Kunjungan ke dokter gigi sering kali menjadi pengalaman yang menakutkan bagi anak-anak, hingga terkadang ketakutan ini berlanjut sampai masa depan.
Dental anxiety/kecemasan gigi pada anak-anak harus membuat para dokter gigi memutar otak untuk mencari solusi terkait ketakutan anak-anak.
Artikel ini dibuat untuk mengidentifikasi dan menguraikan strategi serta trik komunikasi efektif oleh dokter gigi untuk menciptakan lingkungan yang nyaman, positif, dan bebas dari rasa takut.
Metode yang dilakukan adalah dengan tinjauan literatur langsung dari dokter gigi terkait teknik manajemen perilaku, dan perlakuan terbaik dalam menangani rasa takut pada anak.
Penulis juga melakukan proses wawancara di tempat praktik dokter gigi. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa keberhasilan penanganan rasa takut anak bergantung pada aplikasi teknik seperti Tell-Show-Do (Beri tahu-Tunjukkan-Lakukan), penggunaan bahasa yang disesuaikan / menggunakan komunikasi terapeutik, teknik distraksi yang efektif (contoh: mainan, cerita dan tontonan), dan pembentukan hubungan saling percaya dengan orang tua.
Penerapan trik-trik jitu ini tidak hanya memfasilitasi kelancaran prosedur klinis tetapi juga berkontribusi pada pembentukan sikap positif anak terhadap kesehatan gigi dan mulut seumur hidup.
Kesehatan mulut dan gigi adalah salah satu komponen krusial dalam masyarakat, termasuk anak-anak.
Namun kita sering mendapati banyak pasien yang masih merasa takut berlebih terhadap dokter gigi/dental anxiety.
Kebanyakan pasien yang mengalami dental anxiety ini adalah pasien anak-anak. Oleh karena itu, memilih profesi dokter gigi anak menjadi tantangan tersendiri bagi para calon dokter gigi.
Rasa takut yang dialami oleh pasien anak-anak sering kali dipicu oleh ketidakpahaman anak-anak terhadap prosedur yang akan dilakukan dokter gigi, seperti suara bor gigi yang asing, tang gigi yang terlihat seperti barang berbahaya untuk mereka, dan perasaan asing saat dokter gigi melakukan penanganan di bagian tubuh mereka (mulut dan gigi).
Hal ini agaknya membuat banyak calon dokter gigi ragu dan enggan untuk memilih lendidikan spesialis kedokteran gigi anak.
Kebanyakan dari mereka berpendapat bahwa, menenangkan anak-anak lebih sulit dan ribet. Bahkan ada dari mereka jika tidak menyukai anak kecil.
Namun agaknya, spesialis kedokteran gigi anak akan banyak dicari oleh masyarakat, terlebih anak-anak tentu lebih menyukai makanan-makanan manis yang menjadi faktor penyebab gigi berlubang.
Nah, lantas bagaimana pandangan spesialis dokter gigi anak dalam menangani permasalah yang sering terjadi/dental anxiety pada anak-anak?
Menurut drg. Margaretha yang penulis wawancarai pada 29 Oktober 2025 kemarin, menyebutkan ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh dokter gigi saat menangani pasien anak-anak dan menghilangkan rasa takut mereka terhadap dokter gigi
1. Komunikasi Terapeutik
Sebagai dokter gigi, tentu kita harus membangun hubungan kepercayaan kepada pasien, termasuk pasien anak-anak.
Namun kita tentu tahu, anak-anak akan lebih sensitif dibanding pasien biasa, sehingga dokter gigi harus memberikan dan menanyakan topik yang seru kepada anak-anak.
Salah satu caranya adalah dengan memberikan cerita/dongeng. Contohnya, “Halo adik, kemarin tante nungguin adik loh, kata peri gigi kemarin tante harus bantu dia ambil barangnya yang ketinggalan di gigi adik, nanti kalau engga diambil, barangnya bisa bikin sakit, jadi harus diambil cepet nih.”
Nah, selain itu, alangkah lebih baik juga, apabila kita lebih memanggil diri sebagai orang terdekat anak-anak seperti tante/om dibanding menyebut diri sebagai dokter.
