Manusia diciptakan dengan memiliki akal dan tanggung jawab dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini. Manusia menjadi salah satu ciptaan Tuhan yang unik, dikarenakan akan selalu ada sebuah pertanyaan yang datang dalam dirinya yang berasal dari kemampuannya dalam berpikir menggunakan akal sehatnya dan rasa ingin tahu yang besar.
Melalui cara berpikir dan rasa ingin tahunya tersebut, manusia berusaha untuk mencari tahu dan mempertanyakan apa yang ada di lingkungan sekitarnya. Mereka akan terus berpikir dan mencari kebenaran terhadap pertanyaan yang diciptakannya.
Dalam mencari kebenaran, manusia memiliki standar benarnya masing-masing, yang berarti ‘benar’ merupakan sebuah pengertian abstrak atau pengertian yang tidak bisa ditangkap oleh indera. Berpikir dan berinteraksi bisa menjadi cara untuk mecari kata ‘benar’ tersebut.
Memahami interaksi membutuhkan sebuah pengetahuan yang berperan untuk mewujudkan kebenaran yang hakiki tersebut.
Didukung oleh pernyataan John Rawls (2006 : 166), yang menyatakan bahwa, pandangan terhadap sesuatu jika tidak dibersamai dengan pengetahuan akan mengalami kesulitan. Untuk memperoleh pengetahuan dapat melalui Indera, filsafat, science, dan kepercayaan.
Filsafat merupakan ilmu yang mempelajari tentang kebebasan dalam berpikir untuk mengungkapkan suatu kebenaran. Filsafat dapat terbagi menjadi 2, yaitu filsafat sebagai sebuah proses dan filsafat sebagai produk.
Dinyatakan filsafat sebagai sebuah proses adalah proses pemecahan masalah atau pencarian solusi dengan menggunakan metode-metode filsafat. Jadi dapat disimpulkan, berfilsafat merupakan proses berpikir secara mendalam hingga ke akarnya.
Sedangkan filsafat sebagai sebuah produk merupakan bentuk perenungan yang berupa pengetahuan, teori, ilmu dari filsuf terdahulu, dan atau aliran tertentu. Mencari kebenaran melalui filsafat ilmu memiliki tujuan memperoleh kebenaran yang bukan hanya sebatas formal dan dangkal, tetapi kebenaran yang universal, substansif, serta mendalam.
Kebenaran juga memiliki jenis-jenisnya yang dikaji oleh A.M.W Pranarka, di antaranya, Kebenaran Semantikal atau kebenaran yang terdapat dalam tutur kata, Kebenaran Epistemologikal atau kebenaran yang melibatkan pengetahuan manusia, realita, dan kenyataan, serta Kebenaran Ontologikal atau kebenaran sebagai sifat dasar terhadap sesuatu yang sudah ada.
Menurut Aristoteles, seorang filsuf Yunani yang menjadi murid dari Plato, kebenaran merupakan sesuatu hal yang dapat dipikirkan atau kebenarannya masih bisa masuk di akal logis. Aristoteles menegaskan bahwa dalam pencarian kebenaran harus melibatkan rasionalitas dan pemikiran kritis.
Baginya, pengetahuan akan kebenaran akan sulit untuk dicari dan didapatkan, namun di satu sisi lainnya, kebenaran dapat ditemukan dengan mudah melalui kenyataan yang ada di sekitar. Dalam mencari kebenaran melalui filsafat ilmu, dapat dilakukan dengan cara mencari pengetahuan dan melakukan pendekatan secara empiris.
Aristoteles mengungkapkan bahwa metode dalam penemuan kebenaran terbagi menjadi dua, yakni metode deduktif dan metode induktif. Metode deduktif menyimpulkan sesuatu yang bersifat umum menjadi khusus, sedangkan metode induktif adalah sebaliknya.
Dengan demikian, dalam mencari dan mendapatkan kebenaran melalui filsafat ilmu, walaupun kebenaran bagi manusia memiliki standar masing-masing, tetapi jenis kebenaran apapun yang dicari, dimaksud, dan diyakini, harus menyertakan pengetahuan, berpikir kritis, dan rasionalitas.
Kebenaran melalui filsafat ilmu juga bisa dilakukan melalui pendekatan empiris. Menemukan kebenaran melalui filsafat harus memenuhi segala aspek, yakni aspek ontologis, epistimologis, dan aksiologis.
Penulis:
1. Wafiyah Hasnah
2. Junike Lestari
3. Jeanne Sharon
4. Alfian Muzaki
5. Johan Ricardo
6. Agung Ramadhan
7. Meirando Yesaya
8. Eka Megawati, S.Sos., M.I.Kom.
Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi (Broadcasting, Advertising, dan Public Relation) Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Profesi Indonesia (STIKOM PROSIA), Jakarta
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Sumber
Iksan Muchamad. Epistemologi Mencari Kebenaran Dengan Pendekatan Transendental. Universitas Muhammadiyah Surakarta : Surakarta.
Nurhidaya. 2022. KONSEPSI KEBENARAN MENURUT PLATO DAN ARISTOTELES. Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar : Makassar.
Yusron Muhammad dan Rozyan Azarine B. 2023. Relasi Pola Pikir Aristoteles dan Al-Kindi dalam Memahami Hakikat Tuhan. Jurnal Filsafat Indonesia, Vol 6 No 1 Tahun 2023 : Surabaya.
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI













