Tv masih menjadi media massa nomor satu di Kalimantan terutama di daerah yang kesulitan akses internet, dilansir dari Tribun Kalteng, sekitar 25 persen wilayah di Kalimantan Tengah belum tersedia akses internet, itu artinya 376 desa di Kalimantan Tengah masih menandalkan media massa dalam bentuk televisi sebagai akses hiburan dan informasi di tahun 2025 ini.
Saya akan mengambil contoh desa tempat kakek dan nenek saya sebagai gambaran, yang masuk ke kategori ’’sulit’’ akses internet, internet hanya bisa ditemukan di beberapa titik saja itupun kebanyakan di atas pohon ataupun harus memanjat tinggi ke sarang burung wallet milik warga setempat.
Keterbatasan akses informasi ini ternyata juga berdampak pada pengetahuan masyarakat tentang ilmu psikologi. Saya menyadarinya ketika memutuskan untuk mengambil kuliah di jurusan psikologi.
Saat itu, banyak warga dan tetangga di sekitar tempat tinggal kakek dan nenek saya yang bertanya-tanya, “Psikologi itu jurusan apa? Belajarnya tentang apa? Nanti kerjanya jadi apa?” Itu mungkin sudah cukup menggambarkan seberapa rendahnya pengetahuan masyarakat di sana soal psikologi.
Menurut saya acara televisi kebanyakan berisi drama perceraian artis dan berita-berita tidak penting lainnya, hal tersebut mempengaruhi pengetahuan masyarakat soal psikologi dan kepedulian mereka terhadap kesehatan mental dan cara memberikan reaksi terhadap orang di sekitar mereka yang mengalami gangguan mental, alih-alih memberikan dukungan ataupun bantuan psikolog, mereka cenderung mengaitkan hal-hal yang berbau mistis.
Baca Juga: Kenapa Harus Belajar Psikologi?
Contohnya seperti tetangga saya, anaknya yang mana adalah teman masa kecil saya mengalami skizofrnia, alih-alih memberikan emotional support kepada orangtuanya, mereka malah bergosip dan mengatakan hal-hal jahat tentang teman saya, mereka juga menuduh orang tuanya melakuan hal-hal tidak terpuji yang berkaitan dengan hal mistis, yang berakhir dengan terusirnya keluarga teman saya dari desa.
Di sisi keluarganya, alih-alih berobat atau mencari bantuan psikologis, mereka lebih memilih untuk berobat ke dukun dan memercayai bahwa anak mereka memang terkena santet, setelah pengobatan mistis tidak berhasil mereka akhirnya beralih ke pengobatan agamis.
Saya tidak menyalahkan caranya mereka dalam menangani masalah yang mereka hadapi dan saya tidak menyalahkan tetangga-tetangga saya yang memilih menghindar dan menjauhi keluarga teman saya, mereka hanya tidak memiliki pengetahuan yang mencukupi saja, saya juga tidak menyalahkan media televisi yang menjadi platform utama mereka sebagai akses informasi.
Saya pernah mendengar bahwa ketidaktahuan adalah dosa, tetapi dalam kasus ini, ketidaktahuan yang mereka miliki adalah akibat dari minimnya akses informasi dan edukasi psikologis lewat media massa.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa pengetahuan bukan hanya soal pendidikan formal, tetapi juga soal kesempaan untuk mengakses informasi yang benar. Masyarakat di pedesaan Kalimantan Tengah tidak sepenuhnya menolak ilmu psikologi, mereka hanya belum sempat mengenalnya.
Baca Juga: Psikologi Islam
Harapan saya, ke depan media massa termasuk televisi dapat lebih banyak menayangkan program edukatif yang mengenalkan kesehatan mental dan psikologi secara ringan, agar masyarakat tidak terus terjebak dalam ketidaktahuan yang sebetulnya bisa diubah dengan akses informasi yang lebih baik.
Penulis: An Nafiz Aliefiyansi Aprelly Rizham (202510230110047)
Mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Dosen Pengampu: Ary Dwi Purnomo, M.Pd.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












