Membaca Ulang Caregiver Burden dalam Perspektif Power Threat Meaning Framework: Sebuah Gagasan Kritis dalam Pengalaman Family Caregiving

Caregiver Burden
Caregiver Burden

Dalam berbagai penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya, saya menemukan bahwa pengalaman menjadi family caregiver bagi individu dengan gangguan jiwa seperti skizofrenia atau bipolar tidak hanya diwarnai oleh kesulitan praktis, tetapi juga oleh beban emosional dan sosial yang kompleks (Ganguly, Chadda, dan Singh, 2010).

Beban seorang pengasuh (caregiver) inilah yang nantinya akan saya bahas sebagai bentuk caregiver burden. Saya menemukan gagasan bahwa caregiver burden tidak muncul dalam ruang hampa, tetapi ia tumbuh dari konteks sosial dan kultural yang menilai perawatan sebagai kewajiban moral keluarga.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dalam penulisannya, Zarzycki dkk. (2022) menunjukkan bahwa banyak keluarga mempertahankan peran caregiving bukan semata karena kasih sayang, tetapi karena adanya tekanan sosial dan keinginan untuk tetap terlihat sesuai dengan norma masyarakat.

Perasaan bersalah atau takut kehilangan penghormatan sosial menjadi alasan kuat mengapa banyak caregiver tetap bertahan, meski dalam kelelahan dan keterbatasan. Sementara itu, penelitian Ganguly, Chadda, dan Singh (2010) memperlihatkan bagaimana caregiver sering mengalami stigma sosial, keterasingan, serta kehilangan dukungan dari lingkungan sekitar.

Dalam konteks Indonesia, Arthanti dan Andayani (2024) menemukan bahwa dukungan sosial, baik dari keluarga maupun masyarakat, menjadi penentu penting dalam menjaga keseimbangan emosional caregiver.

Namun, di balik tekanan sosial ini, terdapat akar struktural yang lebih luas: sistem kebijakan dan ekonomi politik yang memprivatisasi tanggung jawab perawatan ke ranah domestik. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan jiwa, pemerintah daerah bertanggung jawab atas pemenuhan hak penderita gangguan jiwa, hak yang dimaksud tersebut adalah hak untuk mendapatkan pengobatan dan perawatan serta rehabilitasi guna memperoleh kesembuhan seutuhnya agar mereka dapat menjadi manusia produktif secara sosial dan ekonomis.

Baca Juga: Tips Menjaga Kesehatan Mental Mahasiswa selama Perkuliahan

Namun, faktanya masih ditemui peran pemerintah pada orang dengan gangguan jiwa sangat minim, dimana orang dengan gangguan jiwa tidak diperhatikan serta diberi kelayakan dengan pemenuhannya (Riadi, 2022). Dalam kondisi di mana negara tidak menyediakan dukungan kesehatan mental yang memadai, akhirnya keluarga dipaksa menjadi penyedia utama dalam perawatan (Cejalvo dkk, 2021).

Dengan membaca gagasan-gagasan di dalam beberapa penelitian tersebut membawa saya pada pemahaman bahwa caregiver burden ternyata tidak semata-mata merupakan permasalahan psikologis individu.

Sebaliknya, hal tersebut merupakan hasil dari interaksi antara struktur sosial, budaya, dan kekuasaan yang menempatkan keluarga sebagai “penanggung jawab utama” bagi anggota keluarga mereka yang sedang mengalami penderitaan. Perspektif inilah yang membuka jalan bagi pendekatan psikologi kritis dalam memahami fenomena ini secara lebih menyeluruh.

Relevansi Caregiver Burden dengan Psikologi Kritis

Psikologi kritis mengajak saya untuk mempertanyakan asumsi dasar dalam psikologi arus utama: bahwa distress atau beban adalah sesuatu yang lahir dari dalam individu. Dalam pandangan ini, konsep seperti “beban,” “gangguan,” atau “disfungsi” sering kali dianggap netral, padahal sebenarnya terbentuk dari relasi kuasa yang bekerja di baliknya.

Dalam konteks caregiver burden, terdapat beberapa bentuk kuasa yang memengaruhi pengalaman caregiving:

1. Kuasa medis: yang mendefinisikan pengalaman penderitaan melalui bahasa diagnosis dan patologi, pengalaman subjektif keluarga dan individu direduksi menjadi “gejala” atau “gangguan,” sementara konteks sosial dan relasionalnya diabaikan.

Seperti dijelaskan oleh Cromby (2020), makna-makna yang dilekatkan pada kategori psikiatrik sering kali bersifat menstigma dan meminggirkan. Dengan cara ini, kuasa medis tidak hanya menjelaskan penderitaan, tetapi juga secara halus mempertahankan struktur sosial yang menempatkan caregiver dan orang dengan gangguan jiwa dalam posisi yang rentan.

