Banjir di Sumatra Bukan Semata dari Alam

banjir sumatra
Banjir di Sumatra Bukan Semata dari Alam. Dok. Penulis.

Banjir yang terjadi di beberapa wilayah di Sumatra salah satunya di Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatra Utara. Dalam beberapa hari terakhir ini. Air hujan yang lebat menyebabkan air sungai naik drastis ke pemukiman warga, sehingga rumah, harta, dan tanah pertanian habis dilenyapkan oleh banjir.

Ribuan warga terpengaruh, ada yang harus mengungsi, sedangkan aktivitas ekonomi dan pendidikan harus terhenti. Peristiwa ini merupakan bahwa banjir masih persoalan serius yang belum terselesaikan dengan baik sepenuhnya.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kejadian ini mungkin beberapa warga pertama kali merasakan banjir, namun walaupun pertama kali, banjir yang di rasakan itu sangat memprihatikan yang di mana warga harus kehilangan tempat tinggal, harta, dan tanah pertanian.

Yang paling menyedihkan yaitu anak-anak yang berada di luar kampung yang sedang melaksanakan pendidikan, yang di mana uang mereka terancam habis sedang di kampung aktivitas ekonomi warga terhenti dikarenakan adanya peristiwa banjir.

Banjir Bukan Sekadar Hanya  Faktor Alam

Hujan yang lebat dijadikan sumber utama terjadinya banjir di Sumatra Utara. Padahal, perlu kita sadari bahwa hujan yang lebat bukanlah penyebab utama tetapi kurangnya ke seimbang lingkungan, mulai dari kerusakan hutan dan pengalihan fungsi lahan yang mengakibatkan air hujan tidak terserap dengan baik. Hasilnya, sungai-sungai menaik kedaratan permukiman sehingga warga menjadi korban.

Bukti yang nyata bahwa hujan bukan penyebab utama banjir terlihat dari pohon-pohon yang begitu besar yang hanyut dibawa harus sungai saat terjadi banjir. Secara nalar, bahwa pohon yang begitu besar tidak mungkin tercabut dari akarnya jika tidak ada faktor kerusakan lingkungan, salah satunya pasti dari penebangan pohon yang lihar.

Akibat penebangan liar yang seharusnya akan menjadi penahan berujung menjadi penghantam pemukiman warga. Dengan kata lain, hujan bukanlah penyebab utama banjir, melainkan rusaknya keseimbangan lingkungan akibat dari kegiatan manusia yang berlebihan.

Pohon-pohon yang begitu besar seharusnya menjadi penghalang banjir namun karena kegiatan manusia yang berlebihan dan tidak menyeimbangi lingkungan pohon-pohon berkunjung menjadi menghancur pemukiman, dan akhirnya hujan yang lebat disalahkan.

Kondisi ini menegaskan bahwa banjir yang terjadi di Sumatra bukanlah hasil dari alam melainkan dari akumulasi manusia dan perilaku kebijakan yang mengabaikan keseimbangan lingkungan.

Baca Juga: Banjir Sumatra 2025: Bukan Alam, tapi Dosa Ekologis Manusia

Lemahnya Tata Kelola dan Penegakan Hukum

Salah satu penyebab banjir yang terjadi di Sumatra ialah kurangnya tata kelola lingkungan, terutama dalam mengendalian penebangan pohon.

Kegiatan penebangan pohon baik dengan legal atau ilegal, masih terus berlangsung tanpa adanya pengawasan yang ketat. Hanyutnya pohon-pohon yang begitu besar pada saat banjir melanda  menjadi bukti bahwa pengelolaan hutan tidak sepenuhnya berjalan dengan baik.

Padahal, hutan memiliki fungsi yang sangat penting sebagai daerah resapan air dan penahan aliran permukaan. Saat penutup hutan kurang, maka air hujan tidak terserap dengan baik namun langsung ke aliran sungai yang menyebabkan risiko banjir.

