Bangsa di masa depan tapi juga tidak bisa dipungkiri penanaman nilai dan karakter anak masih jauh pandang dari api. Berbagai kasus kekerasan yang telah dilakukan anak dan remaja jadi potret betapa nilai dan juga karakter yang baik belum mengakar pada sebagian generasi muda.
Jika dibiarkan negara akan langsung karna dikelola generasi bertabiat tak bermartabat, minimun nilai kejujuran dan lategritas yang kerap dipertontonkan para abdi negara tak dipungkiri buah dari lemahnya penanamanya karakter pada usia muda, seperti yang terjadi pada anak – anak berhadapan hukum yang direhabilitasi di sentra milik kementerian sosial.
Jika karakter tidak dibangun dan tumbuh dari dalam diri kita sendiri tentu juga tidak bisa kita pungkiri sebagai warga Indonesia menikmati Indonesia emas ini. Persoalan karakter anak bangsa menghantui di antaranya ada minim integritas, ketidakjujuran, perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.
Minimum nilai kejujuran dan integritas yang kerap di pertontonkan para abdi negara tak lagi di pungkiri buah dari lemah nya penanaman karakter pada usia muda, seperti yang terjadi pada anak-anak yang telah berhadapan langsung dengan hukum yang direhabilitas di sentra milik kementerian sosial.
Di sentra handani ada sekitar 59 anak berhadapan hukum yang direhabilitas, mayoritasnya adalah pelaku tawuran, salah satunya (NM) Ia adalah pelaku tawuran yang berusia 14 tahun lulusan SD ini terlibat dalam tawuran menimbulkan korban jiwa.
Baca Juga: Peran Orang Tua dalam Pembentukan Karakter Anak di Lingkungan Keluarga
8 bulan lalu setelah divonis 1 tahun penjara oleh pengadilan negri Jakarta barat, ia ditunjuk untuk rehabilitasi di sentra handayani sudah 10 tahun (NM) ikut tawuran, ia bahkan membeli senjata tajam untuk qaqah-qaqahan. Minimnya perhatian dari keluarga dan peran besar dalam terbentuknya watak dan kekerasan para diri (NM), sejak usia 7 tahun ia tidak merasakan lagi perhatian dari keluarga.
Darurat Pendidikan Karakter
- Berkas kependidikan
- Berkas sosial
- Berkas perkotaan
- Berkas lingkungan
- Berkas kriminal
- Berkas prostitusi
- Berkas kompas
Pendidikan karakter masih dianggap remeh bagi sebagian orang, padahal pendidikan karakter menentukan integritas bangsa. Wajah-wajah anak yang masih duduk di bangku pelajar inilah yang akan menjadi motor penggerak bangsa.
Di tangan merekalah masa depan bangsa akan diserahkan, karna apa yang ditanamkan untuk mereka dihari ini akan menentukan wajah bangsa di masa depan tetapi juga tidak dilakukan anak dan remaja jadi tidak bisa di pungkiri penanaman nilai dan karakter anak masih jauh pandang dari api.
Komisi perlindungan anak Indonesia (KPAI) mengucapkan sepanjang 2016-2022 hampir 3000 anak berhadapan dengan hukum, anak sebagai pelaku kekerasan seksual dan anak sebagai pelaku penganiayaan kekerasan fisik menempati peringkat 2 teratas.
Founder rumah perubahan menyoroti 2 karakter utama yang masih menjadi masalah di negeri ini. Persoalan baru-baru ini munculnya generasi strawberry parents, strawberry generation yang mengakibatkan anak-anak muda ini hanya difokuskan para memperoleh pendidikan tinggi, tetapi tidak hanya banting. strawberry itu indah, bagus tetapi tidak kuat.
Seperti membesarkan bibit karakter anak perlu dipupuk dan dirawat secantik mungkin, nilai yang ditanamkan pada masa tumbuh kembang anak jadi fase penting untuk pembentukan karakter. Tanpa ragu siswa-siswi memilah dan memilih sampah organik untuk dijadikan kompos tanaman dan siswa yang lain gotong royong untuk memanen ikan hasil budidayanya.
Baca Juga: Kenapa Karakter seperti Thomas Shelby Selalu Dikagumi?
