Pancasila sebagai Sistem Etika: Tonggak Moral yang Mulai Terpinggirkan, tetapi Tetap Relevan

Pancasila sebagai Sistem Etika
Ilustrasi Pancasila (Sumber: Penulis)

Di tengah arus globalisasi, banjir informasi, dan dinamika politik yang makin rumit, Pancasila sering kali hanya muncul sebagai slogan upacara atau hiasan dinding sekolah. Padahal bagi kami sebagai mahasiswa, Pancasila bukan sekadar lima sila yang dihafalkan, melainkan sistem etika yang seharusnya menjadi dasar moral bangsa.

Di dalam Pancasila terdapat nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi, dan keadilan yang membentuk landasan moral yang lengkap dan selaras

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ironisnya, meskipun Pancasila selalu dikatakan sebagai pedoman hidup bangsa, berbagai persoalan etika justru semakin terlihat nyata. Korupsi, ketimpangan sosial, penyalahgunaan kekuasaan, intoleransi, hingga menurunnya moral generasi muda memperlihatkan bahwa Pancasila lebih sering diucapkan daripada dijalankan. Ia hidup dalam ceramah dan sambutan resmi, tetapi sering tidak tampak dalam tindakan sehari-hari.

Kasus korupsi, sebagai contoh, jelas bertentangan dengan sila ke-5 tentang keadilan sosial. Namun praktik korupsi tetap berlangsung di berbagai tingkat, menunjukkan lemahnya penerapan nilai etika Pancasila dalam birokrasi.

Baca juga: Keadilan Sosial adalah Pilar Utama

Begitu pula dengan fenomena intoleransi, perundungan, ujaran kebencian di media sosial, serta gaya hidup konsumtif yang semakin mengakar. Semua ini menandakan bahwa nilai kemanusiaan, kesantunan, dan gotong royong mulai tergerus oleh budaya individualis dan hedonis.

Bagi generasi muda, tantangan ini sangat terasa. Dunia digital memang memberi ruang untuk berpendapat, tetapi tanpa etika Pancasila, ruang itu mudah berubah menjadi tempat konflik. Perbedaan tidak lagi dianggap sebagai kekayaan bangsa, melainkan pemicu pertentangan. Padahal Pancasila mengingatkan bahwa demokrasi tanpa etika akan menciptakan kekacauan, dan kebebasan tanpa tanggung jawab justru merusak nilai kemanusiaan.

Karena itulah kami melihat bahwa Pancasila sebagai sistem etika bukan hanya tetap relevan, tetapi semakin penting bagi Indonesia sekarang. Pancasila dibutuhkan bukan sekadar untuk melawan korupsi atau masalah moral, melainkan untuk menjaga karakter bangsa di tengah perubahan dunia yang cepat.

Saat negara lain masih mencari dasar moral untuk mengelola keberagaman, Indonesia sebenarnya sudah memilikinya melalui Pancasila, hanya saja belum sepenuhnya dijalankan.

Sebagai mahasiswa, kami mengajukan tiga ajakan moral berikut:

1. Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Seremoni

Pendidikan Pancasila harus mendorong pembiasaan karakter, diskusi etis, dan keteladanan, bukan hanya menghafal sila-silanya.

2. Pemimpin sebagai Teladan Etika

Pemimpin tidak cukup hanya menyebut Pancasila dalam pidato, tetapi harus menunjukkan sikap yang jujur, adil, dan manusiawi.

3. Menggerakkan Etika dari Lapisan Masyarakat Bawah

Mahasiswa, kampus, dan masyarakat perlu kembali membangun budaya gotong royong, musyawarah, solidaritas, dan kepedulian sosial, bukan hanya memberikan kritik tanpa aksi.

 

Penutup

Pancasila tidak pernah kehilangan nilai dan relevansinya. Yang hilang justru kemauan kolektif kita untuk menjadikannya sebagai pedoman etika dalam kehidupan sehari-hari. Jika bangsa ini ingin maju tanpa kehilangan jati dirinya, maka Pancasila harus kembali dijadikan kompas moral, terutama bagi generasi muda sebagai penerus bangsa.

Kami percaya bahwa perubahan besar tidak dimulai dari pidato pejabat, tetapi dari kesadaran moral setiap individu. Pancasila akan tetap hidup hanya jika diamalkan, bukan sekadar dihafalkan atau diperingati tiap tahun.

 

Penulis:

  1. Aninda Aisyatul Zahra
  2. Dwi Hikmah Ramadhani
  3. Hawa Jemmiema Maharani
  4. Intan Nuraeni Wahyuni
  5. Rio Fermindo
  6. Tania Wahdatunnisa

Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Pamulang 
Dosen Pengampu: Raistin Nur Abidin M.Pd

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses