan stand up comedy oleh Arya dan Fauzi (siswa kelas X). Gelak tawa santri dan guru pecah, mencairkan suasana khidmat menjadi hangat.
Humor yang segar menjadi simbol bahwa hubungan guru dan santri tidak hanya dibangun dengan kedisiplinan, tetapi juga dengan keakraban dan kebahagiaan bersama.
Hari Guru Nasional di Asshiddiqiyah Serpong tahun ini menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali peran guru.
Dalam konteks pesantren, guru bukan hanya pengajar ilmu agama, tetapi juga pembimbing kehidupan.
Mereka menanamkan nilai kejujuran, kesederhanaan, kesabaran, serta keberanian, sebagaimana Nabi Idris menanamkan ketekunan dan Nabi Musa menanamkan keteguhan dalam menghadapi tantangan.
Guru adalah pilar peradaban. Tanpa guru, ilmu tidak akan sampai, karakter tidak akan terbentuk, dan bangsa tidak akan memiliki arah.
Filosofi ini sejalan dengan pesan KH. Mahrus Iskandar: guru harus menjadi teladan, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam sikap dan tindakan nyata.

Peringatan Hari Guru Nasional 2025 di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah Serpong bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah refleksi mendalam tentang makna guru sebagai teladan.
Melalui amanat, penampilan santri, dan suasana kebersamaan, pesan yang ingin diteguhkan jelas: guru adalah figur yang menapak jejak Nabi Idris dan Nabi Musa, menulis peradaban dengan ilmu, membimbing dengan kesabaran, dan menegakkan kebenaran dengan keberanian.
Momentum ini diharapkan menumbuhkan rasa hormat, cinta, dan semangat belajar yang lebih kuat di kalangan santri.
Guru bukan hanya hadir di kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari, menjadi teladan yang menginspirasi generasi muda untuk terus menuntut ilmu dan berbuat kebaikan.
Penulis: Ika Indah Lestari
Guru di Madrasah Manbaul Ulum Pondok Asshiddiqiyah 06 Serpong
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














