Beberapa tahun terakhir dunia berlomba-lomba memperkenalkan teknologi terbarukan, akhirnya Indonesia mulai bergerak menggunakan teknologi kecerdasan buatan atau yang biasa dikenal dengan AI (Artificial Intelligence) dalam berbagai sektor.
Dimulai dari birokrasi, promosi pariwisata, hingga pembuatan iklan pemerintahan, sekarang semuanya dapat diselesaikan oleh kemampuan AI dengan menuliskan prompt dan menunggu hasil yang instan dalam hitungan detik.
Namun, apakah dengan perkembangan teknologi semua permasalahan dapat terselesaikan dengan baik dan cepat? Teknologi AI memang sangat mengagumkan, cepat, murah, dan efisien, akan tetapi sumber daya kecerdasan manusia perlahan akan hilang dan tidak dibutuhkan lagi.
Berdasarkan cara pandang seorang desainer muda, saat ini AI bukanlah sebagai alat bantu, melainkan representasi dari pergeseran nilai dalam etos dunia kerja. Pandangan dari SDGs 8 (Decent Work and Economic Growth) menegaskan pentingnya pekerjaan yang layak bagi semua manusia.
Sayangnya, AI mulai menggantikan peran manusia dalam industri kreatif sehingga prinsip tersebut perlahan memudar. Penggunaan AI di Indonesia umumnya sering ditemukan di tengah industri kreatif. Hal tersebut menuai banyaknya kontra yang berasal dari para desainer dan pekerja industri kreatif yang merasa bahwa posisinya terancam.
Hal tersebut dikarenakan proses pengerjaan yang dilakukan oleh AI dianggap bukan merupakan 100% hasil dari originalitas AI itu sendiri tetapi merupakan kumpulan ide yang sudah ada lalu dimodifikasi dan disesuaikan dengan tema yang diinginkan oleh pengguna.
Meskipun kecanggihan AI tidak dapat diragukan, sejatinya teknologi tetap memiliki kelemahan jika dibandingkan dengan tenaga kerja manusia. Menurut jurnal citrawira, Fadilla A.N (2023) “Problematika Penggunaan AI (Artificial Intellegence) di Bidang Ilustrasi: AI VS Artist”, Ide dan cara berpikir manusia serta solusi yang mereka hasilkan merupakan suatu hal yang tidak dimiliki oleh AI sehingga dapat menghasilkan karya seni yang unik dan memiliki nilai orisinalitas hal ini menjadi ciri khas pemikiran terbaik oleh manusia.
Saat ini, AI digunakan oleh banyak sektor periklanan pemerintahan Indonesia. Bagi desainer, hal tersebut dinilai tidak profesional, dikarenakan membatasi cara berpikir inovatif bagi generasi bangsa.
Banyaknya penggunaan iklan pemerintahan menggunakan AI membuktikan bahwa bangsa Indonesia cenderung ingin mendapatkan hasil yang instan dan cepat, dibandingkan meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang memiliki kemampuan inovatif dari para pekerja industri kreatif.
Ketika banyaknya bangsa di dunia yang berlomba-lomba membuat teknologi terbarukan yang hebat seperti mengembangkan AI, lantas mengapa Indonesia memilih untuk diperbudak oleh AI?
Sejatinya AI dibuat untuk mempermudah pekerjaan manusia, tidak untuk menggantikan setiap tugas sumber daya manusia. Indonesia harus banyak berbenah agar dapat memanfaatkan sumber daya manusia, sebab Indonesia memiliki banyak sekali generasi yang kreatif dan inovatif.
Menurut jurnal karya Nugroho P.S (2022) “Analisis Perkembangan Industri Kreatif di Indonesia”, Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai potensi dalam pengembangan industri kreatif baik di kawasan ASEAN maupun pasar dunia.
Selain mengancam pekerjaan bagi industri kreatif, AI juga berpotensi menyebabkan ketimpangan sosial bagi Indonesia di mata dunia. Ketika banyaknya masyarakat dunia yang berlomba-lomba untuk menyeimbangkan dan meningkatkan kualitas teknologi AI untuk bisa berdampingan dengan tenaga kerja manusia, Indonesia justru membuat ketimpangan dalam pertumbuhan ekonomi kreatif.
Banyaknya para pekerja industri kreatif yang kehilangan pekerjaan akibat penggunaan AI pada seluruh sektor periklanan dan industri kreatif di Indonesia telah membuat rekor baru banyaknya pengangguran.
Menurut jurnal karangan Dhyanasaridewi I.G (2020) “Analisis Digitalisasi Industri, Penciptaan Kesempatan Kerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka di Indonesia”, secara intuitif, masyarakat sangat menghawatirkan dampak dari digitalisasi, kedepannya akan menyebabkan pengurangan tenaga kerja secara massal akibat digantikannya tenaga manusia oleh komputer dan robot.
Kehadiran AI untuk membuka ruang kolaborasi, justru membangun tembok batasan tinggi untuk perkembangan sumber daya manusia yang kreatif. Ketimpangan tersebut perlu ditinjau lebih lanjut untuk dijadikan evaluasi untuk perkembangan ekonomi bagi sektor industri kreatif di Indonesia.
SDGs 8 ( Decent Work and Economic Growth ) akan terwujud apabila solusi yang diterapkan adalah dengan menggunakan kolaborasi aktif antara tenaga kerja manusia dan AI. Menggunakan AI sebagai sumber ide-ide kreatif, brainstorming, dan referensi agar dapat menciptakan sesuatu yang jauh lebih inovatif dan kreatif.
Kemudian diikuti dengan kebijakan etika dan perlindungan hak kerja bagi para pekerja industri kreatif, agar proyek pemerintah tetap melibatkan tenaga kerja manusia. AI akan membantu secara teknis dalam penggunaan ide baru, namun manusia akan memberikan sentuhan makna dan nilai dalam sebuah karya yang sesungguhnya.
Dengan hal tersebut, maka teknologi AI dan tenaga kerja industri kreatif dapat menciptakan masa depan yang lebih inovatif dan berwarna.
Penulis: Stefanie Catherine Imanuella
Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual, Universitas Brawijaya
Aktif Juga di Himpunan Mahasiswa Desain
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












