Di dalam ruang kelas Biologi, seorang siswa mungkin mampu menghafal siklus nitrogen atau menuliskan rumus fotosintesis dengan sempurna.
Namun, ironi sering kali terjadi saat bel pulang berbunyi: siswa yang sama mungkin dengan santai meninggalkan botol plastik di bawah meja atau membuang sampah sisa makanan ke selokan sekolah tanpa beban.
Fenomena ini memicu pertanyaan fundamental: mampukah bangku sekolah benar-benar menumbuhkan nalar ekologis, atau ia hanya menjadi tempat singgah bagi hafalan yang akan menguap setelah ujian?
Kesenjangan Pengetahuan dan Perilaku
Kekhawatiran akan rendahnya nalar ekologis ini bukan tanpa dasar. Data PISA yang kerap menjadi potret kualitas pendidikan kita menunjukkan bahwa literasi sains siswa Indonesia masih berada pada level yang perlu ditingkatkan.
Hal ini dipertegas oleh Agustina Nur Khairrunisa dan tim dalam penelitiannya di jurnal Biosfer (2025), yang menyebutkan bahwa literasi sains merupakan keterampilan esensial di abad ke-21, namun pencapaian siswa kita masih belum menggembirakan.
Kondisi di lapangan menunjukkan potret yang lebih spesifik. Eka Widiyawati (2025) dalam studinya yang diterbitkan di jurnal Edutech mengungkapkan bahwa profil literasi ekologi peserta didik masih berada pada kategori “kurang baik”.
Temuan yang paling mengkhawatirkan adalah rendahnya indikator keterampilan ekologi dibandingkan pengetahuan teoritis.
Artinya, siswa mungkin “tahu” tentang kerusakan alam, tetapi mereka tidak “mampu” atau tidak tahu bagaimana cara melakukan tindakan nyata untuk mencegahnya.
Lebih dari Sekadar Hafalan
Mengapa ini terjadi? Masalahnya terletak pada cara kita mendefinisikan keberhasilan belajar. Menumbuhkan nalar ekologis tidaklah sama dengan menumpuk definisi dalam kepala siswa.
Isma Aziz Fakhrudin (2022) melalui risetnya di jurnal Bioedusains menekankan bahwa literasi ekologi harus menyentuh dua aspek vital yang seimbang: knowledge (pengetahuan) dan concern (rasa perhatian).
Pendidikan kita sering kali berhenti pada transfer pengetahuan, namun gagal menumbuhkan rasa kepedulian.
Padahal, nalar ekologis sejati lahir ketika pengetahuan berubah menjadi kesiapan untuk berperilaku ramah lingkungan.
Tanpa rasa concern, pengetahuan biologi hanya akan menjadi artefak akademik yang tidak memiliki dampak bagi kelestarian bumi.
Baca Juga: Ketika Sopan Santun Menjadi Penjara Pikiran
Mendekatkan Kelas dengan Realita
Lantas, bagaimana bangku sekolah bisa menjawab tantangan ini? I Wayan Karmana (2023) dalam tinjauan literaturnya di jurnal Biocaster menegaskan bahwa pendidikan formal adalah instrumen utama untuk memperbaiki rendahnya literasi lingkungan masyarakat melalui kegiatan pembelajaran yang relevan.
Salah satu jalan keluarnya adalah dengan meruntuhkan sekat antara ruang kelas dan isu sosial di luar sekolah. Model pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning) yang diintegrasikan dengan Socio-Scientific Issues (SSI) terbukti efektif.
Dengan membawa isu-isu nyata, seperti pencemaran limbah domestik atau kerusakan ekosistem local, ke dalam diskusi kelas, siswa diajak untuk berpikir kritis.
Strategi ini, sebagaimana dipaparkan dalam riset Khairrunisa dkk. (2025), mampu mendongkrak literasi sains karena siswa merasa ilmu yang mereka pelajari memiliki kegunaan langsung untuk memecahkan masalah di lingkungan mereka sendiri.
Simpulan: Sebuah Panggilan Moral
Menumbuhkan nalar ekologis di sekolah adalah kerja kebudayaan sekaligus panggilan moral.
Jika bangku sekolah hanya fokus pada angka di rapor, kita sebenarnya sedang mendidik generasi yang fasih bicara tentang ekosistem namun membiarkannya hancur tepat di depan mata.
Baca Juga: Pancasila sebagai Sistem Etika: Tonggak Moral yang Mulai Terpinggirkan, tetapi Tetap Relevan
Sudah saatnya pendidikan biologi bergerak lebih jauh; bukan sekadar “mengamati alam”, melainkan “merasakan keterhubungan dengan alam”.
Bangku sekolah harus menjadi tempat di mana nalar dan nurani siswa bertemu, sehingga mereka tidak hanya tumbuh menjadi orang yang pintar secara intelektual, tetapi juga bijaksana sebagai penghuni bumi.
Penulis: Cahya Nabila Rahmani
Mahasiswa Prodi Pendidikan Biologi, Universitas Riau
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












