Pengaruh Negatif Stigma terhadap Kesehatan Mental Seseorang

melawan stigma kesehatan mental
Pengaruh Negatif Stigma terhadap Kesehatan Mental Seseorang. Sumber: MMI.

Pendahuluan

Kesehatan mental masih menjadi isu sensitif di tengah masyarakat, terutama karena kuatnya stigma yang melekat pada individu yang mengalaminya. Stigma sering kali muncul dalam bentuk pelabelan negatif, prasangka, dan diskriminasi terhadap orang dengan gangguan kesehatan mental.

Magasi dan Hamdan (2023) menjelaskan bahwa rendahnya literasi kesehatan mental berkontribusi besar terhadap munculnya stigma, khususnya pada depresi.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Banyak individu masih menganggap masalah kesehatan mental sebagai kelemahan pribadi, bukan sebagai kondisi kesehatan yang perlu ditangani. Pandangan ini membuat isu kesehatan mental sulit dibicarakan secara terbuka.

Selain itu, stigma tidak hanya berdampak pada cara masyarakat memandang penderita, tetapi juga pada cara individu memandang dirinya sendiri. Menurut Magasi dan Hamdan (2023), stigma internal dapat memperburuk kondisi psikologis karena individu merasa malu, takut, dan enggan mencari bantuan.

Akibatnya, masalah kesehatan mental sering dipendam dan tidak tertangani dengan baik. Dalam konteks media massa, isu ini menjadi penting karena pemberitaan dan narasi publik turut membentuk persepsi masyarakat.

Oleh sebab itu, membahas dampak stigma terhadap kesehatan mental menjadi langkah awal untuk meningkatkan kesadaran bersama.

Baca Juga: Why Bipolar Disorder is Still Stigmatized Globally: A Political Perspective

Isi

Pertanyaan what dan who dalam isu ini berkaitan dengan apa itu stigma dan siapa yang paling terdampak. Oetomo dan Alfian (2024) menyebutkan bahwa stigma kesehatan mental sangat dirasakan oleh Generasi Z, yang berada pada fase pencarian jati diri dan rentan terhadap tekanan sosial.

Stigma membuat mereka merasa berbeda dan terisolasi dari lingkungan. Kondisi ini sering terjadi di sekolah, kampus, maupun media sosial. Akibatnya, individu dengan masalah kesehatan mental kerap memilih diam daripada mencari pertolongan.

Dari sisi why dan where, stigma muncul karena kurangnya pemahaman serta kuatnya norma sosial yang keliru. Oetomo dan Alfian (2024) menjelaskan bahwa lingkungan sosial yang tidak suportif menjadi faktor utama yang menghambat niat mencari bantuan kesehatan mental.

Stigma dapat ditemui di lingkungan keluarga, pertemanan, hingga institusi pendidikan. Ketika individu takut dicap “lemah” atau “bermasalah”, mereka cenderung menunda atau menghindari bantuan profesional. Padahal, penanganan dini sangat penting dalam menjaga kesehatan mental.

Baca Juga: Stigma Individu: Hanya Persepsi atau Luka Nyata bagi Kesehatan Mental?

Unsur when dan how terlihat ketika stigma berpengaruh langsung pada perilaku dan keputusan individu. Menurut Oetomo dan Alfian (2024), stigma bekerja secara halus namun konsisten, memengaruhi cara seseorang menilai kondisi dirinya sendiri.

Dalam jangka panjang, hal ini dapat memperparah gangguan yang dialami dan menurunkan kualitas hidup. Stigma juga membuat proses pemulihan menjadi lebih lambat karena kurangnya dukungan sosial. Dengan demikian, stigma bukan hanya masalah sikap, tetapi juga masalah kesehatan masyarakat.

Penutup

Stigma terhadap kesehatan mental memiliki dampak negatif yang serius bagi individu maupun masyarakat secara luas. Ia tidak hanya memperburuk kondisi psikologis seseorang, tetapi juga menghambat upaya pencarian bantuan yang seharusnya dilakukan.

Di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, stigma justru menjadi penghalang utama yang perlu diatasi.

Media massa memiliki peran strategis dalam menyebarkan informasi yang edukatif dan empatik. Dengan mengurangi stigma, masyarakat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman dan mendukung bagi kesehatan mental semua orang.


Penulis: Eirin Syahirah
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945


Dosen Pengampu: Drs. Widyatmo, M.S.I.


Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi 


Referensi

Magasi, N., & Hamdan, S. R. (2023). Studi literatur: Pengaruh literasi kesehatan mental pada stigma depresi. In Bandung Conference Series: Psychology Science (Vol. 3, No. 1, pp. 1–4).

Oetomo, N. W., & Alfian, N. I. N. (2024). Pengaruh stigma dalam intensi mencari bantuan kesehatan mental pada Generasi Z (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Daftar Isi dan Poin-Poin Artikel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses