Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang-gadang sebagai solusi untuk mengatasi masalah kekurangan gizi di Indonesia. Data dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa persoalan gizi, seperti stunting dan malnutrisi, masih menjadi tantangan serius, terutama pada anak usia sekolah. Namun, dalam praktiknya, program ini justru memunculkan berbagai persoalan baru yang tidak bisa diabaikan.
Data menunjukkan ratusan hingga ribuan anak mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) sepanjang tahun 2025. Beberapa kasus bahkan menyebabkan siswa harus mendapatkan perawatan di unit kesehatan.
Kondisi ini tidak dapat dinormalisasi, ketika aspek keselamatan dan kesehatan belum menjadi prioritas utama, maka tujuan awal program berisiko kehilangan maknanya.
Permasalahan ini kemungkinan besar tidak berdiri sendiri. Kurangnya pengawasan terhadap proses produksi, distribusi yang tidak higienis, serta standar kualitas yang tidak konsisten dapat menjadi faktor utama penyebab munculnya kasus-kasus tersebut.
Dalam program berskala besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), rantai distribusi yang panjang tanpa kontrol ketat membuka celah terjadinya kelalaian. Padahal, dalam konteks pemenuhan kebutuhan dasar seperti makanan, aspek keamanan seharusnya menjadi prioritas utama, bukan sekadar pelengkap administratif.
Baca Juga: Program Makan Bergizi Gratis: Dihentikan atau Dilanjutkan? Advokasi untuk Kebijakan yang Lebih Adil
Dampak dari permasalahan ini tidak hanya terbatas pada kesehatan fisik, tetapi juga menyentuh aspek yang lebih mendasar, yaitu rasa aman dan kepercayaan masyarakat.
Ketika anak-anak—yang seharusnya dilindungi—justru menjadi pihak yang paling terdampak, maka muncul pertanyaan mengenai tanggung jawab dalam kebijakan publik. Kepercayaan masyarakat dapat terkikis jika program yang diharapkan memberi manfaat justru menimbulkan risiko.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaksanaan kebijakan belum sepenuhnya mencerminkan semangat kemanusiaan yang adil dan beradab serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Program yang ditujukan untuk membantu justru berpotensi menimbulkan dampak sebaliknya apabila tidak dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Keberhasilan sebuah kebijakan tidak hanya diukur dari niat baiknya, tetapi juga dari sejauh mana pelaksanaannya mampu melindungi masyarakat. Oleh karena itu, evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program ini menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.
Pemerintah perlu memperketat pengawasan, memastikan standar keamanan pangan dipenuhi secara konsisten, serta melibatkan pihak yang tidak memihak dalam proses kontrol kualitas. Transparansi dalam pelaporan kasus juga menjadi kunci agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas dan kepercayaan publik dapat dipulihkan.
Baca Juga: Evaluasi Sederhana pada Program Makan Bergizi Gratis
Pada akhirnya, tujuan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak boleh berhenti hanya sebagai wacana. Program ini harus benar-benar menjadi solusi nyata, bukan sumber masalah baru.
Tanpa perbaikan yang serius dan berkelanjutan, program ini berisiko kehilangan esensinya sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan generasi masa depan, sekaligus menjauh dari nilai-nilai dasar yang seharusnya menjadi landasan dalam setiap kebijakan publik.
Penulis: Aulia Nur Azizah (25091220015)
Mahasiswa D4 Akuntansi Universitas Negeri Yogyakarta
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












