Bayangkan jikalau seluruh kepribadian diri kita hari ini, cara kita berkomunikasi, menanggapi orang, dan bahkan cara kita mencintai ialah gema dari seseorang yang pernah mengangkat kita bahkan ketikan kita belum mampu untuk berdiri sendiri.
Bukan suara hati, bukan suara motivator, melainkan gema paling awal dari kehidupan; sentuhan lembut, tatapan sayang, dan pelukan hangat orangtua.
Kita tumbuh mengira bahwa kepribadian yang kita miliki merupakan pilihan pribadi, padahal sebagian besarnya ialah warisan emosional yang telah disalurkan oleh dua insan terdekat kita—orangtua.
Kasih sayang orangtua sering dipandang sebagai hal yang sederhana; pelukan hangat, tindakan kecil, atau kehadiran mereka di acara sekolah yang singkat. Namun, kasih sayang sebenarnya ialah investasi jangka panjang yang berpotensi besar membentuk masa depan anak kelak.
Mulai dari karakter, cara berkomunikasi, hingga pola pikir mereka di masa depan. Anak yang tumbuh dengan cinta bukan hanya merasa dicintai; mereka mampu memandang dunia dengan sisi perspektif yang berbeda, tumbuh dengan rasa aman terhadap kehadiran dunia dan percaya pada kemampuan diri sendiri.
Rumah dan keluarga ialah sekolah pertama, tempat anak belajar mengutarakan apa yang ia pikirkan, rasakan, dan butuhkan. Anak yang berada di dalam lingkungan penuh dialog, tempat ia bisa berkomunikasi tanpa merasa ‘terpaksa’ dan tidak diremehkan, tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kemampuan komunikasi yang sehat.
Mereka mampu memahami bahwa komunikasi bukan soal menang atau kalah, melainkan soal saling memahami dan menghargai.
Sebaliknya, ‘rumah’ yang penuh dengan kritikan tajam, penolakan, dan komunikasi yang keras, biasanya akan membawa pola defensif, takut bersuara, takut salah, atau malah bersuara terlalu keras yang menuntun mereka pada keruntuhan yang tidak dapat mereka kendali.
Mereka menganggap bahwa untuk didengarkan mereka harus bersuara ‘keras’ atau justru diam untuk menghindari konflik rumit. Naasnya, pola ini akan terbawa ke dalam hubungan pertemanan, pekerjaan, hingga ke pasangannya kelak.
Dengan demikian, dialog yang terjadi di rumah akan terus hidup dalam seorang anak, mengendap lama, hingga mereka menjadi seseorang yang dibentuk pada pola awal di ‘rumah’ mereka.
Tidak hanya mampu membentuk sifat dan cara berkomunikasi anak, kasih sayang orangtua juga membangun pola pikir seorang anak yang akan menjalani hidupnya kelak. Tumbuh di lingkungan yang memberikan dukungan tanpa henti membuat anak memahami bahwa dunia penuh dengan kemungkinan.
Mereka melihat masalah sebagai tantangan, bukan ancaman yang harus mereka hindari. Memberi apresiasi atas pencapaian mungkin diinginkan anak, tetapi yang benar-benar mereka butuhkan adalah apresiasi atas usaha mereka.
Ketika usaha kecil diapresiasi, entah itu karena ilustari yang mereka warnai atau sekadar mengikat tali sepatu sendiri, anak belajar bahwa proses jauh lebih berharga daripada hasil.
Anak yang tumbuh dengan grow mindset percaya bahwa kemampuan yang mereka miliki bisa mencapai langit, sementara anak yang tumbuh di lingkungan penuh tekanan dan sering dikritik bahkan hal kecil pun akan tumbuh menjadi pribadi yang menanamkan fixed mindset: takut gagal, takut salah, dan cenderung melihat masalah sebagai hal yang buruk yang harus dihindari.
Cinta bukan hanya untuk membuat anak merasa nyaman dan dicintai, tetapi juga dapat membuat mereka berani bermimpi dan menjelajahi banyak hal di luar sana.
Pada akhirnya, kasih sayang orangtua bukan hanya sebuah hadiah emosional untuk seorang anak, namun juga mesin waktu untuk melihat versi masa depan diri kita. Setiap dialog yang dilontarkan, setiap tindakan kecil, dan setiap perhatian kecil yang diberikan ternyata berperan besar dalam membangun struktur batin seorang anak.
“Dunia saksinya saat ku rekah
Dicinta penuh sehalus seharusnya
Aku bersinar saat ku rekah
Dicintai penuh sebaik-baiknya
Bahagiaku kau usahakan.”
— Ah, Nadin Amizah.
Baca Juga: Pengaruh Keluarga dalam Pembentukan Karakter Individu Anak
Masa depan diri kita tidak tumbuh begitu saja, ia melalui proses. Bertunas dari cinta pertama; kasih sayang orangtua. Cinta yang membentuk, melindungi, dan tanpa kita ketahui membangun diri kita di masa depan.
Penulis: Stekina Yolanda Pencawan (174251015)
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Airlangga
Dosen Pengampu: Narta Nikita Sari, drg., MDSc.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