Anak-anak akan lebih mudah merasa nyaman apabila mereka tahu kita sebagai orang terdekat mereka.
2. Distraksi
Banyak peralatan dokter gigi yang sering ditakuti oleh anak-anak, seperti tang gigi. Sering kali anak-anak yang melihat alat itu akan merasa takut dan dapat memperlambat proses penanganan.
Oleh karena itu, dokter gigi dapat melakukan distraksi sehingga mereka tidak perlu melihat alat tersebut dalam proses penanganan.
Salah satu caranya adalah dengan memberikan alat-alat tersebut kepada asisten dokter gigi, dan meminta mereka menyembunyikan alat tersebut.
Aaat dokter gigi mulai mengalihkan fokus anak dengan bercerita, dokter gigi juga dapat memberikan isyarat kepada asisten dokter gigi untuk menyerahkan alat dari bawah diam-diam dan langsung melakukan tindakan sebelum anak-anak sadar.
3. Tell-show-do
Anak-anak memiliki rasa penasaran yang tinggi, dan sering kali rasa penasaran itu mengalahkan rasa takut mereka.
Suara yang asing di tempat praktek dapat membuat mereka menjadi panik dan takut. Oleh karena itu, dokter gigi dapat mengenalkan alat-alat yang menimbulkan suara seperti bor gigi sebagai bentuk pengenalan pertama bagi anak-anak.
Dokter gigi bisa mengenalkan sekaligus beritahu bagaimana alat tersebut akan bekerja dengan bahasa yang mudah dipahami anak-anak dengan perumpamaan.
Contohnya, “Nah ini bor gigi, bentuknya kayak pistol kecil ya, nah nanti tante bakal jadi polisinya buat tangkap penjahat yang ada di gigi adik, nah dia bunyinya kayak papah waktu naik motor nih, adik suka naik motor sama papah kan? Seru engga?”
Cara ini bisa membuat anak-anak menjadi lebih kenal dan tidak asing dengan suara-suara selama proses penanganan dan mengurangi rasa takut mereka.
Berdasarkan pembahasan mendalam mengenai berbagai strategi dan teknik yang penulis dapat dari wawancara singkat bersama drg. Margaretha, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan dalam merawat pasien anak yang cemas terletak pada perpaduan keahlian klinis dan kompetensi psikologis-komunikasi.
Kecemasan gigi pada anak bukanlah hambatan yang tidak teratasi, melainkan tantangan yang dapat dikelola secara efektif melalui pendekatan yang sistematis dan humanis.
Beberapa cara yang telah dijabarkan seperti komunikasi terapeutik, distraksi dan kombinasi tell-show-do dapat menjadi sarana terbaik dokter gigi dalam mengembangkan hubungan dengan pasien anak-anak dalam mempermudah proses penanganan.
Penggunaan bahasa yang disederhanakan dalam komunikasi terapeutik dan teknik distraksi kreatif berfungsi sebagai alat manajemen perilaku non-farmakologis yang kuat.
Pada akhirnya, penciptaan lingkungan klinik yang ramah, hangat, dan komunikatif, di mana dokter gigi, staf, dan orang tua bekerja sama, adalah kunci untuk mengubah persepsi anak dari takut menjadi merasa aman dan termotivasi.
Penerapan trik-trik jitu ini tidak hanya memastikan kelancaran prosedur perawatan gigi tetapi juga memberikan kontribusi jangka panjang yang signifikan terhadap pembentukan kebiasaan kesehatan gigi yang positif sejak dini.
Penulis: Yohana Sekar Jingga Kencana
Mahasiswa Prodi Kedokteran Gigi, Universitas Airlangga
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Daftar Pustaka
Al-Zahrani, A. M., El-Housseiny, A. A., & Al-Amoudi, S. O. (2018). Effectiveness of Tell-Show-Do technique and distraction on reducing dental anxiety in children: A randomized controlled trial. Saudi Dental Journal, 30(4), 314–320.
Pristiwa, A., & Sumarsono, D. (2019). Pengaruh Eufemisme dan Modelling terhadap Tingkat Kecemasan Anak dalam Perawatan Gigi. Jurnal Kedokteran Gigi Indonesia, 10(1), 10–18. (Contoh referensi dari Indonesia)
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














