TikTok, dengan format video pendeknya, algoritma rekomendasi, dan praktik interaksi seperti duet, stitch, komentar, dan tagar, telah menjadi ruang budaya baru untuk menyebarkan gagasan feminis. Dengan pendekatan Kajian Budaya, kami memandang video-video ini bukan hanya sebagai teks audiovisual, melainkan sebagai praktik sosial yang menciptakan makna, identitas, relasi kuasa, dan kemungkinan perlawanan.
Analisis berikut mengeksplorasi bagaimana praktik budaya di TikTok mencerminkan, mempertahankan, atau menantang struktur kekuasaan dan ideologi, menggunakan konsep-konsep kunci seperti hegemoni (Gramsci), representasi dan identitas (Hall), wacana dan kuasa (Foucault), konflik makna, perlawanan, dan subkultur (Hebdige), serta pengaruh feminisme, pascakolonialisme, dan globalisasi.
Pendekatan Cultural Studies menekankan: (1) teks budaya diproduksi dan dikonsumsi dalam konteks sosial; (2) makna terbuka, diperebutkan oleh aktor sosial; (3) budaya adalah arena konflik simbolik; (4) praktik populer (popular culture) mengandung potensi reproduksi maupun perlawanan terhadap struktur kekuasaan.
Analisis ini menggunakan pembacaan teks-praktik (close reading terhadap format modalitas TikTok—sound, tempo, visual cut, caption, hashtag, interaksi duet/stitch) dan analisis konteks (institusional/platform, nilai sosial, ekonomi perhatian/monetisasi).
Baca juga: Dari Dapur Desa ke Layar TikTok: Perjalanan UMKM Sari Mina Segara Menjemput Pasar Digital
Hegemoni (Antonio Gramsci): Bagaimana Norma Gender Dipelihara dan Digugat
TikTok sebagai ruang reproduksi hegemoni: banyak video menyajikan norma gender populer —mis. ideal kecantikan, kewajiban reproduktif, heteronormativitas— yang tampak “alamiah” karena disebarkan berulang melalui tren, filter, dan influencer berpengaruh. Algoritma yang memprioritaskan engagement memberi amplifikasi pada konten yang resonan dengan norma dominan, sehingga praktik hegemoni tampak sebagai “kebiasaan” sehari-hari.
Negosiasi hegemoni oleh konten feminis: video-feminis menggunakan humor, ironi, dan juxtaposition (mis. meniru “advice” tradisional lalu membalik pesan) untuk memecah sentimen kebiasaan. Namun karena hegemoni adalah proses adaptif, bentuk-bentuk “diadaptasi” (cooptation) terjadi: istilah feminis bisa dijadikan estetika komoditas (merch, sponsorship) sehingga radikalisasi pesan terkikis.
Implikasi: keberhasilan menantang hegemoni tergantung dua hal: (a) kemampuan membangun koalisi makna (viralitas + resonansi), (b) memutus sirkulasi cooptation oleh mekanisme pasar/algoritma. Menurut Stuart Hall, representasi adalah proses sosial yang membentuk makna dan identitas.
Di TikTok, feminisme direpresentasikan melalui wajah-wajah tertentu: muda, berpendidikan, urban, dan sering kali berpenampilan “instagramable”. Representasi semacam ini memang memudahkan pesan feminisme diterima publik, tetapi juga mengaburkan kompleksitas identitas perempuan di luar kelas menengah kota besar.
Baca juga: Adanya Feminisme dan Ketimpangan Gender pada film “How To Make Million Before Grandma Dies”
Diskursus dan Kekuasaan (Foucault): Pembentukan Kebenaran dan Subjektivitas
Diskursus feminis di TikTok menghasilkan “kebenaran” mikro: mis. definisi pelecehan, consent, body positivity. Kekuatan diskursif muncul lewat repetisi, otoritas (akademisi/aktivis verified), dan endorsement.
Mekanisme normalisasi: komentar, likes, dan duets berperan sebagai teknik pengukuhan (disciplining) atau penolakan. Video yang mengatur “cara berpikir benar” (mis. tutorial consent) dapat men-subjektifikasi penonton: mereka membentuk diri sesuai norma diskursif baru.
Power/knowledge: platform (TikTok Ltd.) sendiri memegang peran—melalui content moderation, demotion/amplification—dalam menentukan diskursus mana yang “layak” beredar. Contoh: klaim palsu atau kritik terhadap kebijakan dapat dimoderasi; sementara konten ringan yang mempertahankan status quo sering lolos dan viral.
Budaya sebagai Arena Konflik Makna
Kontestasi tanda: tagar (hashtag) menjadi medan perebutan; misalnya #Feminism bisa dipakai untuk edukasi, satire, atau hate speech. Pengguna berbeda mengklaim definisi feminisme melalui remix, komentar, kontra-narasi.
Strategi pembacaan ganda: banyak video feminis memanfaatkan ambiguitas format TikTok—mis. menggunakan sound populer untuk menyampaikan kritik—menjadikan budaya populer sebagai medan perlawanan sekaligus tempat kompromi.
Konflik moral dan politik: perdebatan publik muncul dalam kolom komentar sebagai arena kecil deliberasi (sering polarisasi antara moderat vs. radikal, aktivis vs. reactionary).
Resistensi Budaya dan Subkultur (Dick Hebdige): Gaya, Tanda, dan Signifying Resistance
Gaya sebagai perlawanan: penggunaan kostum, make-up anti-norma, pakaian tidak-konvensional, atau genre musik tertentu di video feminis menjadi tanda subkultural yang menandai identitas kolektif.
Appropriation vs. authenticity: Hebdige menyatakan koteks subkultur sering diassimilasikan. Di TikTok terlihat: estetika perlawanan diambil oleh brand → menjadi tren fashion—melemahkan potensi subversif. Namun, bentuk-bentuk taktis (mendokumentasikan pengalaman sehari-hari, tutorial legal rights) menavigasi ini dengan lebih tahan lama.
Komunitas mikro: duet/stitch membentuk jaringan subkultural (micro-communities) yang saling memperkuat nilai bersama—mis. saling mempercayai pengalaman, memvalidasi identitas.
Feminisme, Postkolonialisme, dan Globalisasi: Konteks yang Saling Silang
Feminisme global vs. lokal: narasi feminis di TikTok sering mengedepankan istilah dan taktik yang populer di konteks Barat (body positivity, consent), tetapi ketika diterapkan dalam konteks post-kolonial atau masyarakat religius/komunal, terjadi terjemahan budaya—pesan diadaptasi, ditentang, atau direinterpretasi.
Poskolonial: perempuan di negara pascakolonial menghadapi lapisan opresi—patriarki lokal, warisan kolonialisme dalam institusi, norma yang dipengaruhi global media. TikTok memungkinkan transnasionalitas diskursus (hashtag global, influencer internasional), tetapi juga memunculkan resistensi lokal yang menegaskan kearifan setempat (mis. feminisme yang berbasis komuniti agama atau tradisi).
Globalisasi platform: algoritma dan budaya viral memfasilitasi penyebaran cepat gagasan, tapi juga homogenisasi gaya; gagasan lokal yang radikal seringkali di-flatten agar lebih “palatable” untuk audiens global.
Baca juga: Pemberdayaan Perempuan melalui Novel Ancika: Pencerahan Feminis di Dunia Sastra
Dampak Praktik Budaya: Merefleksikan, Mempertahankan, atau Menantang Struktur Kekuasaan
Ringkasan praktik dan efek:
Merefleksikan: banyak konten memperkuat standar kecantikan, konsumerisme, dan peran gender tradisional melalui tren yang repetitif.
Mempertahankan: cooptation oleh brand, viral yang memilih konten entertaining daripada kritis, moderasi yang menekan narasi berbahaya bagi status quo.
Menantang: edukasi cepat (rights, consent), testimoni penyintas, viralisasi solidaritas, pembentukan komunitas dukungan—semua itu mengganggu hegemoni dan memunculkan ruang untuk perubahan budaya.
Penulis: Putri Dwi Wahyu
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya
Dosen Pengampu: Dr. Merry Fridha., M.Si.
Editor: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












