Kesalahan Berpikir dalam Self-Diagnosis di Media Sosial

Self-Diagnosis
Ilustrasi Self-Diagnosis (Sumber: MMI)

Di zaman digital sekarang, media sosial telah berfungsi sebagai salah satu sumber informasi yang penting, terutama mengenai kesehatan mental. Banyak konten yang mengulas gejala seperti berpikir berlebihan, kecemasan, hingga trauma dapat dengan cepat dijumpai di platform seperti TikTok, Instagram, atau X.

Banyak pengguna kemudian merasa bahwa mereka mempunyai gangguan tertentu setelah menyaksikan atau membaca konten tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai self-diagnosis, yaitu usaha individu untuk mendiagnosis kondisi kesehatan mereka sendiri tanpa melalui bantuan profesional.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Fenomena self-diagnosis ternyata tidak sepenuhnya buruk, karena menunjukkan adanya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai isu kesehatan mental. Namun, di sisi lain, hal ini juga mencerminkan masalah dalam pola pikir.

Banyak orang cenderung segera menarik kesimpulan berdasarkan pengalaman pribadi atau informasi yang terbatas. Sebagai contoh, seseorang yang sering merasakan kecemasan dalam situasi tertentu dapat langsung menyimpulkan bahwa dirinya memiliki gangguan kecemasan.

Sebenarnya, dalam cara berpikir yang benar, suatu kesimpulan harus didasarkan pada bukti yang memadai dan melalui analisis yang matang. Fenomena ini juga dipengaruhi oleh tingginya tingkat ketidakpahaman terhadap kesehatan mental serta kecenderungan masyarakat untuk menerima informasi dari media sosial tanpa mengecek kebenarannya, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadi salah diagnosis (Wijaya et al.,2024).

Baca juga: Self-Diagnosis: Ketika Algoritma yang Menentukan Kondisimu

Salah satu faktor utama dari fenomena ini adalah kesulitan dalam membedakan antara fakta ilmiah dan non ilmiah. Fakta ilmiah dihasilkan lewat penelitian yang terstruktur, telah diuji, dan dilakukan oleh ahli yang berpengalaman.

Diagnosis dalam bidang psikologi, sebagai contoh, tidak hanya didasarkan pada satu gejala, tetapi melalui rangkaian langkah seperti wawancara, pengamatan, serta pemakaian alat pengukur yang telah teruji. Di sisi lain, informasi yang beredar di platform media sosial seringkali tidak melalui proses pengecekan yang ketat dan cenderung memuat informasi yang menyesatkan (Armstrong et al., 2025).

Sebaliknya, informasi tersebut seringkali bersifat pribadi dan berdasarkan pengalaman individu, sehingga banyak orang terjebak dalam anggapan bahwa pengalaman orang lain bisa langsung dijadikan rujukan untuk memahami diri mereka.

Di samping itu, karakteristik ilmu pengetahuan sering kali diabaikan saat kita mencoba memahami informasi mengenai kesehatan mental di platform media sosial.

Secara umum, ilmu pengetahuan memiliki sifat-sifat seperti sistematis, yang berarti disusun dengan cara yang teratur dan melalui langkah-langkah tertentu; logis, yang menunjukkan bahwa hal tersebut dapat diterima dengan akal dan mengikuti pola penalaran; berbasis bukti, yang menunjukkan bahwa informasi tersebut harus didukung oleh data atau hasil penelitian; serta dapat diuji kebenarannya menggunakan metode ilmiah.

Di sisi lain, konten di media sosial biasanya disajikan dengan cara yang singkat, menarik, dan penuh emosi, yang sering kali mengakibatkan penyederhanaan yang berlebihan terhadap konsep kesehatan mental (Corzine dan Roy, 2024).

Hal ini menyebabkan banyak informasi menjadi terlalu sederhana hingga kehilangan aspek-aspek penting. Dalam beberapa situasi, istilah-istilah psikologis bahkan dipakai dengan cara yang keliru, yang pada akhirnya menambah kesalahpahaman dalam masyarakat.

Dari sudut pandang epistemologi, penting bagi individu untuk mempertanyakan sumber kebenaran dari suatu informasi. Epistemologi membahas bagaimana seseorang mengetahui bahwa sesuatu itu benar. Dalam konteks self-diagnosis, pertanyaan yang perlu diajukan adalah apakah informasi tersebut berasal dari sumber yang valid, seperti jurnal ilmiah dan tenaga profesional, atau hanya dari konten populer di media sosial (Nahari & Sumardjijati, 2026).

Tanpa kemampuan untuk menilai sumber informasi secara kritis, individu akan lebih mudah terpengaruh oleh informasi yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Fenomena self-diagnosis juga tidak terlepas dari adanya berbagai bentuk kesalahan berpikir. Salah satu yang paling umum adalah generalisasi berlebihan, yaitu menarik kesimpulan umum dari pengalaman yang terbatas. Misalnya, seseorang yang merasa lelah secara emosional dalam beberapa waktu dapat langsung menganggap dirinya mengalami depresi.

Selain itu, terdapat pula kecenderungan untuk hanya memperhatikan informasi yang sesuai dengan kondisi diri sendiri sehingga memperkuat keyakinan yang belum tentu benar (Wijaya et al., 2024).

Kesalahan berpikir lainnya adalah menarik kesimpulan secara terburu-buru tanpa mempertimbangkan berbagai kemungkinan lain, seperti faktor lingkungan, kondisi fisik, atau situasi sementara yang sedang dialami. Hal ini juga diperkuat oleh pengaruh media sosial yang dapat memperkuat keyakinan individu melalui paparan informasi yang berulang dan algoritma yang personal, sehingga individu semakin yakin terhadap diagnosis yang dibuat sendiri tanpa dasar klinis yang memadai (Corzine & Roy, 2024).

Di sisi lain, media sosial juga berperan signifikan dalam memperkuat fenomena self-diagnosis melalui mekanisme algoritmik yang secara terus-menerus menampilkan konten serupa dengan minat awal pengguna; ketika seseorang mulai tertarik pada topik kesehatan mental, platform akan merekomendasikan informasi sejenis secara berulang sehingga menciptakan ilusi bahwa informasi tersebut relevan, umum, dan valid.

Paparan yang berulang ini tidak hanya membentuk persepsi kognitif individu, tetapi juga dapat memperkuat keyakinan terhadap hasil self-diagnosis meskipun dasar pemikirannya belum tentu akurat. Selain itu, interaksi sosial di dalam platform seperti komentar, pengalaman serupa, dan dukungan dari pengguna lain memberikan bentuk validasi sosial yang memperkuat proses tersebut, karena individu merasa dipahami dan diakui dalam interpretasi dirinya.

Dalam konteks ini, self-diagnosis tidak lagi menjadi proses individual semata, melainkan berkembang sebagai proses sosial yang melibatkan pertukaran narasi, pencarian makna, dan pembentukan identitas berbasis pengalaman kolektif di ruang digital (Johnson, 2026).

Dampak dari kesalahan berpikir dalam self-diagnosis tentu tidak dapat dianggap sepele, karena individu berpotensi salah memahami kondisi dirinya, mengalami kecemasan berlebih, bahkan mengabaikan bantuan profesional yang sebenarnya dibutuhkan.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat proses penanganan yang tepat serta memperburuk kondisi psikologis yang dialami, terutama ketika individu telah terlanjur menginternalisasi label diagnosis yang belum tentu akurat.

Selain itu, paparan konten kesehatan mental yang tidak tervalidasi di media sosial juga meningkatkan risiko misinformasi, di mana pengguna cenderung menerima dan mempercayai informasi tanpa verifikasi kritis, sehingga memperkuat miskonsepsi secara luas di masyarakat (Armstrong et al., 2025).

Fenomena ini semakin diperparah oleh rendahnya literasi kesehatan mental, khususnya pada remaja, yang membuat individu lebih rentan melakukan misdiagnosis dan menyebarkan pemahaman yang keliru kepada orang lain melalui interaksi digital, seperti komentar atau diskusi di media sosial (Wijaya et al., 2024).

Dengan demikian, kesalahan berpikir dalam self-diagnosis tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga berkontribusi terhadap terbentuknya konstruksi pemahaman yang salah secara kolektif di masyarakat.

Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi, terutama di era media sosial. Tidak semua informasi yang viral dapat dijadikan sebagai dasar kebenaran. Perlu adanya kesadaran bahwa perasaan pribadi tidak selalu mencerminkan kondisi klinis yang sebenarnya.

Dengan memahami perbedaan antara pengetahuan ilmiah dan non ilmiah, serta mempertanyakan sumber informasi secara kritis, individu dapat menghindari kesimpulan yang keliru dan lebih bijak dalam memahami dirinya sendiri.

 


Penulis: Mahayu Adha Rainy
Mahasiswa Psikologi, Universitas Brawijaya


Dosen Pengampu: Sukma Nurmala, S.Psi., M.Si.


Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Referensi

  1. Corzine, A., & Roy, A. (2024). Inside the black mirror: Current perspectives on the role of social media in mental illness self-diagnosis. Discover Psychology. https://doi.org/10.1007/s44202-024-00152-3.
  2. Armstrong, S., et al. (2025). Self-diagnosis in the age of social media: A pilot study of youth entering mental health treatment. Acta Psychologica. https://doi.org/10.1016/j.actpsy.2025.105015
  3. (ScienceDirect) An exploratory analysis of self-diagnosis on Reddit. (2026). SSM – Mental Health. https://doi.org/10.1016/j.ssmmh.2026.100597
  4. Nahari, M. J. R., & Sumardjijati. (2026). Persepsi Gen Z terhadap pesan kesehatan mental di media sosial. Jurnal JTIK. https://doi.org/10.35870/jtik.v10i2.5832
  5. Wijaya, R., et al. (2024). Fenomena self diagnose terhadap konten kesehatan mental di media sosial TikTok. JSSH. https://doi.org/10.30595/jssh.v8i2.23784

 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses