Di tengah kebutuhan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan profesionalisme guru di masa kini yang sedang mengalami perubahan besar, supervisi akademik semakin menjadi topik yang penting untuk dipertimbangkan secara mendalam.
Supervisi kini tidak hanya dianggap sebagai tugas mengevaluasi secara administratif, tetapi juga dijadikan strategi untuk pembinaan jangka panjang dalam meningkatkan kualitas proses belajar mengajar.
Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara terkait pelaksanaan supervisi di SMP Islam Nurul Hidayah, opini ini dibuat sebagai refleksi mahasiswa terhadap praktik supervisi di lapangan, dengan menghubungkannya pada tantangan nyata di dunia pendidikan, terutama dalam mewujudkan budaya profesional dan kerja sama yang baik di lingkungan sekolah.
Berdasarkan laporan observasi yang telah disusun, pelaksanaan supervisi akademik di SMP Islam Nurul Hidayah menunjukkan adanya upaya yang terorganisir dalam membangun budaya pembinaan profesional guru yang lebih humanis dan kolaboratif.
Dalam konsepnya, supervisi pendidikan tidak lagi dianggap sebagai tugas mengontrol secara administratif, melainkan sebagai proses bantuannya yang terus-menerus bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Dalam konteks ini, cara pengawasan yang dilakukan oleh kepala sekolah telah membawa perubahan menuju pendekatan pengawasan modern yang menjadikan guru sebagai rekan profesional.
Baca juga: Tantangan Utama dalam Pelaksanaan Supervisi Pendidikan
Menurut pendapat saya pribadi sebagai mahasiswa PTIQ Jakarta program studi Pendidikan Agama Islam, hasil observasi dan wawancara terkait pelaksanaan supervisi akademik di SMP Islam Nurul Hidayah memberikan gambaran yang cukup jelas tentang cara supervisi dijalankan di sekolah swasta yang berbasis Islam.
Dari hasil wawancara dengan kepala sekolah, terbukti bahwa supervisi tidak hanya dianggap sebagai tugas administratif biasa, tetapi diarahkan sebagai bentuk pembinaan yang bertujuan untuk mendukung profesionalisme guru.
Yang paling menarik bagi saya adalah cara kerja sama yang menjadi metode utama dalam melakukan supervisi. Menurut hasil wawancara, kepala sekolah menjelaskan bahwa tujuan supervisi bukanlah untuk mencari kesalahan, tetapi untuk membantu dan mendampingi para guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Bahkan, kepala sekolah dan tim kurikulum juga turut serta membantu dalam menyusun perangkat ajar seperti modul dan asesmen.
Menurut saya, ini menunjukkan bahwa pihak-pihak terkait sadar bahwa meningkatkan kualitas pendidikan tidak bisa hanya ditanggung oleh guru saja, tetapi memerlukan kerja sama serta komunikasi yang dua arah.
Dari hasil wawancara juga terlihat bahwa supervisi dilakukan secara terencana dan terjadwal dua kali dalam setahun, biasanya dilaksanakan setelah UTS. Menurut saya, langkah ini sangat baik karena supervisi bisa terkait langsung dengan hasil belajar siswa.
Artinya, kepala sekolah tidak hanya memperhatikan cara belajar siswa di dalam kelas, tetapi juga melihat hasil atau pencapaian akademik mereka. Ini menunjukkan bahwa pengawasan yang dilakukan sudah berubah menjadi pengevaluasian yang lebih luas dan detail.
Selain itu, faktor psikologis guru saat supervisi juga menjadi temuan yang cukup penting. Kepala sekolah mengakui bahwa masih ada guru yang merasa grogi dan cemas ketika disupervisi. Menurut saya, ini adalah hal yang wajar karena supervisi sering kali diasosiasikan dengan penilaian kinerja.
Meskipun pendekatan yang digunakan sudah humanis dan komunikatif, perubahan pola pikir guru tentu tidak bisa terjadi secara instan. Dibutuhkan konsistensi dalam membangun suasana yang benar-benar mendukung dan tidak mengintimidasi.
Namun demikian, saya melihat adanya keterbatasan waktu kepala sekolah sebagai supervisor karena harus menangani tugas manajerial lainnya. Ini menjadi tantangan tersendiri karena supervisi yang ideal seharusnya tidak berhenti pada observasi dan pemberian umpan balik, tetapi juga pada tindak lanjut yang berkelanjutan.
Jika waktu terbatas, maka pendampingan lanjutan bisa kurang optimal. Mungkin pelibatan guru senior atau tim kurikulum secara lebih intens bisa menjadi solusi agar supervisi tetap berjalan efektif.
Secara keseluruhan, menurut saya hasil wawancara menunjukkan bahwa supervisi di sekolah ini sudah berada pada arah yang positif dan berkembang. Pendekatan kolaboratif, komunikasi humanis, serta penjadwalan yang terstruktur menjadi kekuatan utama.
Sebagai mahasiswa, saya melihat praktik supervisi ini sebagai contoh bahwa teori yang dipelajari di bangku kuliah memang bisa diimplementasikan di lapangan, meskipun tetap menghadapi dinamika dan tantangan. Supervisi yang efektif bukan hanya tentang teknik, tetapi tentang bagaimana membangun kepercayaan, komunikasi, dan komitmen bersama untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Penulis: Rina Nur Afidati (2486208187)
Mahasiswa Pendidikan Agama Islam, Universitas PTIQ Jakarta
Dosen Pengampu: Dr. Sarwenda, S. Si., M. Pd.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













