Meritokrasi vs Hanky Panky

Meritokrasi vs Hanky Panky
Sumber: Dokumentasi Penulis

Indonesia telah memasuki usia ke-79 tahun. Usia yang bukan lagi muda untuk sebuah bangsa, namun juga belum terlalu tua untuk berhenti bermimpi.

Kita memiliki cita-cita besar: menuju Indonesia Emas 2045, tepat saat negeri ini berusia 100 tahun.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Tetapi pertanyaan yang selalu muncul adalah: mampukah kita benar-benar sampai pada cita-cita itu?

Sebagai mahasiswa yang tengah melaksanakan PPL di Kominfo, saya menyaksikan sendiri bagaimana wacana dan realitas sering kali berjalan di jalur yang berbeda.

Di satu sisi, ada semangat membangun sistem yang adil, memberi ruang pada mereka yang berkompeten dan berintegritas.

Di sisi lain, kita masih akrab dengan praktik culas, yang dikenal dengan istilah hanky panky.

Meritokrasi merupakan jalan lurus menuju keadilan di mana pada sistem pemerintahan yang tepat dapat memberikan kesempatan bagi seseorang yang memang layak menerima penghargaan untuk memimpin berbekal prestasi dan dedikasinya dalam bekerja, bukan karena hal lain.

Baca Juga: Revolution of the Mind: Forging Indonesia’s Future Beyond the Status Quo

Dalam sebuah tatanan pemerintah, meritokrasi sangat penting. Sebuah sistem keindahan yang dibalut kejujuran menciptakan pemerintahan yang adil dan berakhlak mulia.

Konsep ini sejalan dengan ajaran Islam. Rasulullah saw. menegaskan, amanah harus diberikan kepada yang ahli.

Bahkan beliau menolak permintaan pamannya sendiri untuk mengurus Ka’bah, dan tetap menyerahkannya pada orang yang dianggap kompeten.

Dari sini kita belajar: keadilan tidak boleh tunduk pada nepotisme atau garis keturunan.

Meritokrasi bukan sekadar teori. Ia adalah prinsip yang bisa membuat bangsa ini melesat maju ketika jabatan, kesempatan, dan penghargaan diberikan kepada mereka yang memang pantas, bukan keterikatan kasta sosial, ordal, atau terikat janji karna keluarga atau kerabat.

Sedangkan, hanky panky merupakan luka dalam perjalanan bangsa. Hanky panky predikat licik, pembohong, tipu daya kotor, yang di mainkan untuk tujuan tidak jujur serta merugikan banyak orang.

Sebaliknya, praktik hanky panky justru menjadi batu sandungan. Istilah yang lahir di Inggris pada abad ke-19 ini berarti tipu daya, culas, dan permainan kotor. Sayangnya, hal ini bukan lagi cerita asing bagi kita.

Baca Juga: Refresifitas Aparat dan Hilangnya Komitmen Konstitusi

Penyuapan, gratifikasi, penyalahgunaan wewenang, dan kapitalisme kroni masih begitu nyata.

Segelintir orang memegang kekuasaan politik dan ekonomi, memperkaya diri, sementara masyarakat luas harus menerima kenyataan pahit.

Praktik hanky panky inilah yang memperlambat langkah kita. Bagaimana mungkin kita berharap sampai pada Indonesia Emas jika energi bangsa habis karena culas dan tipu daya?

Sebagai generasi muda yang sedang belajar di instansi pemerintah, saya merasakan betapa pentingnya menumbuhkan budaya meritokrasi.

Kita harus berani memberi tempat kepada mereka yang berilmu, berintegritas, dan memiliki akhlak baik.

Indonesia tidak bisa lagi berjalan setengah hati. Jika ingin benar-benar mencapai Indonesia Emas 2045, kita harus memilih jalan meritokrasi, bukan jalan hanky panky.

Dengan demikian, meritokrasi dan hanky panky adalah dua kutub yang saling bertentangan. Yang satu membawa bangsa pada kemajuan, yang lain menjerumuskan pada kehancuran.

Pilihan ada di tangan kita. Apakah kita ingin cita-cita Indonesia Emas 2045 hanya menjadi mimpi, atau benar-benar menjadi kenyataan?

 

Penulis: Siti Hajrur Munawwarah
Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Institut Agama Islam An-Nadwah Kuala Tungkal

Dosen Pengampu:
1. Taufik Rahman, S.Sos., M.I.Kom.
2. Imam Khalid

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses