“Lulus kapan?”
Pertanyaan sederhana, tapi bisa menjadi bom waktu mental. Bagi mahasiswa tingkat akhir, ia bisa terasa seperti vonis. Di ruang keluarga, di grup aplikasi ijo, bahkan di linimasa media sosial, pertanyaan itu berulang-ulang. Kadang dengan nada bercanda, tapi bisa jadi nada menekan. Tanpa disadari, social judgement (penghakiman sosial) berubah menjadi beban psikologis yang nyata.
Gangguan mental, kini, bukan lagi hal tabu untuk dibicarakan. Ini adalah kenyataan pahit yang harus dicari tahu akar masalah dan solusinya. Data global menunjukkan, bahwa persoalan ini bukan perkara kecil. Laporan dari World Health Organization menyebutkan, satu dari delapan orang di dunia hidup dengan gangguan mental, dengan depresi dan kecemasan sebagai yang paling umum.
Baca juga: Mengapa Makin Banyak Kasus Mahasiswa Bunuh Diri karena Skripsi? Dosen Wajib Pelajari!
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 mencatat peningkatan prevalensi gangguan mental emosional pada kelompok usia produktif. Mahasiswa, terutama tingkat akhir, berada dalam kategori usia rentan tersebut. Selain tekanan studinya sendiri, mereka juga menghadapi tekanan tambahan: social judgement yang terstruktur dan sistemik! Mereka jadi lebih rentan karena pertanyaan seperti “Kapan lulus?” sering kali diabaikan dampaknya.
Tekanan yang Dianggap Normal
Mahasiswa tingkat akhir menghadapi fase krusial: menyelesaikan skripsi atau tugas akhir, mencari pekerjaan, mempertimbangkan studi lanjut, hingga memenuhi ekspektasi keluarga. Semua itu sudah cukup menekan. Masalahnya, tekanan personal sering kali diperparah oleh tekanan sosial.
Komentar seperti “Temanmu sudah wisuda”, “Kapan sidang?”, atau “IPK kamu berapa?” terdengar ringan, tetapi jika terus-menerus dilontarkan dapat menggerus rasa percaya diri. Di era media sosial, standar keberhasilan menjadi semakin sempit: cepat lulus, cepat kerja, dan gaji tinggi. Mereka yang tidak berjalan sesuai timeline tersebut kerap merasa tertinggal.
Psikolog sosial dari Stanford University, Claude Steele, menjelaskan konsep “stereotype threat”, yaitu situasi ketika seseorang merasa tertekan karena takut mengonfirmasi stereotip negatif tentang dirinya. Dalam konteks mahasiswa tingkat akhir, stereotip “mahasiswa lama berarti malas” dapat menjadi tekanan psikologis yang justru memengaruhi performa akademik mereka. Ironisnya, social judgement sering dibungkus dengan dalih motivasi.
Antara Motivasi dan Stigma
Sebagian orang beranggapan, tekanan sosial diperlukan agar mahasiswa tidak terlena. Ada benarnya: dorongan eksternal memang dapat memicu produktivitas. Namun, motivasi berbeda dengan stigma. Sejumlah penelitian di bidang psikologi pendidikan menunjukkan, tekanan sosial yang berlebihan meningkatkan risiko kecemasan dan burnout pada mahasiswa. Burnout bukan sekadar rasa lelah fisik; ia mencakup kelelahan emosional, depersonalisasi, dan menurunnya rasa pencapaian diri.
Survei dari Asosiasi Psikologi Klinis Indonesia selama masa pandemi juga menunjukkan peningkatan keluhan kecemasan dan stres pada mahasiswa. Keluhan itu utamanya terkait akademik dan masa depan karier mereka. Meski pandemi telah mereda, dampak psikologisnya belum sepenuhnya hilang.
Masalahnya bukan sekadar banyaknya tuntutan, tetapi cara masyarakat memaknai keterlambatan dan kegagalan. Dalam masyarakat yang menilai manusia berdasarkan kecepatan pencapaian, proses sering kali dianggap kegagalan, bukan perjalanan. Mahasiswa yang memperpanjang masa studi jarang ditanya, “Apa yang bisa kami bantu?”. Mereka malah lebih sering dihadapkan pada, “Kenapa belum selesai?”.
Baca juga: Burnout Terjadi pada Mahasiswa Gen Z: Tantangan terhadap Tuntutan Akademik
Padahal, setiap mahasiswa memiliki konteks yang berbeda: ada yang bekerja sambil kuliah, ada yang menjadi tulang punggung keluarga, ada yang berjuang dengan persoalan kesehatan fisik maupun mental. Menggeneralisasi mereka dalam satu label “tidak tepat waktu” adalah bentuk simplifikasi yang tidak adil.
Menggeser Cara Pandang
Jika kita sepakat, bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, maka cara kita berbicara kepada mahasiswa tingkat akhir perlu berubah.
Pertama, keluarga dan lingkungan perlu mengganti tekanan dengan dukungan. Alih-alih bertanya “Kapan lulus?”, kita bisa bertanya, “Apa yang sedang kamu hadapi? Ada yang bisa kami bantu?”. Pengubahan diksi yang sederhana dapat menciptakan rasa aman yang besar.
Kedua, kampus perlu lebih proaktif menyediakan layanan konseling yang mudah diakses dan bebas stigma. Banyak mahasiswa enggan mencari bantuan karena takut dianggap lemah. Padahal, mencari bantuan adalah bentuk keberanian.
Ketiga, mahasiswa sendiri perlu membangun literasi kesehatan mental: mengenali tanda-tanda burnout, mengatur ekspektasi, serta membatasi paparan perbandingan sosial di media digital. Tidak semua pencapaian orang lain harus menjadi tolok ukur diri.
Baca juga: Dua Sejoli: Burnout & Coping Strategy
Keempat, media dan pembuat kebijakan perlu memperluas narasi kesuksesan. Bukan hanya menampilkan kisah “lulus tepat waktu dan langsung sukses”, tetapi juga cerita tentang proses, kegagalan, dan kebangkitan.
Sudah saatnya kita menyadari bahwa pertanyaan sederhana bisa menjadi beban yang berat. Dan mungkin, sebelum bertanya “Kapan lulus?”, kita perlu bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang memberi semangat atau justru menambah tekanan?
Karena pada akhirnya, kesehatan mental mahasiswa bukan hanya urusan pribadi mereka, tetapi juga cerminan kualitas empati kita sebagai masyarakat.
Penulis: Anisa Maharani
Mahasiswa Manajemen Bisnis Syariah, Universitas Tazkia
Dosen Pengampu: Miftakhus Surur, S.E.I., M.Sc (Fin)
Editor: Nilam Indahsari
Editor Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












