Wonosobo tidak hanya dikenal dengan pesona alamnya, tetapi juga dengan kelezatan kulinernya yang legendaris. Salah satu hidangan yang melekat kuat di hati masyarakat dan wisatawan adalah “Mie Ongklok”.
Lebih dari sekadar makanan, Mie Ongklok telah menjadi ikon budaya dan kuliner yang menghidupkan denyut pariwisata kota kecil di kaki Gunung Sindoro-Sumbing ini. Mie ongklok merupakan salah satu kuliner yang wajib dicoba ketika berkunjung ke Wonosobo.
Mie ongklok pertama kali muncul sekitar tahun 1940-an, diciptakan oleh Kwa Tjin Hwat. Nama “ongklok” sendiri berasal dari teknik memasaknya yang unik, yakni mie yang “diongklok-ongklok” atau dikocok dalam air mendidih menggunakan saringan bambu anyaman.
Proses ini menghasilkan mie dengan tekstur khas dan cita rasa yang berbeda dari mie pada umumnya.
Baca juga: Antropologi Makanan: Eksplorasi Hubungan Budaya dan Kuliner
Keistimewaan mie ongklok terletak pada kuah kentalnya yang terbuat dari perpaduan gula jawa, ebi, pati, dan rempah-rempah lokal.
Mie disajikan bersama kol, kucai, serta bumbu kacang, dan paling nikmat disantap saat masih panas, bersandingan dengan hawa dingin khas Wonosobo.
Resep turun-temurun yang dijaga ketat menjadikan rasa mie ongklok tetap autentik sejak puluhan tahun lalu.
Bahkan kecap dan mie yang digunakan masih mempertahankan bahan asli yang sama sejak pertama kali dibuat.
Mie ongklok biasanya disajikan dengan lauk pendamping seperti tempe kemul, geblek, dan beragam sate: ayam, kambing, hingga sapi.
Menariknya, pada era 1980-an, lauk sate yang digunakan adalah sate dideh, sate dari darah hewan. Namun karena pertimbangan kepercayaan umat Muslim, digantikan oleh sate daging.
“Dulu tahun 1985-an masih menggunakan sate dideh, tapi orang tua saya memprakarsai penggunaan sate daging,” ujar Pak Waluyo, pemilik warung legendaris Mie Ongklok Longkrang.
Selain itu, tersedia pula minuman khas seperti teh tambi, teh racikan khas dari Perkebunan Wonosobo serta carica purwaceng, pelengkap sempurna untuk sajian ini.
Salah satu warung Mie Ongklok legendaris berada di Longkrang yang berdiri sejak 1975 kini menjadi destinasi kuliner wajib bagi wisatawan lokal maupun mancanegara.
Lokasinya berada di Jl. Pasukan Ronggolawe No. 14, Wonosobo. Warung ini bahkan mendapatkan penghargaan dari Tripadvisor berkat konsistensi rasa dan pelayanannya.
Pak Waluyo, penerus generasi kedua, menjaga cita rasa otentik yang diwariskan dari orang tuanya yang berdarah Tionghoa.
“Dahulu saya sangat susah mencari bahan-bahan untuk mie ongklok,terutama kucai. Saya harus mencari ditempat yang cukup jauh, berbeda dengan sekarang bahan-bahan mudah ditemukan. Bahkan sekarang tinggal pesan saja bahan bisa diantarkan,” ujar Pak Waluyo.
Harga satuan mie ongklok di Warung Mie Ongklok Longkrang ini hanya Rp.14.000, sedangkan harga menu pendamping seperti sate ayam yaitu Rp. 32.000, sate sapi Rp.34.000 serta gorengan Rp.2000.
Adapun minuman khas yang dijual disini yaitu carica purwaceng seharga Rp. 8000 dan teh tambi Rp. 5000.
“Mie ongklok ini wajib dicoba karena rasanya yang khas dan berbeda dari mie-mie yang lain, rasanya dari mie ongklok itu manis, kuahnya kental, pertama kali saya kira mie yang kuningnya itu seperti mie aceh ternyata setelah sudah saya makan mienya berbeda dengan mie aceh, dengan tekstur lebih kasar dan ukuran lebih pipih dibanding mie aceh,” tutur seorang wisatawan.
Kini, mie ongklok menjadi daya tarik tersendiri bagi pariwisata Wonosobo. Tak sulit menemukan penjual mie ongklok di sepanjang jalan menuju Dieng.
Namun, jika ingin menikmati pengalaman paling autentik, Warung Mie Ongklok Longkrang adalah pilihan utama yang wajib masuk dalam daftar kunjungan.
Penulis: Alifi Nita Sabaniatun
Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta
Editor: Anita Said
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI















