Suatu hari, ada anak kelas 3 SD pulang sekolah sendirian karena orang tuanya sedang telat menjemput.
Pas dia lagi jalan ke arah gerbang, tiba-tiba ada orang yang tidak dikenal menghampiri dan bilang, “Ayo ikut, mama kamu nyuruh saya jemput.”
Untungnya anak itu langsung curiga, karena ia ingat pesan gurunya bahwa nggak boleh ikut orang yang nggak dikenal.
Akhirnya dia lari ke warung dekat sekolah dan minta tolong. Warga sekitar langsung membantu dan menghubungi orang tuanya.
Orang yang mencurigakan itu pun kabur. Setelah kejadian itu, sekolah dan orang tua jadi lebih hati-hati (Saputri dkk., 2023).
Orangtua Wajib Tahu: Tips Penting Mencegah Penculikan Anak
Penculikan anak bukan lagi kasus yang hanya muncul sesekali di berita realitanya, ancaman ini bisa terjadi di mana saja dan kapan saja.
Modusnya pun makin beragam, mulai dari pura-pura mengenal orang tua, menawarkan hadiah, hingga memanfaatkan momen saat anak sedang sendirian.
Karena itu, orangtua perlu memahami cara-cara efektif untuk menjaga keamanan anak sejak dini.
1. Ajarkan Anak untuk Berani Berkata “Tidak”
Anak sering merasa sungkan menolak orang dewasa, terutama yang terlihat ramah. Padahal penculik sering menggunakan pendekatan halus.
Ajarkan anak bahwa mereka memiliki hak penuh untuk menolak ajakan apa pun dari orang yang tidak dikenal, meskipun orang tersebut tampak baik.
2. Jelaskan bahwa Orang Asing Tidak Selalu Berwajah “Jahat”
Banyak pelaku kejahatan justru tampil meyakinkan. Sampaikan kepada anak bahwa orang asing yang memberi hadiah, memuji, atau mengaku disuruh orang tua tetap harus diwaspadai.
Aturan emas: “Kalau bukan orang yang sudah papa/mama bilang aman, jangan ikut.”
3. Latih Anak Menghadapi Situasi Darurat
Anak perlu tahu apa yang harus dilakukan bila merasa diikuti atau diajak pergi. Latih mereka untuk:
Berteriak sekeras mungkin, lari ke tempat ramai dan mencari bantuan dari orang dewasa terpercaya (guru, satpam, penjaga toko)
Latihan kecil seperti roleplay di rumah bisa sangat membantu.
4. Biasakan Anak Melapor ke Orangtua
Buat kebiasaan sederhana: “Pergi mana, sama siapa, dan kapan kembali?”
Dengan begitu, kamu bisa memantau pergerakan anak tanpa membuat mereka merasa diawasi berlebihan.
5. Jangan Biarkan Anak Sendirian di Area Sepi
Area seperti parkiran, gang kecil, dan tempat umum yang sunyi adalah titik rawan. Pastikan anak selalu ditemani saat berada di lokasi semacam ini, terutama pada jam-jam yang tidak ramai.
6. Bekali Anak dengan Identitas & Kontak Darurat
Ajarkan anak menghafal: nama lengkap, alamat rumah, dan nomor telepon orang tua.
Atau berikan catatan kecil berisi kontak darurat yang disimpan di saku sekolahnya.
7. Awas Ancaman dari Dunia Maya
Foto, lokasi, atau informasi tentang rutinitas anak sebaiknya tidak dibagikan sembarangan. Modus penculikan zaman sekarang juga banyak dimulai dari media sosial.
8. Bangun Komunikasi Terbuka
Kunci utama adalah membuat anak merasa aman bercerita jika ada kejadian yang membuat mereka takut atau curiga. Semakin terbuka komunikasi di rumah, semakin kecil peluang anak terjebak situasi berbahaya.
Melindungi anak dari potensi penculikan bukan hanya soal kewaspadaan, tetapi juga tentang membangun kebiasaan, komunikasi, dan pemahaman yang tepat sejak dini.
Dengan langkah-langkah sederhana namun konsisten, orang tua dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak.
Pada akhirnya, keselamatan anak adalah prioritas utama dan tindakan kecil yang dilakukan hari ini dapat mencegah risiko besar di kemudian hari.
Penulis:
1. Chyntia Ramadhani
2. Najla Lutfya
3. Fadilah
4. Hilmy Ahmad Daini
Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Pamulang
Dosen Pengampu: Irma Sofiasyari, S.Pd., M.Pd.
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












