Peningkatan Kesadaran dan Penerapan K3 pada Usaha Kecil Penjualan Makanan Kucing

Makanan Kucing
Ilustrasi Makanan Kucing (Sumber: Media Sosial dari freepik.com)

Usaha mikro dan kecil (UMK) memegang peranan penting dalam menopang perekonomian Indonesia. Sektor ini tidak hanya berperan dalam menciptakan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal.

Salah satu bentuk UMK yang sedang berkembang pesat ialah toko makanan hewan peliharaan, khususnya yang menjual pakan kucing. Walaupun berskala kecil dan tidak termasuk dalam kategori industri berat, kegiatan operasional di toko jenis ini tetap melibatkan aktivitas fisik serta pengelolaan barang yang memiliki risiko terhadap keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kesadaran terhadap penerapan K3 di UMK sering kali masih rendah karena dianggap hanya relevan bagi sektor industri besar seperti manufaktur, konstruksi, atau pertambangan. Padahal, aktivitas di toko makanan kucing pun memiliki potensi bahaya yang nyata.

Pekerja kerap melakukan pengangkutan dan pengangkatan karung pakan yang berat, menata barang di rak tinggi, bekerja di ruang sempit, hingga melakukan aktivitas berulang di kasir. Semua kegiatan tersebut dapat memicu risiko cedera otot, kelelahan, tergelincir, atau tertimpa benda berat jika tidak dilakukan dengan prosedur yang aman.

Sayangnya, banyak toko berskala kecil belum memiliki sistem manajemen K3 yang memadai. Pemilik maupun pekerja sering kali belum menyadari pentingnya keselamatan kerja dalam menjaga produktivitas dan keberlanjutan usaha.

Ketiadaan standar operasional prosedur (SOP), alat pelindung diri (APD), serta pelatihan kerja aman menyebabkan berbagai risiko kerja tidak teridentifikasi dan tidak tertangani dengan baik. Akibatnya, insiden kecil yang sebenarnya dapat dicegah justru bisa berpengaruh besar terhadap kesehatan pekerja dan stabilitas usaha dalam jangka panjang.

Contoh umum yang sering dijumpai adalah kegiatan mengangkat karung makanan kucing seberat 10–20 kilogram tanpa teknik ergonomis yang benar, sehingga berpotensi menyebabkan cedera punggung. Selain itu, tumpukan barang di rak yang sempit tanpa pengaman dapat jatuh dan mencederai pekerja, sementara area kerja yang padat dan kurang bersih meningkatkan risiko terpeleset.

Di sisi lain, pekerja kasir sering bekerja dalam posisi statis terlalu lama tanpa fasilitas ergonomis, yang dapat memicu gangguan sistem muskuloskeletal. Oleh karena itu, penerapan prinsip K3 sederhana seperti penataan ulang ruang kerja, penggunaan alat bantu angkut, serta penyusunan SOP kerja aman sangat penting dan dapat dilakukan tanpa biaya besar, menyesuaikan dengan kondisi UMK yang terbatas.

Baca juga: Membangun Komitmen Pencegahan Kecelakaan Kerja untuk Meningkatkan Kesejahteraan Pekerja

Berdasarkan kondisi tersebut, penting untuk dilakukan pengabdian masyarakat  mengenai “Peningkatan Kesadaran Dan Penerapan K3 Pada Usaha Kecil Penjualan Makanan Kucing”. Pengabdian ini dilakukan oleh Dosen D4 K3 Institu Kesehatan Helvetia, yang diketuai oleh Ibu Safrina Ramadhani, SKM, MKM, serta anggota Ibu Khoirotun Najihah, SKM, MKM dan Bapak Muhammad Crystandy, SKM, MKM di toko makanan kucing Shanpan Cat Shop Kota Medan.

Pengabdian ini mendapat sambutan baik dari pemilik toko dan pekerja. Setelah dilakukan penyuluhan, pelatihan, dan pendampingan, terjadi peningkatan pemahaman pemilik dan pekerja mengenai pentingnya penerapan K3 untuk menjaga kesehatan, keselamatan, dan kelangsungan usaha.

Sebelum kegiatan dilaksanakan, sebagian besar pekerja belum mengenal konsep dasar K3 dan belum memiliki kesadaran terhadap bahaya kerja yang mereka hadapi. Namun, pasca kegiatan, peserta mulai mampu mengidentifikasi potensi bahaya di tempat kerja serta memahami cara pencegahan kecelakaan dan penyakit akibat kerja sederhana.

Selain peningkatan pengetahuan, hasil nyata juga terlihat pada perubahan perilaku dan tata kelola tempat kerja. Pemilik usaha mulai menerapkan langkah-langkah sederhana seperti penataan ulang tata letak barang agar lebih ergonomis dan aman, menyediakan alat bantu seperti troli kecil untuk mengangkat karung makanan kucing, serta menyiapkan tempat penyimpanan yang lebih stabil untuk mengurangi risiko barang jatuh.

Beberapa pekerja juga telah menggunakan alat pelindung diri (APD) sederhana seperti sarung tangan dan sepatu kerja ringan saat bekerja. Perubahan ini menunjukkan adanya komitmen awal dalam menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman.

 

Penulis: Safrina Ramadhani
Dosen Institut Kesehatan Helvetia

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses