Islam di Inggris: Sejarah, Perkembangan dan Tantangan

Islam di Inggris: Sejarah, Perkembangan dan Tantangan

Sejarah Awal Islam di Inggris

Islam mulai masuk ke Inggris sekitar akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, didorong oleh imigrasi dari Asia Selatan, khususnya Pakistan, Bangladesh dan India. Banyak imigran ini adalah kelasi yang direkrut oleh East India Company, yang kemudian membentuk komunitas Muslim di Inggris, terutama di kota-kota pelabuhan seperti Cardiff, Liverpool dan London.

Pada akhir abad ke-19, masjid pertama di Inggris didirikan di Woking oleh sekelompok elit Muslim, yang menjadikannya pusat kegiatan keagamaan dan dakwah. Pendirian Masjid Pusat di London juga didukung oleh Raja George IV pada tahun 1944, meskipun pembangunannya tertunda akibat Perang Dunia II.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Sejak tahun 1960-an, kebijakan penyatuan kembali keluarga imigran berkontribusi pada peningkatan jumlah umat Muslim di Inggris; pada sensus 1981, jumlah imigran Muslim mencapai 360 ribu dan meningkat menjadi 636 ribu pada tahun 1991.

Saat ini, Islam adalah agama terbesar ketiga di Inggris setelah Kristen dan Hindu, dengan sekitar 4,4% dari total populasi. Islam telah menjadi bagian integral dari kehidupan sosial dan politik Inggris, terlihat dari tokoh-tokoh Muslim seperti Sadiq Khan yang terpilih sebagai Wali Kota London, serta banyaknya masjid yang dibangun dan beberapa gereja Kristen tua yang dialihfungsikan menjadi masjid.

Sejarah masuknya Islam ke Inggris mencerminkan dinamika sosial yang kompleks dan kontribusi signifikan dari komunitas Muslim dalam berbagai aspek kehidupan di negara tersebut.

Baca Juga: Perbandingan Pendidikan di Negara Islam

Perkembangan Islam Dalam Politik di Inggris

Perkembangan Islam dalam politik di Inggris telah mengalami transformasi yang signifikan, terutama dengan meningkatnya keterlibatan komunitas Muslim dalam berbagai aspek kehidupan politik.

Salah satu tonggak penting adalah terpilihnya Sadiq Khan sebagai Wali Kota London pada tahun 2016, menjadikannya wali kota Muslim pertama di ibu kota negara-negara Barat.

Kemenangannya tidak hanya menandai pencapaian individu, tetapi juga mencerminkan kemajuan bagi komunitas Muslim di Inggris, yang selama ini sering menghadapi tantangan diskriminasi dan stereotip.

Sadiq Khan berhasil terpilih kembali untuk masa jabatan ketiga pada Mei 2024, dengan memperoleh hampir 44% suara. Kemenangannya ini menunjukkan dukungan yang kuat dari pemilih di London, termasuk komunitas Muslim yang melihatnya sebagai representasi mereka dalam pemerintahan.

Selama masa jabatannya, Khan telah menghadapi berbagai tantangan, termasuk meningkatnya kejahatan dan isu-isu lingkungan seperti polusi udara, namun ia tetap mempertahankan posisinya dengan kebijakan yang mendukung keberagaman dan inklusi.

Kendati demikian, tantangan tetap ada, termasuk narasi negatif dan Islamofobia yang muncul dalam diskursus politik. Beberapa kandidat dari partai oposisi, seperti Susan Hall dari Partai Konservatif, telah menggunakan retorika yang dianggap Islamofobia dalam kampanye mereka.

Namun, keberhasilan Sadiq Khan menunjukkan bahwa ada ruang bagi suara Muslim dalam politik Inggris dan bahwa keberagaman dapat menjadi kekuatan dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif.

Secara keseluruhan, perkembangan Islam dalam politik di Inggris mencerminkan perjalanan panjang menuju representasi dan pengakuan yang lebih baik bagi komunitas Muslim, serta tantangan yang harus dihadapi untuk mencapai kesetaraan penuh dalam arena politik.

Baca Juga: Islam dan Negara: Kegamangan Pemerintahan Era Jokowi dalam Menjaga Dinamisasi Kehidupan Politik di Indonesia

Perkembangan Pendidikan Islam di Inggris

Perkembangan pendidikan Islam di Inggris telah menunjukkan kemajuan yang signifikan dalam beberapa dekade terakhir, seiring dengan meningkatnya jumlah komunitas Muslim dan kebutuhan akan pendidikan berbasis agama. Saat ini, terdapat lebih dari 2.000 masjid di Inggris, banyak di antaranya menyediakan fasilitas pendidikan seperti sekolah dasar dan menengah yang mengintegrasikan kurikulum nasional dengan pendidikan Islam.

Salah satu proyek terbaru adalah pembangunan Islamic Centre of Britain di Birmingham, yang direncanakan menjadi landmark religius baru. Pusat ini tidak hanya akan berfungsi sebagai masjid, tetapi juga akan mencakup pusat pendidikan, pusat komersial, dan ruang hijau, serta menawarkan program untuk ratusan siswa dalam kelas Madrasah malam.

Selain itu, sejumlah masjid telah bertransformasi menjadi pusat komunitas yang aktif, menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial dan pendidikan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat Muslim di Inggris. Misalnya, ada program pembibitan modern dan kegiatan rekreasi yang bertujuan untuk menghidupkan semangat komunitas di sekitar masjid.

Data terbaru dari sensus menunjukkan bahwa jumlah umat Islam di Inggris telah meningkat secara signifikan, mencapai sekitar 7% dari total populasi pada tahun 2021. Hal ini mencerminkan permintaan yang terus tumbuh untuk pendidikan Islam yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan masyarakat Muslim yang semakin besar.

Dengan demikian, pendidikan Islam di Inggris tidak hanya berfokus pada pengajaran agama, tetapi juga berusaha untuk memberikan kontribusi positif terhadap masyarakat secara keseluruhan melalui program-program yang mendukung perkembangan sosial dan ekonomi umat Muslim.

Baca Juga: Peran Agama dalam Mewarnai Kurikulum di Negara Iran

Tantangan Umat Muslim di Inggris

Umat Muslim di Inggris menghadapi berbagai tantangan yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Berikut adalah beberapa tantangan utama:

Diskriminasi dan Islamophobia

Islamofobia dan diskriminasi terhadap umat Muslim di Inggris telah meningkat secara signifikan, terutama setelah serangan teroris yang terjadi di London dan Manchester. Sentimen anti-Muslim ini mencakup berbagai bentuk perilaku kebencian. Mulai dari serangan verbal hingga fisik, serta diskriminasi dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan pekerjaan.

Kejahatan yang dimotivasi oleh kebencian terhadap agama juga meningkat. Data dari Departemen Dalam Negeri Inggris mencatat peningkatan 40% dalam insiden tersebut, di mana lebih dari setengahnya ditujukan kepada umat Muslim.

Penelitian oleh Tell MAMA menunjukkan lonjakan besar dalam insiden kebencian anti-Muslim, yang meningkat lebih dari tiga kali lipat setelah konflik antara Israel dan Hamas pada tahun 2023.

Dampak dari Islamofobia ini tidak hanya terasa dalam bentuk kekerasan fisik, tetapi juga mempengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan sosial umat Muslim. Banyak yang merasa terpinggirkan dan mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan masyarakat luas.

Penelitian menunjukkan bahwa remaja Muslim merasa harus bekerja lebih keras dibandingkan rekan-rekan non-Muslim untuk mencapai kesuksesan di sekolah dan pasar kerja. Secara keseluruhan, meningkatnya Islamofobia dan diskriminasi di Inggris menciptakan tantangan serius bagi komunitas Muslim, memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka serta kesempatan untuk berpartisipasi secara penuh dalam masyarakat.

Krisis Identitas dan Legitimasi

Salah satu tantangan utama adalah stereotip dan prasangka yang sering kali melekat pada komunitas Muslim. Banyak yang merasa bahwa mereka harus membuktikan diri sebagai “cukup Inggris” sambil tetap setia pada ajaran Islam.

Hal ini dapat menciptakan ketegangan internal, terutama di kalangan generasi muda yang ingin diterima oleh teman sebaya mereka namun juga ingin menghormati tradisi keluarga dan agama.

Dalam konteks pendidikan, anak-anak Muslim sering kali menghadapi diskriminasi yang dapat menghalangi mereka dari mencapai potensi penuh mereka. Misalnya, beberapa sekolah mungkin tidak sepenuhnya memahami atau menghargai praktik keagamaan seperti puasa Ramadan atau penggunaan jilbab, yang dapat menyebabkan rasa keterasingan bagi siswa Muslim.

Persepsi Negatif dan Stigma

Persepsi negatif dan stigma terhadap umat Muslim di Inggris sering kali diperkuat oleh stereotip media dan narasi publik yang merugikan. Setelah peristiwa besar seperti serangan teroris 9/11 dan serangan di London serta Manchester, citra umat Muslim dalam media sering kali dikaitkan dengan kekerasan dan ekstremisme.

Hal ini menciptakan gambaran yang tidak akurat, di mana seluruh komunitas Muslim dipandang sebagai ancaman, meskipun mayoritas umat Muslim adalah individu yang damai dan berkontribusi positif terhadap masyarakat.

Media massa memainkan peran penting dalam membentuk persepsi ini. Banyak laporan berita yang menyoroti tindakan kelompok ekstremis tanpa memberikan konteks yang memadai tentang keberagaman pandangan dalam Islam.

Misalnya, istilah-istilah seperti “radikalisasi” dan “terorisme” sering kali digunakan secara umum untuk menggambarkan tindakan individu tertentu, sehingga mengakibatkan generalisasi yang merugikan terhadap seluruh komunitas Muslim.

Penelitian menunjukkan bahwa kurangnya representasi Muslim dalam profesi media juga berkontribusi pada narasi yang biasa, di mana suara dan pengalaman umat Muslim jarang disampaikan secara akurat.

Stigma ini memiliki dampak yang mendalam pada kehidupan sehari-hari umat Muslim. Banyak dari mereka mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan masyarakat non-Muslim, karena ketakutan akan penilaian negatif atau diskriminasi.

Di lingkungan kerja, misalnya, umat Muslim mungkin merasa tertekan untuk menyembunyikan identitas mereka atau praktik keagamaan untuk menghindari perlakuan tidak adil. Selain itu, stigma ini dapat mempengaruhi kesehatan mental mereka, menyebabkan perasaan keterasingan dan kecemasan.

 

Penulis: Retno Dwi Astuti
Mahasiswa Jurusan Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Editor: I. Khairunnisa

Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses