Teori sastra merupakan mata kuliah studi sastra yang mempelajari tentang konsep-konsep dasar, pendekatan, dan teori-teori utama yang ada pada sastra. Mata kuliah ini memberikan tujuan pembelajaran dan wawasan serta pemahaman yang komprehensif, khususnya di bidang bahasa dan sastra.
Selama ini, saya selalu menganggap bahwa karya sastra, seperti novel atau cerpen, hanyalah suatu teks yang dapat dibaca sebagai sarana hiburan yang biasa dinikmati di sela-sela waktu senggang atau dongeng untuk pengantar tidur.
Namun, ketika saya memasuki bangku perkuliahan di semester 1, saya mempelajari mata kuliah Teori Sastra, perspektif itu mulai berubah. Saya mulai menyadari bahwa setiap karya sastra, seperti novel ataupun cerpen, memiliki dasar pemikiran, struktur, dan elemen yang saling berhubungan satu sama lain sehingga membentuk makna yang utuh.
Ada pengalaman pribadi yang mengesankan dan terlihat mudah mungkin dari sebagian orang-orang, tetapi sebenarnya ”challenging” bagi saya. Ya, benar—saat saya membuat esai tentang representasi nilai-nilai yang terkandung pada novel Sisi Tergelap Surga karya Brian Khrisna dengan menggunakan pendekatan sosiologi sastra saat UTS kemarin. Ini membuat saya seakan-akan membuka sebuah gerbang rahasia yang memnuntun ke ranah yang belum pernah saya alami sebelumnya.
Saya menjadi sadar bahwa karya sastra bukanlah sekadar teks, tetapi sastra adalah ekspresi batin, pengalaman sosial, dan kita sebagai pembaca, bisa melihat fakta kehidupan sosial suatu masyarakat yang sesungguhnya.
Artikel yang saya tulis ini adalah sebuah refleksi ringkasan dari apa yang saya pelajari sebagai mahasiwa semester 1 di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang mempelajari mata kuliah Teori Sastra selama hampir empat bulan, mulai dari teori sastra konteks struktural, filsafat, psikologi, sosiologi, hingga teori sastra interdisipliner. Ini merupakan sebuah perjalanan yang mengubah pandangan saya terhadap karya sastra.
Dari seluruh teori-teori pendekatan yang saya pelajari, yang paling berkesan adalah teori sastra konteks psikologis dan sosiogi sastra.
Saat rencana tugas mahasiswa mata kuliah Teori Sastra dibagikan oleh salah satu PJ kelas, saya mendapatkan tugas kelompok yang akan dipresentasikan pertemuan minggu kelima dengan topik ”Teori Sastra Konteks Psikologis”. Teori inilah yang mengajarkan saya tentang manusia dan pikiran manusia.
Selain itu, teori psikologis juga mengajarkan bahwa tokoh dalam suatu karya sastra bukan hanya sekadar tokoh fiksi saja, melainkan individu dengan potret nyata dari luka traumatis masa kecil, dinamika emosi yang terpendam, dan strategi kompleks untuk merangkai keberlangsungan hidup.
Berbicara tentang psikologi, seseorang bisa memahami manusia yang lain. Ilmu psikologi masuk ke wilayah studi yang lainnya, dalam hal ini sebagai ilmu bantu termasuk sastra. Psikologi tidak lepas dari sastra dan sastra tidak lepas dari psikologi.
Baca juga: Sastra Bukan Sekedar Cerita: Mengapa Literasi Sastra Penting di Era Digital
Dari sini, saya menyadari saat saya membaca salah satu novel Di Tanah Lada karya Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie, yang merupakan pemenang kedua pada Sayembara Buku Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2014.
Novel Di Tanah Lada, menggambarkan tokoh anak kecil berusia enam tahun bernama Salva atau yang kerap dianggil Ava merasakan peliknya kehidupan orang dewasa. Meskipun dikemas dalam bentuk yang imajinatif dan ringkas, namun sesungguhnya ketika membaca novel ini, konflik yang saya ingin ditunjukkan adalah konflik yang berurusan dengan konflik batin yang dialami oleh tokoh Ava.
Konflik yang dialami dalam novel Di Tanah Lada adalah kecemasan terhadap keluarga dan lingkungannya, konflik tersebut tidak jauh dari kecemasan setiap individu. Maka dari itu, ketika ingin membedah masalah ini dapat menggunakan teori psikoanalisis yang dikembangkan oleh Sigmund Freud.
Freud merupakan neurolog yang mengembangkan teori tentang psikologi berdasarkan pengalamannya menghadapi pasiennya yang mengalami gangguan mental. Freud juga membahas pembagian psikisme manusia, yaitu sebagai berikut:
1. Id (das Es)
Aspek biologis atau batin manusia yang di dalamnya terdapat naluri bawaan. Id hanya timbul memburu hawa nafsu saja tanpa menilai hal baik atau buruk. Ia bagian tidakkesadaran yang ada pada dalam pikiran manusia. Freud juga menyebutnya kebutuhan.
2. Ego (das Ich)
Ego berbeda dengan Id. Ego merupakan aspek psikologis manusia yang berpegang teguh pada suatu tindakan sebagai pengarah individu kepada prinsip-prinsip realitas. Menurut Bertens, ego bertugas untuk mempertahankan kepribadiannya sendiri dan menjamin penyesuaian dengan alam sekitar.
3. Superego (das Ueber Ich)
Supergo merupakan aspek sosiologis yang paling tinggi pada diri manusia, bersifat menggebu-gebu.
Dari keseluruhan, pengetahuan tentang pembagian psikisme manusia berfungsi sebagai pengarah menuju pemahaman diri yang lebih mendalam, serta membantu saya untuk tidak menghakimi diri sendiri saat mengalami dilemma moral atau saat berjuang melawan impuls.
Selanjutnya, jika kita membicarakan tentang kecemasan pada konflik yang dialami tokoh dalam novel Di Tanah Lada mengarahkan saya untuk menganalisis dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Sigmund Freud lebih menyukai mengunakan istilah kecemasan daripada ketakutan. Kecemasan merupakan respons psikologis terhadap apa yang ditimbulkan oleh ketegangan-ketegangan dalam kondisi yang tidak sejalan.
“Lalu aku mulai menangis. Aku menangis sekali sampai kepalaku sakit. Ada beberapa orang yang keluar dari kamar mereka. Bebearpa dari mereka berdesis jengkel. Ada yang menyuruhku diam. Ada yang coba mendiamkanku. Mereka bertanya dimana Mamaku. Ada yang bertanya, ‘Anak siapa?’, lalu mengusulkan untuk membawaku ke bawah” (Halaman : 28).
Pada kutipan di atas terdapat kecemasan objektif yang menjelaskan bahwa ketika tokoh Ava menangis dan merasa sedih, timbullah rasa cemas dan takut akan bahaya yang ia rasakan karena ditinggal oleh orangtuanya di tempat kotoryang dipenuhi kecoa dan orang-orang jahat di sekitarnya. Hal ini berhubungan dengan adanya bahaya dari sifat pembawaan dari lingkungan itu sendiri, seperti apa yang dirasakan oleh Ava.
“Aku tidak suka tikus. Aku juga tidak suka hantu. Aku mau menangis , tapi aku ingat kalau Papa benci sekali kalau aku menangis. Mungkin, bukan Cuma sisir, aku juga akan dipukul pakai sapu kalau ketahuan menangis” (Halaman : 24).
Pada kutipan tersebut terdapat kecemasan neurotik yang diakibatkan oleh insting-insting individu sulit dikendalikan. Kecemasan ini mendasari sikap pertahanan ego dalam setiap individu yang mampu mengatasi suatu masalah meskipun individu itu sendiri merasakan kecemasan.
“Aku mengangguk. Teman-temanku sudah ada yang pakai ponsel. Jadi, aku tahu sedikit bagaimana cara pakainya. Tapi ponsel yang dibelikan Mama ini kelihatannya bagus sekali. Aku jadi takut, kalau-kalau aku merusaknya” (Halaman : 55).
Pada kutipan tersebut terdapat kecemasan moral yang dialami oleh tokoh Ava. Kecemasan ini terjadi apabila melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma moral. Tokoh Ava di sini diliputi kecemasan karena takut berbuat salah di depan mamanya, sekaligus menjaga barang baru yang dibelikannya agar tak rusak.
Kecemasan moral ini membuktikan superego bekerja, memaksanya menimbang-nimbang mana yang benar dan salah sebelum bertindak.
Membaca novel Di Tanah Lada, saya memahami berbagai macam kecemasan, yaitu kecemasan objetif, kecemasan neurotik, dan kecemasan moral pada psikoanalisis Sigmund Freud.
Dengan demikian, kecemasan merupakan salah satu faktor yang bersumber dari adanya ketakutan terhadap bahaya yang mengancam bagi kesehatan dan mental kita.
Menutup perjalanan satu semester ini, Teori Sastra adalah mata kuliah yang membuktikan bahwa sastra adalah pantulan jiwa manusia yang rumit, bukan hanya sekadar kata-kata. Beragam teori yang saya pelajari menciptakan fondasi pembacaan peka, memperluas wawasan diri dan orang lain.
Saya harap pengajaran teori ke depan fokus pada penerapan, bukan sekadar teori yang dihafal, tetapi sebagai kunci menggali suara dan isu dalam setiap teks. Teori bukan mematikan sastra, melainkan membuka jendelanya lebar-lebar. Akhirnya, ilmu ini membekali kita menjadi pembaca, penulis, dan manusia yang lebih bijaksana serta peka terhadap realitas kehidupan yang ada di sekitar kita.
Penulis: Setia Ning Rahayu (25112074053)
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Surabaya
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












