Kita hidup di era mana hampir semua orang bisa menggunakan teknologi digital dengan lancar. Setiap hari, jari kita tak pernah berhenti bergerak di layar ponsel: membuka berita terbaru, menonton video tentang politik, mengikuti tren di TikTok, atau sekadar menggulir konten kontroversial di X.
Namun, di balik kemampuan ini tersembunyi sebuah paradoks yang meniru: banyak orang bisa menyampaikan komentar dengan cepat, tetapi kurang paham makna mendalam dari topik yang mereka.
Kita cenderung bereaksi cepat, namun jarang melakukan pemikiran yang matang. Di media sosial, termasuk isu politik, terlihat selalu ramai.
Namun, yang sering muncul adalah ego pribadi dan perasaan yang tidak terkendali, bukan ide-ide yang bermakna. Akibatnya, politik sering jadi pertarungan konten belaka, bukan ruang untuk berpikir secara mendalam.
Demokrasi Kini Terperangkap dalam Dunia Digital
Generasi muda sekarang tumbuh bersama pengaruh media sosial yang besar. Platform digital membuat isu politik lebih mudah diakses, tetapi juga membuatnya semakin dangkal. Apapun bisa jadi viral, termasuk informasi palsu atau video politikus yang dimanipulasi untuk membentuk opini publik.
Menurut survei Katadata Insight Center (2024), sekitar 60% pengguna internet di Indonesia masih kesulitan membedakan berita asli dan berita palsu. Angka ini cukup meyakinkan, karena tingkat penggunaan internet di Indonesia sudah mencapai 79,5%.
Artinya, hal ini menunjukkan bahwa meskipun kita mahir menggunakan teknologi digital, belum tentu bijak dalam menghadapi isu politik.
Demokrasi saat ini lebih sering diwujudkan melalui aksi menggulir dan membagikan konten, daripada melalui dialog mendalam dan refleksi diri. Banyak orang merasa sudah berpartisipasi dalam politik hanya dengan mengikuti tren tagar, padahal inti demokrasi jauh lebih kompleks daripada sekedar berinteraksi di media sosial.
Aktivisme yang Serba Instan
Aktivisme melalui pengguliran konten kini menjadi tren bagi para pemuda. Dengan sekali sentuhan, kami merasa sudah memberikan kontribusi terhadap isu sosial atau politik. Namun, bentuk aktivisme yang hanya terjadi di layar seringkali tidak memicu perubahan nyata di dunia nyata.
Kita bisa membuat tagar menjadi viral dengan mudah, tapi jarang terlibat dalam diskusi kebijakan publik atau forum kampus. Kita aktif berkomentar di kolom komentar, tetapi pasif ketika harus memahami struktur kekuasaan sebenarnya.
Di sisi lain, teknologi seperti deepfake dan konten AI semakin rumitkan kehidupan. Banyak orang tidak menyadari bahwa mereka bisa dipengaruhi oleh algoritma yang membentuk pandangan mereka. Tanpa literasi politik yang kuat, kita bisa dengan mudah terjebak untuk mempercayai apa pun yang muncul di layar.
Baca Juga: Prinsip Prinsip Demokrasi yang Berlaku Universal: Mengupas Tuntas Fondasi Pemilu Ideal di Indonesia
Dari Literasi Digital ke Kesadaran Kritis
Literasi digital tidak hanya tentang cara mengoperasikan media, tetapi juga tentang memahami konteks sosial dan politik di baliknya. Generasi muda membutuhkan kemampuan kritis untuk memahami ideologi, dinamika kekuasaan, dan cara berpikir secara tajam.
Kemahiran digital sendiri tidak cukup, kita juga perlu memiliki pemahaman tentang bagaimana informasi terbentuk, bagaimana opini publik terbentuk, dan bagaimana kita berpikir secara kritis tanpa kehilangan sensitivitas.
Institusi pendidikan tinggi seharusnya menjadi tempat membangun kesadaran ini. Bukan hanya tempat belajar teori, tetapi juga untuk melatih cara memahami dunia sosial.
Literasi politik digital harus diberikan secara kontekstual: mengetahui bagaimana hoaks muncul, bagaimana opini publik terbentuk, dan bagaimana kita bisa tanggap secara kritis namun tetap empatik.
Oleh karena itu, demokrasi bukan sekedar tentang memilih dan memberikan pendapat, melainkan tentang memahami arah perubahan sosial yang ingin kita wujudkan.
Demokrasi Bukan Sekadar Tren
Generasi muda sering dianggap sebagai penopang masa depan bangsa. Namun, harapan ini akan hampa jika hanya aktif di permukaan. Demokrasi yang sehat tidak lahir dari ketidakmampuan di kolom komentar, melainkan dari keberanian untuk berpikir kritis dan melakukan dialog yang jujur.
Kita bisa tetap aktif di media sosial, tapi jangan lupa meningkatkan kesadaran politik. Sebab, tanpa pemahaman ini, demokrasi hanya akan menjadi tren yang cepat memudar, populer terhenti, lalu lenyap.
Baca Juga: Memudarnya Nilai-Nilai Pancasila: Penyebab, Dampak, dan Upaya Memperkuat di Kalangan Generasi Muda
Kesimpulan
Generasi muda Indonesia memiliki modal yang kuat: akses digital yang luas, jaringan yang melimpah, dan semangat kritis yang tinggi. Namun, semua ini tidak bermakna jika tidak diiringi dengan pemahaman mendalam tentang politik dan kekuasaan.
Sekarang, saatnya generasi muda maju ke tahap berikutnya. Dari sekedar mahir digital menjadi mahir dalam demokrasi. Artinya, tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga mampu menganalisis arah, motif, dan dampak dari setiap dinamika sosial-politik di ruang digital.
Karena masa depan demokrasi tidak ditentukan oleh kecepatan dalam menggulirkan layar, melainkan oleh keberanian untuk berpikir dan bertindak kritis demi perubahan yang nyata.
Penulis: Miya Tri Widiastuti
Mahasiswa Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Sumber Referensi
- https://www.liputan6.com/cek-fakta/read/4839776/survei-sebut-60-persen-pengguna-internet-indonesia-terpapar-hoaks
- https://stih-adhyaksa.ac.id/hoaks-pemilu-dan-generasi-muda/
- https://apjii.or.id/berita/d/apjii-jumlah-pengguna-internet-indonesia-tembus-221-juta-orang
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












