Menurut pandangan saya, bencana alam yang sering terjadi di Provinsi Aceh merupakan peristiwa yang tidak dapat dipisahkan dari kondisi geografis dan sejarah kebencanaan wilayah tersebut.
Aceh berada di kawasan yang rawan terhadap berbagai jenis bencana alam, seperti banjir, banjir bandang, longsor, gempa bumi, dan tsunami. Kondisi ini menuntut adanya perhatian serius dan berkelanjutan dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah maupun masyarakat.
Saya melihat bahwa faktor alam memang memainkan peran penting dalam terjadinya bencana di Aceh. Letak Aceh yang berada di jalur pertemuan lempeng tektonik serta tingginya curah hujan di beberapa wilayah menjadikan provinsi ini memiliki tingkat kerawanan bencana yang tinggi.
Namun, menurut saya, faktor alam tersebut sering kali diperparah oleh aktivitas manusia, khususnya dalam pengelolaan lingkungan yang kurang memperhatikan prinsip keberlanjutan.
Dalam pandangan saya, alih fungsi hutan, pembukaan lahan di daerah hulu sungai, serta pembangunan permukiman di kawasan rawan bencana telah meningkatkan risiko terjadinya banjir dan longsor di Aceh.
Praktik-praktik tersebut menunjukkan bahwa kesadaran terhadap pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem masih belum sepenuhnya menjadi prioritas. Akibatnya, ketika bencana terjadi, dampaknya menjadi lebih luas dan merugikan masyarakat.
Saya juga berpendapat bahwa penanganan bencana di Aceh masih perlu diperkuat, khususnya dalam aspek mitigasi dan pencegahan. Meskipun pengalaman bencana besar seperti tsunami telah meningkatkan kapasitas kelembagaan dan kesadaran masyarakat, namun upaya mitigasi bencana lainnya, seperti pengelolaan daerah aliran sungai dan penataan ruang berbasis risiko, masih perlu ditingkatkan secara konsisten.
Baca juga: Banjir di Sumatera Bukan Semata dari Alam
Lebih jauh, saya memandang bahwa bencana alam di Aceh seharusnya dijadikan sebagai momentum untuk memperbaiki kebijakan pembangunan daerah.
Pembangunan yang berorientasi pada keselamatan masyarakat dan kelestarian lingkungan harus menjadi prioritas utama, bukan sekadar mengejar pertumbuhan ekonomi jangka pendek. Menurut saya, pendekatan pembangunan yang berkelanjutan merupakan kunci untuk mengurangi risiko bencana di masa depan.
Saya berpendapat bahwa bencana alam yang terjadi di Provinsi Aceh merupakan peringatan bagi semua pihak untuk lebih bijak dalam memperlakukan alam. Dengan meningkatkan kesadaran lingkungan, memperkuat mitigasi bencana, serta menegakkan aturan secara konsisten, saya meyakini bahwa dampak bencana dapat diminimalkan dan masyarakat Aceh dapat hidup lebih aman dan berkelanjutan.
Penulis: Risky Ardi Juanda
Mahasiswa Ilmu Hukum, Universitas Pamulang
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














