Menanam di Rumah Sempit: Solusi Sederhana Mengurangi Perubahan Iklim

Menanam di lahan sempit
Foto: Dok. Penulis

Perubahan iklim menjadi salah satu tantangan terbesar yang dihadapi dunia saat ini.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengungkapkan bahwa tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas, dengan suhu rata-rata global mencapai 1,55 °C, di atas suhu era pra-industri (1850—1900).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dibandingkan era pra-industri akibat aktivitas manusia, terutama emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (CO₂).

Dampaknya terlihat dalam bentuk cuaca ekstrem, bencana hidrometeorologi, gelombang panas, penurunan kualitas udara, kerusakan ekosistem dan biodiversitas.

Sebagian besar penyumbang pemanasan global berasal dari aktivitas di kota dan kawasan industri, seperti emisi kendaraan, pabrik, dan penggunaan energi yang tinggi.

Di sisi lain, banyak masyarakat di wilayah tersebut tinggal di perumahan dengan lahan sempit, sehingga ruang hijau menjadi sangat terbatas.

Oleh karena itu, pemanfaatan lahan sempit untuk menanam tanaman dapat menjadi salah satu solusi sederhana namun efektif untuk membantu mengurangi dampak pemanasan global, sekaligus meningkatkan kualitas udara dan lingkungan sekitar.

Berbagai teknik sederhana yang dapat dilakukan individu seperti vertical gardening, hidroponik, pot gantung atau akuaponik yang memungkinkan aktivitas bercocok tanam tanaman dan ikan pada satu wadah.

Penelitian oleh FAO (Food and Agriculture Organization, 2014) menunjukkan bahwa pertanian perkotaan, termasuk skala rumah tangga, mampu meningkatkan ruang hijau sekaligus membantu mengurangi jejak karbon. 

Secara ilmiah, tanaman berperan penting dalam menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis.

Menurut NASA Earth Observatory, satu pohon dewasa dapat menyerap sekitar 22 kg CO₂ per tahun.

Walaupun tanaman skala rumah tidak sebesar pohon, namun akumulasi dari banyak tanaman tetap dapat memberikan kontribusi dalam menurunkan konsentrasi CO₂ di atmosfer.

Selain itu, studi dalam jurnal 19 Manfaat Tumbuhan bagi Lingkungan, Penjaga Ekosistem (2025) menunjukkan bahwa tanaman juga dapat menyerap polutan udara seperti nitrogen dioksida (NO₂) dan partikel halus (PM2.5).

Tanaman juga berperan dalam mengurangi efek urban heat island.

Menurut United States Environmental Protection Agency (EPA, 2020), area dengan vegetasi yang cukup dapat memiliki suhu hingga 1–4°C lebih rendah dibandingkan area yang minim tanaman.

Hal ini membantu mengurangi kebutuhan penggunaan pendingin ruangan yang berkontribusi pada konsumsi energi listrik dan emisi karbon.

Selain manfaat lingkungan, menanam di rumah sempit juga berdampak pada ketahanan pangan.

Data dari FAO (2020) menunjukkan bahwa urban farming dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan rumah tangga dan mengurangi ketergantungan pada distribusi makanan yang menghasilkan emisi transportasi.

Sayuran seperti bayam, selada,  kangkung, dan cabai relatif mudah ditanam di ruang terbatas dan memiliki siklus panen yang singkat.

Namun, terdapat beberapa tantangan seperti keterbatasan cahaya matahari dan ruang.

Oleh karena itu, diperlukan pemilihan tanaman yang sesuai serta teknik budidaya yang efisien.

Penggunaan sistem hidroponik, misalnya, terbukti mampu menghemat penggunaan air hingga 90% dibandingkan metode konvensional (FAO, 2014).

Tidak hanya sayuran, kita juga bisa menanam tanaman hias untuk mempercantik rumah kita ataupun kita dapat menanam tanaman obat sebagai apotek hidup.

Menanam di lahan sempit

Kesimpulannya, menanam di rumah sempit merupakan langkah kecil yang berbasis ilmiah dalam mengurangi dampak perubahan iklim.

Dengan memanfaatkan ruang sempit terbatas secara kreatif, kita dapat berkontribusi dalam menyerap karbon, menurunkan suhu lingkungan, serta meningkatkan kualitas hidup keluarga.

Jika dilakukan secara luas, upaya sederhana ini dapat menjadi bagian dari solusi global dalam menghadapi krisis iklim.


Penulis: Heri Supriatna (NIM 251091100058)
Mahasiswa Prodi Biologi, Universitas Pamulang


Dosen Pengampu: Gema Ikrar Muhammad, S.Si., M.Si.


Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi


Daftar Pustaka 

  1. BMKG. (2025). Antisipasi Risiko Gagal Panen, BMKG Gencarkan Sekolah Lapangan Iklim. https://www.bmkg.go.id/berita/utama/antisipasi-risiko-gagal-panen-bmkg-gencarkan-sekolah-lapang-iklim
  2. FAO. (2014). Growing Greener Cities. https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/e246828b-e2bf-4a8e-b279-5115140760e8/content
  3. FAO. (2020). Urban Agriculture and Food Systems. https://openknowledge.fao.org/server/api/core/bitstreams/0bd766db-e6e7-4e53-860b-248de7e983e8/content#:~:text=and%20urban%20planning.-,In,well%20as%20the%20key%20components
  4. NASA Earth Observatory. (n.d.). The Carbon Cycle. https://science.nasa.gov/earth/earth-observatory/the-carbon-cycle/
  5. EPA. (2020). Heat Island Effect. https://www.epa.gov/heatislands 
  6. STKIPMB. (2025). 19 Manfaat Tumbuhan bagi Lingkungan, Penjaga Ekosistem. https://jurnal.stkipmb.ac.id/19-manfaat-tumbuhan-bagi-lingkungan-penjaga-ekosistem-e-jurnal/

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses