Bayangkan kamu datang ke bank di esok hari dan melihat kursi teller yang biasa kamu temui sudah kosong, bukan karena sedang libur, tapi karena tugasnya kini sudah dikerjakan oleh algoritma. Skenario itu bukan sekadar fiksi. Inilah wajah revolusi industri yang terus bergerak.
Revolusi industri yang terus berkembang semakin mempermudah pekerjaan manusia. Dimulai dari ditemukannya mesin uap hingga munculnya information technology (teknologi informasi) dan mesin yang bisa berpikir atau yang sering kita sebut sebagai kecerdasan buatan (AI). Namun, setiap adanya perubahan atau revolusi selalu diiringi dengan permasalahan adaptasi terhadap hal tersebut.
AI dan teknologi informasi memiliki kemampuan dalam menjalankan tugas-tugas yang rumit, kompleks dan berulang. Ketersediaan data dalam jumlah besar serta kemajuan dalam hal komputasi menjadi pendukung perkembangan teknologi tersebut. Kemampuan tersebut membuat manusia mulai mengadopsi keduanya dalam berbagai bidang industri, seperti industri manufaktur, perbankan, dan transportasi.
Masuknya AI dan teknologi informasi seperti Smart Factory, IoT, dan Big Data dalam sektor industri menjadi hal yang sangat menguntungkan bagi perusahaan karena dapat meningkatkan efisiensi serta membutuhkan lebih sedikit sumber daya apabila dibandingkan dengan menggunakan manusia sebagai pekerja.
Tentunya hal ini menjadi tantangan baru yang harus dihadapi untuk menghindari naiknya angka PHK akibat tergantikannya pekerjaan yang dulu dikerjakan oleh manusia, namun sekarang mulai tergantikan oleh mesin.
Hasil penelitian dari Ariyanto dan Siregar (2025) menunjukkan bahwa pekerjaan yang bersifat manual dan rutin seperti manufaktur dan perbankan semakin tergantikan oleh AI dan alat otomasi lainnya.
Pada sektor manufaktur, perusahaan melaporkan bahwa terdapat penurunan tenaga kerja sebesar 25% dan digantikan oleh sistem robotika IoT. Sementara itu, dalam sektor perbankan terjadi peralihan dari layanan bank konvensional menuju layanan digital banking. Hal itu menyebabkan pengurangan pada posisi seperti teller dan staf administrasi.
Di sisi lain, pada sektor e-commerce, digital marketing dan logistik berbasis platform, terpantau mengalami peningkatan kebutuhan tenaga kerja. Pekerjaan seperti IT support, data analyst dan UI/UX designer menjadi keterampilan yang banyak dicari.
Dari berbagai fenomena di atas, dapat kita pahami bahwa perlu adanya reskilling atau transformasi keterampilan agar para tenaga kerja dapat terus beradaptasi dengan perubahan ini.
Menurut laporan dari Indeed Hiring Lab (2025), terdapat empat kategori keterampilan dalam GenAI Skill Transformation Indeks (GSTI) yang akan mengalami transformasi.
1. Transformasi Minimal
Pekerjaan dengan interaksi fisik serta interaksi manusia lebih banyak kemungkinan mengalami perubahan lebih kecil. Keterampilan yang masuk kategori ini meliputi hubungan karyawan (Employee Relations), perawatan pasien, dan administrasi jaringan (Network Administration).
2. Transformasi Dibantu (Assisted Transformation)
Dalam kategori ini, AI menjadi asisten manusia dengan menawarkan bantuan yang terbatas, seperti penyedia template atau melakukan penelitian dasar. Keterampilan seperti perdagangan dan pengajaran merupakan kategori pekerjaan yang masuk dalam kategori ini.
3. Transformasi Hibrida
Pekerjaan dalam kategori ini sebagian besar dibantu oleh AI dengan keandalan tinggi. Peran manusia dalam hal ini adalah sebagai pengawas atau pengendali serta berperan untuk memastikan kepatuhan hukum dan etika. Keterampilan yang termasuk kategori ini adalah layanan pelanggan (Customer Service) dan administrasi rumah sakit.
4. Transformasi Penuh
Pada kategori ini, AI sudah mampu mengeksekusi tugas secara independen dan menyeluruh. Namun, juga tak menjamin bahwa akan sepenuhnya menggantikan manusia. Keterampilan yang masuk dalam kategori ini di antaranya adalah matematika dasar (Basic Math), rekayasa instruksi (Prompt Engineering), dan klasifikasi gambar (Image Classification).
Dari pengkategorian tersebut dapat kita lihat bahwa transformasi ini tak sepenuhnya menggantikan manusia, tetapi integrasi tersebut menyebabkan berkurangnya tenaga kerja manusia.
Pada kategori transformasi minimal dan dibantu, kedua kategori ini adalah yang paling minim terdampak AI karena pekerjaan di dalamnya banyak mengandalkan interaksi fisik dan hubungan antarmanusia. Namun, dalam kategori transformasi hibrida dan penuh, hal ini menjadi perhatian utama karena pada kedua kategori ini peran manusia mulai banyak tergantikan.
Tenaga kerja dituntut untuk bertransformasi menuju keterampilan yang berbasis kreativitas, teknologi, interpersonal, dan fleksibilitas. Keterampilan tersebut dinilai aman atau berisiko kecil akan tergantikan oleh AI atau teknologi otomasi lainnya.
Namun, muncul tantangan baru berupa adanya skill gap atau kesenjangan keterampilan, di mana kompetensi yang dibutuhkan tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan industri. Beberapa faktornya adalah sistem pendidikan dan pelatihan tenaga kerja yang masih minim dalam penguasaan keterampilan teknologi, serta keterbatasan infrastruktur digital yang membuat daerah tertinggal masih kesulitan mengakses pelatihan teknologi.
Kesenjangan ini menjadi sebab banyaknya lulusan yang tidak terserap di dunia kerja formal karena tak memiliki skill yang dibutuhkan. Tenaga kerja yang siap pakai masih sangat minim, sedangkan industri sedang membutuhkan tenaga kerja dengan keterampilan yang sudah matang.
Namun, bagaimana pemerintah dan dunia industri merespons dinamika perubahan ini?
Menanggapi fenomena ini, pemerintah mulai melakukan upaya untuk mempersiapkan masyarakat dengan berbagai keterampilan. Dalam hal ini, contohnya adalah diadakannya Program Kartu Prakerja, di mana laporan data terbaru 2024 menunjukkan bahwa lebih dari 18 juta orang menjadi penerima program Kartu Prakerja ini.
Kominfo dan program pelatihan kerja dari Kementerian Tenaga Kerja juga turut andil dengan menawarkan program Digital Talent Scholarship. Ini merupakan program yang diharapkan dapat menjadi jembatan untuk mengatasi masalah kesenjangan keterampilan ini.
Selain itu, beberapa perusahaan besar dan platform pendidikan digital seperti Dicoding, Udemy, BCA, Astra, dan Telkom bekerja sama membuka pelatihan internal berbasis digital.
Secara keseluruhan, revolusi industri ini berpeluang menjadi pemicu peningkatan produktivitas para pekerja serta penciptaan lapangan kerja baru dalam dunia kerja. Akan tetapi, hal ini perlu diiringi dengan berbagai upaya transformasi agar tidak menciptakan kesenjangan keterampilan serta potensi untuk digantikan oleh berbagai mesin otomasi atau AI.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi ‘apakah AI akan mengambil alih pekerjaan kita?’, melainkan ‘seberapa siap kita bertransformasi bersamanya?’ Jawabannya ada di tangan kita sendiri.
Penulis: Muhammad Fajri Al-Khafizi (25080960074)
Mahasiswa Teknologi Informasi, Universitas Islam Negeri Walisongo
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












