Di sebuah sudut kota Jayapura, seorang remaja berusia tujuh belas tahun duduk di teras rumahnya dengan mata tertuju pada layar ponsel. Jemarinya bergerak lincah menelusuri konten di TikTok berisi tarian viral, drama korea, hingga berita-berita dari kota-kota besar yang terasa begitu jauh namun kini hanya sejarak sentuhan. Di sisi lain kota yang sama, seorang pemuda lain justru sibuk memotret ritual adat Bakar Batu di kampungnya, lalu mengunggahnya ke Instagram dengan caption berbahasa Inggris: “This is Papua, and it’s more than you think.”
Dua gambaran ini bukan sekadar kontras. Keduanya adalah wajah Generasi Z Papua hari ini, generasi yang tumbuh bersama internet, terjepit antara dua dunia: modernitas digital yang menawarkan segalanya, dan identitas lokal yang kaya namun perlahan pudar. Pertanyaannya bukan lagi apakah teknologi sudah masuk Papua, karena jawabannya jelas: sudah. Pertanyaan yang lebih penting adalah ke mana arah Generasi Z Papua membawa ponsel mereka itu?
Generasi yang Tumbuh di Antara Dua Dunia
Generasi Z, mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, adalah generasi pertama yang benar-benar tumbuh bersama internet sebagai bagian dari napas sehari-hari. Di Papua, penetrasi internet memang masih belum merata. Daerah pedalaman seperti Pegunungan Bintang, Yahukimo, atau Nduga masih berjuang dengan sinyal yang lemah bahkan tidak ada. Namun di kota-kota seperti Jayapura, Timika, Sorong, dan Merauke, anak-anak muda Papua sudah sangat akrab dengan media sosial, streaming, dan berbagai platform digital lainnya.
Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan bahwa penetrasi internet di Papua terus meningkat setiap tahunnya. Proyek Palapa Ring yang menghubungkan wilayah timur Indonesia dengan jaringan serat optik bawah laut telah membuka akses yang lebih luas. Ini kabar baik, tentu saja. Namun akses tanpa literasi digital adalah pisau bermata dua.
Di satu sisi, Generasi Z Papua memiliki akses ke pengetahuan yang tidak pernah dimiliki generasi sebelumnya. Seorang pelajar di Nabire kini bisa mengikuti kuliah daring dari universitas terbaik di Indonesia. Seorang pengrajin ukiran di Asmat bisa memasarkan karyanya ke seluruh dunia melalui marketplace digital. Seorang aktivis muda dari Wamena bisa menyuarakan hak-hak masyarakat adatnya lewat media sosial dan menjangkau perhatian internasional. Potensi ini sungguh luar biasa.
Di sisi lain, bahaya mengintai. Konten-konten asing yang mendominasi platform digital berpotensi menggerus rasa bangga terhadap identitas lokal. Budaya konsumtif yang dipromosikan oleh algoritma media sosial bisa mengalihkan perhatian dari nilai-nilai komunal yang selama ini menjadi kekuatan masyarakat Papua. Disinformasi tentang Papua baik yang datang dari dalam maupun luar negeri juga dengan mudah menyebar dan menciptakan persepsi yang menyimpang.
Ancaman Nyata: Ketika Identitas Tergadai
Salah satu ancaman paling diam namun paling berbahaya adalah erosi identitas budaya. Bahasa daerah adalah contoh nyata. Papua memiliki lebih dari 270 bahasa daerah, menjadikannya salah satu wilayah dengan keragaman linguistik terbesar di dunia. Namun di kota-kota besar Papua, semakin banyak anak muda yang sudah tidak fasih berbicara dalam bahasa leluhurnya. Mereka lebih nyaman berkomunikasi dalam bahasa gaul yang mereka serap dari konten media sosial.
Ini bukan salah mereka sepenuhnya. Algoritma media sosial memang dirancang untuk memaksimalkan waktu layar (screen time), bukan untuk memperkuat identitas budaya penggunanya. Konten yang viral cenderung seragam mengarah pada estetika global yang tidak jarang mengaburkan keunikan lokal. Ketika seorang remaja Papua lebih hafal lagu K-Pop daripada lagu daerahnya sendiri, bukan berarti ia tidak mencintai Papua. Ia hanya belum diberi cukup ruang dan alat untuk mengekspresikan kecintaannya itu dalam bahasa yang dipahami dunia digital.
Selain itu, disinformasi dan narasi negatif tentang Papua juga kerap beredar di media sosial. Papua sering digambarkan hanya melalui lensa konflik atau kemiskinan, mengabaikan kekayaan budaya, keindahan alam, dan ketangguhan masyarakatnya. Anak-anak muda yang terus-menerus terpapar narasi sempit ini bisa tumbuh dengan rasa minder terhadap identitasnya sendiri sebuah luka psikologis yang sulit disembuhkan.
Potensi Besar: Ketika Ponsel Menjadi Alat Perjuangan
Namun bukan berarti gambaran ini sepenuhnya gelap. Ada banyak kisah membanggakan yang muncul dari balik layar ponsel Generasi Z Papua, dan kisah-kisah inilah yang perlu lebih banyak didengar dan diteladani.
Komunitas-komunitas kreatif anak muda Papua mulai bermunculan. Ada yang membuat konten YouTube tentang wisata alam Papua yang belum pernah terjamah kamera profesional. Ada yang menggunakan Instagram untuk mendokumentasikan tarian-tarian adat dari berbagai suku, mengarsipkannya secara digital sebelum pengetahuan itu ikut terkubur bersama para tetua. Ada pula yang memanfaatkan platform e-commerce untuk menjual noken tas anyaman tradisional Papua yang kini telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya tak benda langsung ke pembeli di Jakarta, Surabaya, bahkan mancanegara.
Para pemuda Papua juga semakin aktif menggunakan media sosial sebagai ruang advokasi. Isu-isu seperti kerusakan lingkungan akibat pertambangan, hak-hak masyarakat adat yang terancam, hingga kesenjangan layanan kesehatan di daerah terpencil semua ini kini bisa disuarakan dengan lebih lantang melalui platform digital. Dunia yang tadinya tidak peduli kini terpaksa menoleh, karena suara itu sudah terlalu keras untuk diabaikan.
Ini adalah bukti bahwa ponsel, di tangan yang tepat dan dengan literasi yang memadai, bisa menjadi alat perjuangan yang sangat ampuh. Tidak perlu ke Jakarta untuk didengar. Tidak perlu menunggu liputan media nasional untuk diperhatikan. Generasi Z Papua bisa menjaga dan mempromosikan tanahnya sendiri dari balik layar ponsel mereka.
Tanggung Jawab Siapa?
Tentu saja, memaksimalkan potensi ini bukan tugas Generasi Z Papua seorang diri. Ada tanggung jawab kolektif yang harus dipikul bersama.
Pemerintah daerah perlu hadir lebih konkret dalam bentuk program literasi digital yang tidak sekadar mengajarkan cara menggunakan internet, tetapi juga cara berpikir kritis terhadap konten yang dikonsumsi. Kurikulum sekolah perlu diperbarui untuk memasukkan pendidikan media yang relevan dengan konteks Papua. Selain itu, infrastruktur digital harus terus diperluas ke daerah-daerah terpencil agar kesenjangan akses tidak menciptakan kesenjangan baru yang lebih dalam.
Lembaga adat dan tokoh budaya perlu merangkul teknologi, bukan menolaknya. Alih-alih memandang internet sebagai ancaman bagi tradisi, mereka bisa menjadi pemandu bagi anak-anak muda untuk menggunakan teknologi secara bijak mendokumentasikan ritual adat dalam format video, menciptakan konten budaya yang menarik, atau membangun arsip digital tentang sejarah suku-suku di Papua.
Perguruan tinggi di Papua, seperti Universitas Cenderawasih dan perguruan tinggi lainnya, bisa berperan lebih aktif dalam mencetak talenta digital lokal yang tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memiliki kepedulian mendalam terhadap isu-isu Papua. Inkubator startup berbasis budaya lokal, pelatihan konten kreator muda Papua, atau program beasiswa untuk studi komunikasi dan teknologi semua ini adalah investasi jangka panjang yang sangat berharga.
Media nasional juga memiliki tanggung jawab untuk mengubah cara mereka meliput Papua. Narasi yang lebih beragam, yang menampilkan prestasi, kreativitas, dan kekayaan budaya Papua bukan hanya konflik dan ketertinggalan akan membantu membentuk citra yang lebih adil dan menginspirasi anak-anak muda Papua untuk bangga dengan identitas mereka.
Kesimpulan: Menjaga Papua Dimulai dari Dalam
Papua tidak kekurangan penjaga. Selama berabad-abad, leluhur masyarakat Papua telah menjaga tanahnya dengan cara mereka sendiri melalui hukum adat, ritual, kebijaksanaan lisan, dan ikatan komunitas yang kuat. Hari ini, tongkat estafet itu berada di tangan Generasi Z, dan medannya telah berubah. Pertempuran tidak lagi hanya terjadi di hutan atau di ruang-ruang perundingan, tetapi juga di kolom komentar, di layar reels, di tren hashtag yang berganti setiap hari.
Menjaga Papua dari balik layar ponsel bukan sekadar metafora. Ini adalah kenyataan baru yang harus dihadapi dengan serius. Setiap konten yang dibuat, setiap cerita yang dibagikan, setiap narasi yang ditolak atau diterima semuanya berkontribusi pada bagaimana Papua dipahami oleh dunia dan, yang lebih penting, bagaimana Papua dipahami oleh anak-anak Papua sendiri.
Generasi Z Papua punya kekuatan yang belum pernah dimiliki generasi mana pun sebelumnya: kemampuan untuk bersuara melampaui batas geografis, untuk membangun jaringan solidaritas lintas pulau dan lintas negara, untuk mendokumentasikan kebudayaan mereka sendiri sebelum sempat hilang. Yang dibutuhkan hanyalah kesadaran bahwa ponsel di tangan mereka bukan sekadar alat hiburan, melainkan alat kebudayaan, alat advokasi, dan alat penjaga identitas.
Papua terlalu berharga untuk dibiarkan hanya menjadi objek dalam cerita orang lain. Sudah saatnya Generasi Z Papua mengambil alih penanya atau dalam hal ini, layar sentuh mereka dan mulai menulis ceritanya sendiri.
Penulis: Davina Nur Casey
Mahasiswa Program Studi Administrasi Publik, Universitas Cendrawasih
Editor: Darsono. AR
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












