Insiden ambruknya asrama dan masjid di Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo bukan sekadar tragedi teknis atau kelalaian konstruksi. Ini adalah cermin dari lemahnya tanggung jawab kolektif kita terhadap nilai bela negara dalam arti yang paling dasar yaitu tentang melindungi nyawa sesama warga bangsa. Bela negara bukan hanya soal mengangkat senjata, tapi juga memastikan setiap warga termasuk santri di pesantren dapat hidup aman dan terlindungi.
Dalam tragedi ini menelan 61 korban jiwa dan melukai 7 orang. Angka-angka itu bukan sekadar data, melainkan potret nyata bahwa budaya keselamatan (safety culture) di banyak lembaga masih lemah.
Izin konstruksi yang tidak jelas, pembangunan tanpa pengawasan teknis, hingga minimnya audit keselamatan menunjukkan bahwa kita masih menganggap keselamatan sebagai pelengkap, bukan kewajiban moral dan nasional.
Padahal, bela negara berarti menjaga keberlangsungan hidup manusia Indonesia sebagai aset bangsa. Ketika pembangunan dilakukan asal-asalan tanpa perhitungan risiko, artinya kita sedang mengabaikan nilai-nilai bela negara itu sendiri. Mengutamakan keselamatan bukan soal formalitas, tapi bentuk nyata cinta tanah air karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati kehidupan warganya.
Di sisi lain, kita harus memahami konteks di mana pondok pesantren beroperasi. Ponpes Al-Khoziny adalah salah satu pesantren besar yang menampung ratusan santri. Kebutuhan untuk menampung lebih banyak santri seringkali mendorong pembangunan dan renovasi yang dilakukan secara swadaya dan bertahap untuk menekan biaya.
Motivasi untuk memberikan pendidikan dan tempat tinggal yang layak bagi santri adalah nilai “pro” yang patut diapresiasi. Sebagaimana banyak lembaga pendidikan swasta, Ponpes seringkali bergerak dengan sumber daya finansial dan teknis yang terbatas, meski skalanya besar.
Impian untuk memajukan pendidikan agama diwujudkan dengan semangat gotong royong dan keinginan untuk membantu masyarakat. Namun, semangat pengabdian itu tidak boleh mengorbankan keselamatan. Justru di sinilah nilai bela negara diuji bagaimana setiap pengurus, santri, dan pemerintah saling bersinergi menjaga keselamatan bersama, sebagai wujud tanggung jawab terhadap bangsa.
Budaya ini bukan tentang menghabiskan banyak uang, melainkan tentang membangun kesadaran kolektif, disiplin, dan prosedur sederhana yang bisa menyelamatkan nyawa. Melakukan pemeriksaan struktur berkala, membatasi kapasitas hunian, dan tidak menambah lantai tanpa studi kelayakan adalah bentuk tindakan nyata dalam hal ini. Keselamatan harus menjadi bagian dari perencanaan strategis ponpes, bukan sekadar tambahan.
Sebagai pertimbangan di kemudian hari agar kejadian seperti ini tidak terulang ponpes besar bisa membentuk “facility safety team.” Tim kecil yang terdiri dari pengurus dan tenaga ahli untuk memantau bangunan, lapor kerusakan, dan koordinasi simulasi darurat.
Bayangkan kalau tim ini benar-benar jalan mereka bisa bikin risk mapping area-area rawan, misalnya titik-titik yang sering dilewati banyak santri atau lokasi yang struktur betonnya sudah mulai retak. Mereka juga bisa mengatur safety drill rutin setiap tiga bulan, sehingga ketika keadaan darurat beneran terjadi, semua orang sudah paham harus lari ke mana dan apa yang harus dilakukan.
Serta perlunya ahli yang benar-benar paham dalam hal teknik dan arsitektur, ponpes bisa membuka program relawan dari kampus-kampus disekitar. Ini bukan hanya tentang manajemen risiko, tapi bentuk bela negara berbasis komunitas gotong royong untuk melindungi nyawa dan martabat manusia.
Investasi terbesar dalam bela negara bukan senjata atau infrastruktur megah, melainkan kesadaran bahwa keselamatan manusia adalah prioritas utama pembangunan. Setiap pondok pesantren, sekolah, hingga lembaga sosial seharusnya menanamkan nilai ini dalam sistem dan kurikulum mereka. Karena bela negara sejati dimulai dari kepedulian kecil untuk mencegah kehilangan besar.
Tragedi Ponpes Al-Khoziny seharusnya menjadi pelajaran penting bahwa mencintai negeri tidak cukup dengan semangat, tetapi juga dengan tindakan nyata menjaga kehidupan warganya. Itulah makna bela negara yang sesungguhnya sederhana tapi mendasar dengan menjaga nyawa adalah bentuk tertinggi dari cinta tanah air.
Penulis: Imelda Eriska Putri
Mahasiswa Manajemen, UPN “Veteran” Jawa Timur
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













