Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)

Pahami bagaimana PBB berkontribusi dalam menciptakan stabilitas dan keamanan dunia. Kunjungi kami untuk informasi lengkap tentang peran PBB.
Gambar ilustrasi dibuat dengan AI.

Sejak berdiri pada tahun 1945, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi simbol harapan baru bagi dunia yang hancur karena perang.

Di balik puing-puing perang dunia II, lahirlah lembaga yang punya cita-cita besar: menciptakan perdamaian abadi, menjunjung keadilan, dan menjaga hak asasi manusia, tapi setelah lebih dari 7 dekade berjalan, pertanyaannya masih sama-apakah PBB benar-benar mampu mewujudkan cita-citanya?

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bagi saya pribadi, PBB bukan hanya organisasi internasional, tapi juga cermin dari keinginan manusia untuk hidup damai.

PBB adalah panggung di mana semua negara-besar atau kecil-duduk bersama, berbicara, dan berdebat demi mencari solusi atas masalah dunia. Mulai dari konflik bersenjata, kemiskinan, perubahan iklim, hingga pandemi global, PBB selalu berusaha hadir di tengahnya.

Namun, idealisme tidak selalu berjalan mulus. PBB sering dikritik karena dianggap “tumpul” menghadapi kekuatan negara besar. Keputusan Dewan Keamanan, misalnya, sering kali dipengaruhi oleh kepentingan politik. Kadang terasa tidak adil ketika suara negara berkembang tak punya bobot sebesar negara-negara dengan hak veto.

Tapi di sisi lain, tanpa PBB, dunia mungkin akan lebih kacau, tak ada wadah resmi untuk berdialog, tak ada aturan global yang bisa menjadi pagar bagi perdamaian.

Meski begitu, kita tidak bisa menutup mata terhadap peran besar PBB dalam banyak hal. Melalui lembaga seperti WHO, UNICEF, UNESCO, dan UNHCR, jutaan nyawa tertolong.

Anak-anak mendapatkan pendidikan, korban perang mendapat perlindungan, dan negara-negara miskin mendapat bantuan kemanusiaan. Di balik kelemahannya, masih ada semangat kemanusiaan yang nyata.

Menurut saya, PBB adalah simbol bahwa dunia masih mau berusaha untuk bersatu. Di tengah perbedaan budaya, bahasa, dan kepentingan, PBB tetap menjadi ruang yang mengingatkan kita bahwa manusia itu satu keluarga besar. Ya, kadang rapuh, kadang berdebat, tapi tetap punya tujuan bersama: hidup damai dan saling menghormati.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa PBB bukan lembaga yang sempurna, tapi masih sangat dibutuhkan. Selama masih ada perang, keserakahan, dan ketidakadilan, PBB tetap menjadi lentera yang memberi arah-meski cahayanya kadang redup, ia tetap menyala untuk mengingatkan kita bahwa perdamaian adalah perjuangan yang tak pernah selesai.

Penulis:

Elsy Novitri Laot
Mahasiswa Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Pamulang

Dosen Pengampu: Dr. Herdi Wisman Jaya, S.Pd., M.H.

 

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses