Pandemi global yang mengguncang dunia beberapa tahun lalu membuka mata kita bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan tidak bisa dipisahkan. Virus yang diduga berasal dari hewan berhasil menyebar ke seluruh penjuru dunia dan melumpuhkan berbagai sektor kehidupan.
Dari pengalaman pahit itu, dunia semakin sadar bahwa krisis kesehatan tidak bisa diselesaikan oleh satu profesi atau satu bidang ilmu saja. Di sinilah konsep One Health menjadi relevan—sebuah pendekatan kolaboratif yang menekankan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan adalah satu kesatuan yang saling bergantung.
Konsep One Health tidak lahir tanpa alasan. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan bahwa lebih dari 60 persen penyakit infeksi pada manusia berasal dari hewan, atau disebut zoonosis.
Rabies, flu burung, dan leptospirosis hanyalah beberapa contoh yang masih menjadi ancaman nyata di Indonesia. Ketika hewan peliharaan atau ternak tidak sehat, manusia pun ikut terancam. Sebaliknya, lingkungan yang rusak akibat deforestasi dan pencemaran dapat memicu munculnya penyakit baru yang belum pernah dikenal sebelumnya.
Di sinilah peran kedokteran hewan menjadi sangat penting. Profesi dokter hewan bukan hanya tentang menyembuhkan hewan peliharaan atau memastikan daging layak konsumsi.
Lebih dari itu, mereka berperan dalam menjaga rantai kesehatan masyarakat—mulai dari pengawasan penyakit menular, keamanan pangan asal hewan, hingga konservasi satwa liar. Dalam konteks One Health, dokter hewan bekerja berdampingan dengan dokter manusia dan ahli lingkungan untuk mencegah wabah sebelum terjadi.
Salah satu contoh nyata penerapan One Health di Indonesia adalah program vaksinasi rabies massal yang dilakukan di berbagai daerah.
Melalui kerja sama antara dinas peternakan, tenaga kesehatan, dan relawan mahasiswa, ribuan anjing dan kucing telah divaksin untuk menekan risiko penularan ke manusia. Pendekatan seperti ini bukan hanya menyelamatkan hewan, tetapi juga melindungi manusia dari penyakit mematikan yang selama ini diabaikan.
Inilah bentuk kolaborasi nyata yang sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 tentang “Good Health and Well-being” dan SDG 15 tentang “Life on Land.”
Namun, penerapan One Health di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Kesadaran masyarakat tentang keterkaitan antara kesehatan hewan dan manusia masih rendah. Banyak yang menganggap penyakit hewan tidak berbahaya bagi manusia, padahal kenyataannya sebagian besar wabah berawal dari sana.
Selain itu, koordinasi antarinstansi pemerintah kadang belum berjalan optimal. Birokrasi yang panjang dan keterbatasan sumber daya sering kali memperlambat upaya pencegahan penyakit zoonosis.
Sebagai mahasiswa kedokteran hewan, saya percaya generasi muda memiliki peran penting untuk memperkuat penerapan One Health. Mahasiswa bisa menjadi agen perubahan melalui kegiatan edukasi, penelitian, dan kolaborasi lintas bidang.
Misalnya, dengan mengadakan penyuluhan kesehatan hewan di desa, melakukan penelitian bersama fakultas kedokteran manusia tentang penyakit zoonosis, atau berpartisipasi dalam kampanye pelestarian satwa liar.
Keterlibatan aktif ini dapat membantu membangun kesadaran publik bahwa menjaga hewan dan alam sama pentingnya dengan menjaga manusia.
Lebih jauh, kampus juga berperan penting dalam menumbuhkan budaya kolaboratif. Fakultas kedokteran hewan seharusnya tidak berjalan sendiri, tetapi membuka ruang kerja sama dengan fakultas kedokteran, pertanian, dan ilmu lingkungan.
Melalui penelitian bersama dan proyek pengabdian masyarakat, mahasiswa bisa belajar berpikir secara holistik—memahami bahwa kesehatan dunia tidak bisa dijaga hanya dari satu sisi.
Baca Juga: 7 Alasan Mengapa Elemental Veterinary Hospital? Pilihan Terbaik untuk Perawatan Hewan Kesayanganmu
Masa depan dunia bergantung pada kemampuan kita untuk hidup berdampingan dengan hewan dan alam. One Health mengingatkan bahwa manusia bukan penguasa tunggal bumi, melainkan bagian dari ekosistem yang saling terhubung. Menyelamatkan dunia berarti menjaga keseimbangan antarsemua makhluk hidup.
Jika manusia terus mengabaikan kesejahteraan hewan dan kelestarian lingkungan, maka wabah berikutnya hanyalah soal waktu. Sebaliknya, jika kita belajar berkolaborasi dan saling menjaga, maka dunia yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan bukan lagi mimpi.
One Health bukan hanya konsep ilmiah, tetapi panggilan moral agar kita hidup dengan empati—untuk manusia, hewan, dan alam yang sama-sama ingin bertahan.
Penulis: Dewi Poedjawati
Mahasiswa Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