Padahal soal tentang aturan terkait perlindungan hutan sudah ada sejak dahulu, namun pelaksanaannya yang tidak berjalan dengan baik sepenuhnya. Penegakan hukum bagi pelanggar penebang pohon yang liar cenderung lemah dan tidak menimbulkan rasa jera sehingga penebang seenaknya menebang pohon.

Akibatnya, kerusakan hutan terus berlangsung, sementara dengan masyarakat harus menanggung dampaknya. Keadaan  ini mengabarkan bahwa banjir di Sumatra bukan semata persoalan alam, melainkan juga kegagalan atas pengelolaan dan menjaga lingkungan secara berkelanjutan.

Namun ketika banjir yang terjadi yang disalahkan ialah hujan yang lebat padahal sudah terlihat jelas kayu yang begitu besar hanyut terseret arus sungai dan seharusnya kayu-kayu tersebut menjadi bukti bahwa hujan bukan penyebab utama tetapi kurangnya ke seimbang lingkungan terutama penebangan pohon yang lihar.

Kejadian ini menunjukkan bahwa banjir yang melanda di Sumatra bukan persoalan alam, akan tetapi juga kegagalan atas tata kelola dan penegakan aturan yang seharusnya melindungi lingkungan dan kemaslahatan masyarakat.

Dampak Sosial Banjir

Banjir di wilayah Sumatra mengakibatkan dampak yang sosial yang serius dan berkepanjangan. Ribuan warga terpaksa mengungsi, kehilangan rumah, harta, tanah serta harus menyesuaikan diri dengan kondisi darurat yang tidak jarang berlangsung lama.

Kegiatan ekonomi warga terganggu, terutama kelompok rentan seperti petani, pedagang, dan pekerja harian yang tergantung pada kondisi lingkungan.

Saat banjir datang, penghasilan terhenti, sedangkan kebutuhan justru meningkat. Selain itu, kegiatan pendidikan juga harus terhenti, anak-anak terpaksa diliburkan, fasilitas pendidikan rusak, dan layanan kesehatan tidak berjalan dengan optimal. Jika keadaan ini berkepanjangan maka akan menyebabkan kesenjangan sosial.

Baca Juga: Penyebab Banjir di Sumatra dan Aceh

Kemudian kejadian banjir yang terjadi di Sumatra dampak bukan hanya yang terkena banjir saja tetapi di beberapa wilayah seperti, Kota Padang Sidempuan, Kabupaten Padang Lawas Utara dan Padang Lawas, karena akibat banjir jalan terputus sehingga kendaraan mobil yang membawa BMM harus berputar arah sehingga di beberapa wilayah menjadi susah seperti BMM ini langka, ketika BMM masuk masyarakat harus antri berjam-jam bahkan harus bermalam untuk mendapatkan BMM tersebut.

Jika dampak sosial banjir terus di abadikan maka bencana ini bukan hanya sekedar merusak lingkungan, tetapi juga menggerus kualitas hidup dan masa depan masyarakat Sumatra.

Penutup

Banjir yang terjadi melanda di Sumatra, salah satunya di Kabupaten Tapanuli Selatan seharusnya menjadi peringatan serius bagi kita semua.

Bencana ini tidak bisa kita salahkan semata dengan faktor hujan yang lebat, malainkan dampak lemahnya tata kelola lingkungan dan penegakan hukum, terutama dalam pengendalian penebangan pohon yang liar.

Selama kerusakan lingkungan dibaikan dan kebijakan tidak dijalankan dengan tegas, maka banjir akan terus menjadi ancaman bagi kehidupan masyarakat.

Oleh sebab itu, maka dibutuhkan langkah yang benar banar nyata dari pemerintah, aparat penegak hukum, dan masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan untuk memperbaiki pengelolaan sumber daya alam. Kesadaran bersama-sama akan menjadi kunci utama agar banjir tidak lagi terjadi di Sumatra.

Jika peringatan alam ini terus dibiarkan maka dampak yang ditimbulkan akan menjadi lebih besar dan merugikan bagi diri kita sendiri


Penulis: Mahddin Hsb
Mahasiswa Hukum Tata Negara UIN SYAHADA Padang Sidempuan
Aktif juga di organisasi Himmah Anggota


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi 

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses