Pendahuluan
Asetosal atau asam asetilsalisilat adalah golongan obat turunan salisilat. Nama sistematis IUPAC (International Union of Pure and Applied Chemistry). Asetosal adalah asam asetat asam 2-asetilbenzoat. Rumus molekul asetosal adalah C9H8O4, berat molekul 180,16 g/mol, kelarutan dalam air adalah 3 mg/ml (20 °C), titik leleh 135 °C, bubuk putih kristal, tidak berbau menyengat.
Stabil di udara kering; di dalam udara lembab secara bertahap terhidrolisa menjadi asam salisilat dan asam asetat (Kementerian Kesehatan RI., 2020). Asetosal yang sering dikenal dengan aspirin, digunakan di masyarakat luas sebagai pereda rasa nyeri (analgesik), penurun demam (antipiretik), dan peradangan (antiinflamasi).
Asetosal dalam dosis tinggi dapat menyebabkan berbagai efek samping, termasuk iritasi lambung, perdarahan, perforasi, dan kebocoran lambung, serta dapat menghambat aktivitas trombosit. Penentuan kandungan asetosal dalam formulasi sangat penting untuk pengujian kualitas produk sebelum dan selama proses pembuatan, serta setelah pembuatan produk jadi.
Baca Juga: Obat Amoxicillin,Tetrasiklin, Betahistine
Pengendalian mutu kandungan asetosal dalam sediaan farmasi perlu ditingkatkan dengan mengembangkan metode uji yang dapat memenuhi parameter validasi metode analisis. Penting juga untuk mengembangkan metode yang tidak terlalu sulit, lebih cepat, dan lebih murah.
Oleh karena itu, pada penelitian ini digunakan spektrofotometri UV-Vis untuk memvalidasi suatu metode penentuan kadar asetosal dalam sediaan farmasi.
Validasi analisis merupakan suatu tindakan penilaian terhadap parameter tertentu berdasarkan percobaan laboratorium, untuk membuktikan bahwa metode tersebut memenuhi persyaratan untuk penggunaannya (Sayuthi & Kurniawati, 2017).
Prosedur analisis dapat memberikan hasil data yang dipercaya jika memenuhi beberapa parameter validasi yang telah disyaratkan yaitu presisi, akurasi, batas deteksi (LOD), batas kuantitasi (LQD), linieritas, selektivitas dan ketahanan metode.
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan metode analisis penentuan kadar asetosal dalam tablet obat sakit kepala secara spektrofotometri UV-Vis menggunakan parameter uji linieritas, presisi, batas deteksi (LoD), batas kuantit (LoQ), dan nilai ketidakpastian pengukuran.
Hasil yang diharapkan adalah tersedianya data evaluasi kinerja spektrofotometri UV-Vis dalam penentuan kadar asetosal pada tablet obat sakit kepala, memastikan linearitas, presisi, LoD dan LoQ dari hasil metode analisis, dan menghindari bias, mengurangi risiko terjadinya penyimpangan.
Metode Penelitian
Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian adalah serbuk asetosal murni, sampel tablet asetosal, HCl pekat, larutan methanol, akuades, dan kertas saring.
Alat
Peralatan yang digunakan adalah Spektrofotometer UV-Vis, kuvet, timbangan analitik, labu ukur, beaker glass, gelas ukur, mortar dan stamper.
Prosedur Penelitian
Pembuatan larutan induk asetosal
Sebanyak 10 mg asetosal ditimbang hati-hati dan kemudian ditambahkan larutan 0,1 N HCl: metanol (1:1) dalam volume 50 ml ke dalam beaker glass. Asetosal dan pelarut kemudian diaduk dengan sampai larut sempurna.
Larutan yang dihasilkan kemudian dipindahkan ke labu ukur 100 mL dan 0,1 N HCl: metanol (1:1) ditambahkan sampai tanda batas pada labu ukur. Larutan dikocok hingga homogen untuk memperoleh larutan induk asetosal dengan konsentrasi 100 mg/L.
Pembuatan larutan standar asetosal
Larutan standar asetosal disiapkan pada berbagai konsentrasi 0, 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm yaitu dengan mengambil larutan induk asetosal 100 mg/L dengan konsentrasi sebanyak 0,2; 0,4; 0,6; 0,8; dan 1 mL secara berurutan.