Kegiatan ini menjadi agenda rutin sebelum belajar siswa menggelar kegiatan pembiasaan dengan agenda yang bervariasi setiap harinya. Pihak sekolah menyebut kegiatan ini merupakan pengaplikasian pendidikan karakter, dari kegiatan pembiasaan tersebut setidaknya ada 4 nilai yang ingin dicapai yaitu salah satunya adalah berakhlak mulia, gotong royong, mandiri dan kreatif/ tidak hanya melalui kegiatan pembiasaan dilapangan, pendidikan karakter juga diselipkan di mata Pelajaran sehari-hari.
Pendidikan Karakter di Sekolah Swasta
Mendatangi sekolah Cikal di Lebak Bulus Jakarta Selatan, bukan sembarang berhitung, siswi kelas 5 SD cikal sedang hitung-hitungan soal modal untuk disiapkan untuk kegiatan market day, kegiatan ini dilakukan rutin 1 tahun sekali, yang bertujuan agar anak punya karakter kreatif mengembangkan kemampuan analisis untuk mengasah kejujuran, sekolah cikal mendorong anak untuk belajar jujur dari diri sendiri.
Setiap anak menggunakan medium jurnal harian untuk menuliskan apa saja sebagai bentuk refleksi diri. Penguatan karakteristik di sekolah cikal juga terlihat dari metode belajar di mana anak bisa menentukan sendiri apa yang ingin dipelajari, penataan ruang juga diperhatikan untuk menunjang pembelajaran dan penguatan karakter.
Sebagian besar generasi milenial lebih akrab dengan posisi tempat duduk yang menghadap kedepan posisi kelas atau kea rah guru, tapi di sekolah cikal tempat duduk siswa tidak pernah membuat menetap, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan anak.
Prinsip Sekolah Cikal
Murid memimpin proses pembelajarannya sendiri
Pendidikan karakter tidak bisa diterapkan secara parsial
- Tolak ukur
kita tidak akan bisa mewujudkan sumber daya manusia yang unggul kalau pendidikan di Indonesia belum bebas dari kekerasan.
Dimensi Pelajar Pancasila
- Beriman, bertakwa kepada tuhan yang maha esa dan berakhlak mulia
- Berkebhinekaan global
- Bergotong royong
- Mandiri
- Bernalar kritis
- Kreatif
Kekerasan masih dinilai menjadi lembaga hitam didunia pendidikan, sejumlah program dilakukan untuk melatih guru dan menguatkan karakter murid untuk mencegah kekerasan didunia pendidikan yaitu perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi.
Anak didorong untuk menjadi agen perubahan agar pencegahan kekerasan bisa dilakukan secara berkelanjutan. Bentuk program pendidikan karakter diserahkan ke setiap sekolah.
Sangat penting dalam membangun hubungan yang positif dan meningkatkan kesadaran diri diantaranya,
- Jangan meremehkan, seperti menghargai perbedaan, pasti setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan. Menghargai perbedaan ini untuk membantu kita supaya tidak meremehkan orang lain.
- Dampak dari meremehkan orang lain bisa menyebabkan perasaan rendah diri pada mereka dan merusak hubungan.
- Menjadi diri sendiri, keaslian menjadi diri sendiri berarti menerima dan menghargai siapa kita sebenarnya tanpa perlu berpura-pura membangun kepercayaan diri dengan menjadi diri sendiri kemudian menghargai orang lain, seperti empati untuk menghargai orang lain berarti memahami perasaan dan perspektif mereka, dan mengembangkan hubungan positif dengan cara menghargai orang lain.
Baca Juga: Pendidikan Kita Hari Ini: Antara Harapan Besar dan Kenyataan di Lapangan
Persoalan karakter anak bangsa menjadi tantangan serius dalam upaya mewujudkan Indonesia emas 2045. Saat ini berbagai krisis moral seperti rendahnya kejujuran, kedisiplinan, tanggup jawab serta maraknya sikap intoleransi dan kekerasan di kalangan generasi muda menjadi hambatan bagi pembangunan karakter bangsa.
Lemahnya keteladanan dari lingkungan keluarga, pendidikan,dan masyarakat memperparah pondasi ini,tanpa pembenahan yang serius terhadap persoalan karakter, cita-cita Indonesia emas akan hanya menjadi angan. Oleh sebab itu, investasi pada pembentukan karakter anak bangsa, langkah strategis dan mendesak untuk memastikan masa depan bangsa yang lebih baik dan bermanfaat.
Penulis: Rahma Oktariani
Mahasiswa Program Studi S1 Manajemen Universitas Dharmas Indonesia
Dosen Pengampu: Dr. Amar Salahuddin, M.Pd.
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












