Bersyukur alhamdulillah, pada bulan suci Ramadhan 1443 H ini pandemi tak lagi memakan korban jiwa yang begitu banyak. Sudah sepantasnya umat manusia merasa bersyukur, karena hadirnya bulan Ramadhan ini kita masih diberi kesempatan untuk mencari amal sholih sebanyak-sebanyak. Karena kita tidak tahu amal apa yang kita banggakan di hadapan Allah SWT. Kita tidak tahu amal apa yang berharga di mata Allah.
Bahkan kita tidak tahu apakah amal-amal kita diterima oleh Allah atau tidak. Akan tetapi, disini kita sama-sama memohon kepada Allah, semoga semua amalan yang kita lakukan di dunia dapat diterima dan menjadi bekal kita untuk membeli surga-Nya Allah.
Baca juga: Meningkatkan Daya Tahan Tubuh Saat Berpuasa di Bulan Ramadhan
Meskipun begitu, amal sholih yang paling pertama dan paling utama di sisi Allah SWT adalah apa-apa yang telah Dia wajibkan. Hal ini senada dan seirama dengan hadits Qudsi, Allah SWT berfirman: “Tidaklah hamba-Ku bertaqarub kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih utama daripada apa yang Aku fardhukan atas dirinya. Hamba-Ku terus bertaqarrub kepada-Ku dengan amal-amal nawafil hingga Aku mencintai dirinya”. (HR. al-Bukhari, Ibnu Hibban dan al-Baihaqi)
Dalam menjalankan puasa, tentu saja harus dilandasi dengan iman yang kokoh dan kuat, sehingga takwa adalah buah dari puasa dan tingkatan yang paling tertinggi dalam mencapai derajat takwa. Iman ini haruslah mantap dan tidak mudah goyah jika ada sesuatu hal yang datang kepadanya. Apabila aqidah orang itu kuat maka ketika ada orang lain yang menyerang, maka dia akan menggunakan akalnya untuk mengatakan itu adalah benar. Akan tetapi, jika aqidah orang itu lemah maka ketika ada orang lain yang menyerang, maka dia akan mudah goyah dan akalnya tak mampu mengatakannya dengan benar.
Idealnya, ketika datangnya bulan puasa, setiap mukmin pasti berlomba-lomba untuk mengucap kata maaf kepada seseorang, baik itu kepada adik atau kakaknya, keluarga terdekatnya, teman atau sahabatnya, guru atau mu’allimnya, dan yang terakhir yang tak pernah dilupakan yaitu kepada orangtuanya.
Baca juga: Pentingnya Menjaga Pola Minum di Bulan Puasa
Akan tetapi, suasana pandemi yang menyelimuti di kota Yogyakarta ini tentu tidak semua orang yang berfikir demikian. Sebab, banyak sekali orang yang berbondong-bondong untuk minta maaf pada hari ketika dimana seluruh umat muslim melaksanakan Hari Raya Idul Fitri.
Hari itu adalah hari dimana setiap mukmin saling bersalam-salaman dan memohon doa restu serta meminta maaf atas kesalahan dan kekhilafan. Tapi, itulah yang seharusnya menjadi teorinya. Tapi pada faktanya, hanya sedikit orang yang melalukannya, sebab merasa dirinya tak punya salah kepada seseorang yang dikenalnya.
Di negara Indonesia yang mayoritasnya beragama Islam, sudah menjadi hal yang wajar ketika ada sanak saudara, keluarga atau teman kita yang meminta maaf setelah puasa Ramadhan. Karena, puasa selalu diidentikan dengan maaf-maafan pada saat hadirnya Lebaran.
Ujungnya-ujungnya, semua orang mengingat akan kesalahan yang telah diperbuat dan diakhiri dengan penyesalan meminta maaf dengan berjabat tangan pada saat datangnya Hari Lebaran. Maka dari itulah, penulis mengangkat judul tentang habis puasa terbitlah jabat tangan.
Memang benar, itulah yang seharusnya dilakukan bagi setiap orang mukmin. Alhasil, tak sedikit kaum muslim yang saat itu berubah. Yang dulunya jahat sekarang menjadi baik, yang dulunya perilakunya buruk sekarang berubah 180 derajat berperilaku sholih, yang dulunya pernah ingkar janji sekarang khilaf dan mengakui kesalahannya untuk tidak akan mengulanginya lagi.
Baca juga: Mau Diet Pada Saat Puasa? Yuk Ikuti Tips Berikut
Allah SWT berfirman yang artinya: “Tetapi karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuki mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan Allah dari tempat-tempatnya dan mereka sengaja melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu Muhammad senantiasa akan melihat kekhianatan dari mereka kecuali sedikit diantara mereka yang tidak berkhianat, maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Maidah:13)
Oleh karena itu, umat muslim seharusnya sadar bahwa minta maaf tidak harus habis puasa kemudian menunggu Hari Raya Idul Fitri untuk berjabat tangan. Karena sejatinya, minta maaf itu dilakukan setiap hari dan tak harus menunggu ketika hari raya tiba. Minta maaf adalah hal yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW, meskipun kita tidak punya salah kepada orang lain.
Penulis: Nur Zaytun Hasanah
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Indonesia
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