2. Kuasa budaya: yang mengonstruksi caregiving bekerja melalui norma, nilai, dan keyakinan yang menempatkan perawatan sebagai kewajiban moral keluarga. Zarzycki dkk. (2022) menegaskan bahwa dalam banyak konteks budaya, terutama di masyarakat dengan nilai familism yang kuat, tanggung jawab merawat anggota keluarga yang sakit dianggap sebagai bentuk cinta dan pengabdian yang tidak boleh ditolak.

Namun, pandangan ini juga dapat menciptakan tekanan sosial yang besar bagi caregiver, karena setiap penyimpangan dari norma dianggap sebagai kegagalan moral. Lebih lanjut, Zarzycki dkk. (2022) menjelaskan bahwa faktor-faktor makro seperti nilai budaya, spiritualitas, dan ekspektasi gender turut menentukan mengapa dan bagaimana seseorang merawat. Mereka menulis beban yang dirasakan oleh family caregiver tidak hanya muncul dari dinamika psikologis personal, tetapi juga dari cara masyarakat membentuk makna moral tentang “kewajiban keluarga.”

3. Kuasa sosial-ekonomi: menentukan siapa yang memiliki akses terhadap sumber daya, layanan kesehatan, dan dukungan sosial. Dalam konteks family caregiving, tekanan ekonomi seringkali menjadi bagian paling nyata dari beban yang dialami keluarga. Cejalvo dkk. (2021) menemukan bahwa banyak caregiver mengalami ketegangan keluarga dan stres akibat ketidakseimbangan antara tanggung jawab merawat dan kapasitas aktual yang mereka miliki.

Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian Ganguly, Chadda, dan Singh (2010) yang menunjukkan bahwa perawatan terhadap individu dengan gangguan jiwa berat seperti skizofrenia dan bipolar, termasuk beban finansial yang serius, isolasi sosial, dan gangguan fungsi keluarga.

Mereka juga menyoroti bahwa beban ekonomi tidak hanya soal kekurangan uang, tetapi merupakan manifestasi dari ketimpangan struktural: ketika negara dan sistem kesehatan gagal menyediakan dukungan yang memadai, keluarga yang dipaksa mengisi kekosongan itu dengan tenaga, waktu, dan emosinya sendiri. inilah bentuk operasi kuasa sosial-ekonomi yang paling nyata dalam pengalaman family caregiver.

Baca Juga: Kesehatan Mental dan Spiritualitas: Peran Zikir dalam Mengatasi Stres

Dengan demikian, caregiver burden bukan hanya beban personal, tetapi merupakan gejala sosial juga. Hal ini memperlihatkan bagaimana sistem kuasa baik medis, ekonomi, maupun kultural yang membentuk pengalaman family caregiving yang kemudian dilekatkan pada ranah individu.

Diskusi: Gagasan Kritis – Membaca Caregiver Burden melalui Power Threat Meaning Framework (PTMF)

Power Threat Meaning Framework (PTMF) menawarkan pendekatan alternatif terhadap cara kita memahami penderitaan psikologis. Griffiths, (2019) menuliskan beberapa cara untuk merefleksikan suatu penderitaan alih-alih menanyakan “apa gangguanmu,” dengan menggunakan pendekatan PTMF, kita dapat menanyakan serangkaian pertanyaan reflektif:

  • Apa yang terjadi padamu? (How has power operated in your life?)
  • Bagaimana kejadian tersebut berdampak pada dirimu? (What kind of threats did this pose?)
  • Makna apa yang kamu berikan pada pengalaman tersebut? (What is the meaning of these situations and experiences to you?)
  • Respons seperti apa yang kamu kembangkan untuk bertahan? (What kinds of Threat Response are you using?)

Melalui pendekatan ini diharapkan dapat membantu memindahkan fokus dari “apa yang salah dengan individu” menjadi “apa yang telah terjadi padanya dan bagaimana ia bertahan.” dalam kerangka PTMF, tekanan dan kelelahan emosional yang dialami family caregiver dapat dipahami sebagai threat responses, yaitu cara-cara bertahan dalam situasi di mana kuasa bekerja secara tidak seimbang.

Misalnya, rasa bersalah, kelelahan, atau menarik diri dari sosial bukan semata-mata gejala disfungsi, tetapi respons adaptif terhadap sistem yang menuntut terlalu banyak dan memberi terlalu sedikit ruang bagi pemulihan.

Dengan demikian, caregiver burden tidak lagi dipandang sebagai masalah yang harus “dikelola,” tetapi sebagai bentuk perlawanan senyap terhadap struktur sosial yang menindas. PTMF membuka ruang bagi family caregiver untuk merekonstruksi narasi hidupnya dari posisi lemah dan bersalah menuju pemahaman yang lebih berdaya dan reflektif.

Refleksi, Implikasi, dan Kesimpulan

Melalui bacaan kritis terhadap fenomena caregiver burden, saya belajar bahwa psikologi tidak pernah sepenuhnya netral. Setiap konsep yang saya gunakan mulai dari “beban,” “stres,” hingga “kesehatan mental” selalu dibentuk oleh sistem nilai, norma sosial, dan relasi kuasa yang melingkupinya.

Ketika psikologi arus utama mendefinisikan penderitaan dalam istilah individu dan patologi, ia tanpa sadar juga mengabaikan bagaimana kekuasaan sosial, ekonomi, dan budaya ikut menentukan siapa yang dianggap “sakit,” siapa yang “merawat,” dan siapa yang berhak atas dukungan.

Sebagai seorang mahasiswa magister psikologi, yang sedang asik menekuni psikologi kritis, dan memiliki cita-cita sebagai seorang psikolog yang menanamkan nilai-nilai humanisme. Saya mulai menyadari bahwa pendekatan konvensional yang terlalu berpusat pada individu sering kali menutupi konteks sosial tempat penderitaan itu tumbuh.

Baca Juga: Dampak Media Sosial terhadap Kesehatan Mental

Dalam konteks caregiver burden di sini, beban yang dialami keluarga ternyata tidak hanya muncul karena faktor psikologis personal, melainkan juga karena ekspektasi sosial dan struktur institusional yang menekan, seperti tanggung jawab moral yang dilekatkan pada keluarga, stigma terhadap gangguan jiwa, dan minimnya dukungan terhadap perawatan informal.

Kerangka Power Threat Meaning Framework (PTMF) memberi saya cara baru untuk membaca ulang pengalaman tersebut. Alih-alih menanyakan “apakah family caregiver sanggup untuk selalu berempati?” PTMF mendorong pertanyaan yang lebih manusiawi dan kontekstual: apa yang terjadi pada mereka, kuasa apa yang bekerja dalam hidup mereka, ancaman apa yang mereka hadapi, dan makna apa yang mereka bangun dari pengalaman itu?

Melalui pertanyaan-pertanyaan ini, saya belajar bahwa caregiver burden bukan sekadar hasil dari kelemahan personal, tetapi merupakan respons terhadap tekanan sistemik yang terus beroperasi dalam kehidupan sosial. Dimulai dari struktur dan ekonomi, hingga ideologi medis dan kebijakan publik yang tidak setara.

Dengan demikian, memahami caregiver burden melalui PTMF bukan hanya tentang mengurai penderitaan, tetapi juga tentang memulihkan makna dan posisi kuasa. Dalam narasi ini, family caregiver tidak lagi dipandang sebagai individu pasif yang “terbebani,” melainkan sebagai subjek aktif yang berjuang dan menegosiasikan makna hidupnya di tengah sistem sosial yang kompleks.

Perspektif ini mengajarkan bahwa praktik psikologi seharusnya tidak hanya berfokus pada perbaikan individu, tetapi juga pada transformasi sosial yang memungkinkan setiap orang, termasuk family caregiver untuk hidup dengan martabat, dukungan, dan kesadaran akan kekuatan mereka sendiri.

Penulis: Calista Cincia, S.Psi
Mahasiswa Magister Psikologi Universitas Sanata Dharma

 

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Referensi

Arthanti, M. D., & Andayani, B. (2024). Appraisal, koping, dan dukungan sosial: Studi kasus family caregiver orang dengan skizofrenia (ODS). Dalam Peran Psikologi dalam Pemberdayaan Masyarakat untuk Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Indonesia (pp. 29–37).

Cejalvo, E., Marti-Vilar, M., Merino-Soto, C., & Aguirre-Morales, M. T. (2021). Caregiving role and psychosocial and individual factors: A systematic review. Healthcare, 9(12), 1690.

Cromby, J. (2020). Meaning in the Power Threat Meaning Framework. Journal of Constructivist Psychology, 35(1), 41–53.

Ganguly, K. K., Chadda, R. K., & Singh, T. B. (2010). Caregiver burden and coping in schizophrenia and bipolar disorder: A qualitative study. American Journal of Psychiatric Rehabilitation, 13(2), 126–142.

Griffiths, A. (2019). Reflections on using the Power Threat Meaning Framework in peer-led systems. Clinical Psychology Forum, 313, 9–14.

Riadi, S. (2022). Peran Pemerintah Daerah Dalam Pemenuhan Hak Orang Dengan Gangguan Jiwa Di Kabupaten Hulu Sungai Utara. Jurnal Niara, 14(3), 182-196.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2014 Tentang Kesehatan Jiwa

Zarzycki, M., Morrison, V., Bei, E., & Seddon, D. (2022). Cultural and societal motivations for being informal caregivers: A qualitative systematic review and meta-synthesis. Health Psychology Review, 17(2), 247–276.

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses