Senin cerah namun bertabur gemuruh. Kita menyaksikan jeritan manusia pencinta negri kita merasakan langit seakan ikut menahan napas.
Aksi besar yang dipenuhi resah dan langkah manusia dimulai, menumpuk dari jalanan, mengalir dari setiap sudut perorangan, pelajar dengan mata berkilat, pedagang yang lelah, ojek online yang terus bergerak, hingga mahasiswa yang menanggung beban harapan bangsa.
Manusia penuh aspirasi datang memikul semangat untuk menumpahkan kecewa yang lama terpendam, menyalurkan amarah terhadap keputusan para wakil rakyat yang kini terasa jauh, terbungkus gaji dan tunjangan yang melampaui nalar.
Di antara tuntutan mereka, suara-suara memekik batalkan kenaikan gaji, ungkap transparansi, cabut tunjangan rumah yang tak adil.
Siang hari itu, ketegangan mulai merekah. Langkah-langkah mereka tersendat, sorak amarah bertumbuh, dan kericuhan pun meletup di hadapan Gedung DPR.
Pagar besi menjadi saksi bisu kemarahan, dilempari batu dan botol oleh tangan-tangan yang tidak sabar lagi menunggu keadilan.
Bentrokan tak terelakkan. Massa berusaha menembus blokade di sekitar Kementerian Kehutanan, menuju Slipi, namun gas air mata membakar mata dan menyelimuti napas, sementara water cannon menyiram tubuh-tubuh yang tak kenal menyerah.
Baca Juga: Refresifitas Aparat dan Hilangnya Komitmen Konstitusi
Di tengah hujan air dan debu, setiap jeritan rakyat bergaung di antara dingin tembok kekuasaan, menandai luka yang tak terlihat di hati ibu pertiwi.
Tuntutan mahasiswa untuk:
- Membatalkan kenaikan gaji & tunjangan DPR.
- Transparansi anggaran.
- Sahkan RUU Perampasan Aset untuk mengembalikan harta koruptor.
- Adili Fadli Zon atas penyangkalan tragedi 1998.
Senin itu adalah puisi amarah, ratapan rakyat yang bergelora, dan panggilan sunyi bagi mereka yang duduk di balik kursi empuk, agar mendengar denyut nadi rakyat yang terluka.
Namun pertanyaannya apa yang dihasilkan dari kejadian ini apakah ada kabar baik atau malah kabar buruk? Apakah demo ini menguntungkan atau malah merugikan rakyat?
Tragedi Terlindasnya Affan
Demo yang berlanjut pada tanggal 28 Agustus 2025 menjadi hari yang memunculkan derai air mata dan tragedi ngilu, kita yang menyaksikan miris dan berteriak di mana hati nurani.
Terlindasnya Affan Kurniawan oleh mobil brimob dan dinyatakan meninggal dunia setelah dibawa ke rumah sakit.
Baca Juga: Dari Rapat Kecil hingga Kebijakan Kampus: Sekolah Demokrasi yang Tidak diajarkan di Kelas
Pada kenyataannya demonstrasi juga membawa dampak negatif yang tidak bisa diabaikan.
Jalanan utama menjadi macet total, aktivitas ekonomi warga terganggu, dan keamanan publik terancam.
Orang-orang yang tidak terlibat langsung merasakan keresahan, ketakutan, dan bahkan stres akibat suasana yang tegang.
Bentrokan dengan aparat keamanan menimbulkan risiko cedera bagi mahasiswa maupun aparat.
Selain itu, kerusuhan dapat menimbulkan stigma negatif terhadap peserta aksi, sehingga niat awal menyampaikan pendapat damai bisa terdistorsi menjadi citra anarkis di mata publik.
Dari sisi rakyat, demonstrasi memiliki dua wajah: sebagai sarana perjuangan dan sebagai potensi gangguan sosial.
Warga yang sekadar menonton menjadi saksi dari konflik yang berlangsung, merasakan ketegangan, dan memikirkan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Transformasi Politik Eropa Timur dari Komunisme ke Demokrasi
Namun, ketika aksi berjalan damai dan terorganisir, manfaatnya jelas terlihat. Aspirasi rakyat terdengar, isu sosial-politik menjadi sorotan publik, dan kesadaran politik meningkat.
Demonstrasi semacam ini bisa menstimulasi dialog antara pemerintah dan masyarakat, membuka peluang perubahan kebijakan yang lebih adil.
Sebaliknya, demonstrasi yang berujung kekerasan justru merugikan. Ini disebabkan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab, mereka memprovokasi agar citra pendemo jelek, anarkis, dan tak terdidik menjadikan pandangan tak sehat bagi orang yang tak sependapat.
Selain menimbulkan korban fisik, fokus masyarakat teralihkan dari isu utama menjadi kekacauan, sehingga tujuan awal aksi tidak tercapai.
Sebagai mahasiswa dan bagian dari rakyat, kita belajar bahwa menyuarakan pendapat bukan hanya hak, tetapi juga tanggung jawab.
Perencanaan, koordinasi, dan strategi damai menjadi kunci agar aspirasi tersampaikan tanpa merugikan masyarakat luas.
Kesimpulannya, demonstrasi dapat menguntungkan jika dijalankan dengan cara yang konstruktif, damai, dan terorganisir.
Namun, jika berujung pada kekerasan dan kerusuhan, dampaknya akan menimpa seluruh rakyat.
Keseimbangan antara hak untuk menyuarakan pendapat dan tanggung jawab terhadap keamanan dan kenyamanan masyarakat menjadi pelajaran penting bagi semua pihak.
Penulis: Siti Hajrur Munawwarah
Mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Institut Agama Islam An-Nadwah Kuala Tungkal
Dosen pengampu:
1. Taufik Rahman, S.Sos., M.I.Kom.
2. Imam Khalid
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