Pipet dari setiap larutan induk asetosal ditempatkan dalam labu ukur 10 mL dan dikalibrasi sampai tanda batas dengan pelarut HCl: metanol 0,1 N (1:1). Bagian atas labu dibersihkan dan dikocok hingga homogen.
Pembuatan larutan sampel
Sampel tablet asetosal digerus halus kemudian serbuk sebanyak 50 mg dimasukkan ke dalam beaker glass 100 mL. Kemudian ditambahkan 50 mL HCl: metanol 0,1N (1:1) dan diaduk sampai larut sempurna. Larutan ditempatkan dalam labu ukur 50 mL dan ditera sampai batas dengan pelarut HCl 0,1 N: metanol (1:1).
Bagian atas labu ukur dilap dan dikocok hingga homogen. Langkah selanjutnya adalah menyaring dengan kertas saring. Diambil 1 mL filtrat yang dihasilkan dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL. Kemudian tambahkan 0,1 N pelarut HCl: metanol (1:1) ke dalam labu ukur sampai tanda batas. Lap tepi labu takar dan lanjutkan mengocok hingga homogen.
Panjang gelombang maksimum ditentukan dengan mengukur absorbansi larutan standar dengan konsentrasi 6 mg/L pada panjang gelombang 200-400 nm pada interval pengukuran 2 nm. Linearitas ditentukan dengan mengukur absorbansi dari kurva standar.
Selanjutnya kami membuat kurva kalibrasi, di mana sumbu x adalah perubahan konsentrasi standar yaitu 0, 2, 4, 6, 8, dan 10 ppm, dan sumbu y adalah respon absorbansi sampel untuk variasi konsentrasi. Presisi ditentukan dengan mengukur absorbansi standar asetosal 6 ppm dalam enam kali pengulangan pada panjang gelombang maksimum.
Penentuan konsentrasi (x) untuk setiap pengukuran diperoleh dengan menghitung nilai x yang diperoleh dengan persamaan regresi linier dari kurva standar, di mana y adalah nilai absorbansi larutan.
Baca Juga: Mekanisme Amlodipine dan Teofilin
Hasil dan Pembahasan
Penentuan panjang gelombang maksimum asetosal
Penentuan panjang gelombang maksimum sangat berpengaruh terhadap analisis kuantitatif dengan menggunakan spektrofotometer, karena perubahan konsentrasi yang kecil dapat menyebabkan perubahan besar absorbansi.
Hasil pengukuran panjang gelombang maksimum untuk asetosal adalah 237 nm bahwa hasil tidak berbeda jauh dengan yang diperoleh (Gujarathi, 2010) menunjukkan bahwa panjang gelombang maksimum asetosal adalah 232,98 nm.
Selain puncak maksimum asetosal, puncak dianion salisilat muncul pada panjang gelombang 304 nm. Hidrolisis dapat terjadi karena asetosal yang digunakan terhidrolisis sebagian akibat kelembaban yang dihasilkan selama proses penyimpanan.
Adanya absorbsi pada panjang gelombang ini mempengaruhi absorbansi sampel yang diukur. Absorbansi sampel pada panjang gelombang 237 nm akan berkurang. Hasil pengukuran kadar asetosal lebih kecil dari nilai sebenarnya. Hal ini dapat diminimalkan penyimpanan asetosal dalam kondisi tertutup tanpa terpengaruh oleh kelembaban sekitar (Kuntari et al., 2017).
Penentuan Linieritas
Linieritas menggambarkan kemampuan metode analisis untuk mendapatkan hasil pengujian sesuai dengan konsentrasi sampel yang terkandung dalam sampel rentang konsentrasi tertentu. Linieritas dapat diukur dengan melakukan pengukuran tunggal pada konsentrasi yang berbeda-beda.
Data yang diperoleh selanjutnya diproses dengan metode kuadrat terkecil, untuk selanjutnya dapat ditentukan nilai kemiringan (slope), intersep, dan koefisien korelasinya (Gandjar, G.H., dan Rohman, 2012). Penentuan linieritas dalam penelitian ini dilakukan dengan memvariasikan konsentrasi larutan standar dari 2 sampai 10 ppm.
Baca juga: Swamedikasi atau Pengobatan Sendiri saat Menangani Penyakit Maag
Kurva standar adalah metode standar yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi analit menurut peraturan hukum Lambert-Beer. Kurva standar ditentukan oleh serangkaian analisis. Hasil kurva kalibrasi linier asetosal dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1
Hasil Kurva Kalibrasi Linier Asetosal.

Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai R2 sebesar 0.9967. Hasil ini menunjukkan bahwa metode ini memiliki linearitas yang baik pada rentang konsentrasi 2-10 ppm. Persamaan regresi linier yang diperoleh pada tahap ini digunakan untuk menentukan kadar asetosal pada tahap selanjutnya.
Harga kemiringan yang diperoleh berdasarkan rumus regresi linier yang diperoleh adalah 0,0599 dan intersep adalah 0,0116. Nilai slope yang diperoleh dari perhitungan mencerminkan sensitivitas metode. Sensitivitas menggambarkan hubungan perubahan respons meter terhadap perubahan konsentrasi analit yang diukur, sehingga semakin sensitif metode analisis maka semakin mendekati satu nilai koefisien relasi. Hal ini ditentukan oleh kemiringan grafik kalibrasi.
Penentuan Kadar Sampel Asetosal
Dalam penelitian ini, penentuan kadar sampel asetosal ditentukan dengan mengukur absorbansi larutan standar dengan konsentrasi 6 mg/L sebanyak enam kali. Penentuan kadar dimaksudkan untuk menjamin mutu dan keamanan obat.
Pengukuran Limit of Detection (LOD) atau batas deteksi untuk memeriksa konsentrasi terendah yang dapat dideteksi alat dalam menentukan kadar asetosal. Data hasil pengukuran absorbansi dalam penentuan kadar sampel asetosal dengan metode spektrofotometer UV-Vis, dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1
Data Pengukuran Penentuan Kadar Asetosal.
| Pengulangan | Absorbansi | Konsentrasi (mg/L) | Kadar Sampel (%) |
| 1 | 0,155 | 5,6327 | |
| 2 3 4 | 0,155 0,155 0,155 | 5,6327 5,6327 5,6327 | 93,88 |
| 5 | 0,155 | 5,6327 | |
| 6 | 0,155 | 5,6327 |
Berdasarkan data pada tabel 1, menunjukkan bahwa persentase kadar sampel asetosal sebesar 93,88% telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh Farmakope Indonesia edisi VI yaitu tidak kurang dari 90% dan tidak lebih dari 110%.
Baca Juga: Macam-Macam Jenis Dosis Obat yang Perlu Diketahui
Penutup
Simpulan
Dari data hasil penelitian yang telah dilakukan, penentuan kadar sampel tablet asetosal dengan metode spektrofotometer UV-Vis memiliki hasil persentase kadar sebesar 93,88% yang menunjukkan kadar sampel telah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketetapan pada literatur.
Saran
Pengukuran asetosal menggunakan spektrofotometri UV-Vis ternyata memberikan kontribusi yang signifikan terhadap ketidakpastian pengukuran, sehingga penelitian dan pengembangan dapat dilakukan pengulangan secara akurat.
Demikianlah artikel yang membahas mengenai penetapan kadar parasetamol dengan spektrofotometri uv vis. Semoga bermanfaat!
Penulis: Veny Hayati
Mahasiswa DIII Farmasi, Politeknik Kesehatan Hermina, Jakarta, Indonesia.
Daftar Pustaka
Gandjar, G.H., dan Rohman, A. (2012). Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gujarathi, S. C. (2010). Simultaneous Determination of Aspirin and Ticlopidine in Combined Tablet Dosage from by First Order Derivative Spectroscopy, Area Under Curve (AUC) and Ratio Derivative Spectrophotometric Methods. International Journal of Pharmaceutical Sciences Review and Research, 3(1), 115–119.
Kementerian Kesehatan RI. (2020). Farmakope Indonesia Edisi VI. Jakarta: Kemenkes RI.
Kuntari, K., Aprianto, T., Noor, R. H., & Baruji, B. (2017). Verifikasi Metode Penentuan Asetosal Dalam Obat Sakit Kepala Dengan Metode Spektrofotometri Uv. JST (Jurnal Sains Dan Teknologi), 6(1), 31–40. https://doi.org/10.23887/jst-undiksha.v6i1.9398.
Sayuthi, M. I., & Kurniawati, P. (2017). Validasi Metode Analisis Untuk Penetapan Kadar Parasetamol Dalam Sediaan Tablet Secara Spektrofotometri Ultraviolet. Pharmacon, 4(4), 190–201.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













