Abstrak
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk merancang dan mengimplementasikan mesin pencacah daun jagung sebagai solusi teknologi tepat guna untuk meningkatkan efisiensi pengolahan pakan bagi peternak di Dusun Wringinanom, Desa Simbaringin, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur.
Permasalahan awal yang diidentifikasi adalah proses pencacahan pakan yang masih dilakukan secara manual, sehingga memerlukan tenaga besar dan menghasilkan potongan yang tidak seragam. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan, wawancara dengan aparatur desa dan kelompok tani, serta perancangan alat secara partisipatif.
Hasil dari kegiatan ini adalah pengembangan mesin pencacah dengan daya 200 watt, yang mampu mencacah 70–100 kg bahan hijauan per jam. Mesin ini mudah digunakan, hemat energi, dan aman dioperasikan oleh peternak.
Uji coba menunjukkan bahwa mesin menghasilkan potongan seragam berukuran 2–5 cm dan mendapatkan respon positif dari mitra.
Inovasi ini terbukti menggantikan metode pencacahan manual, meningkatkan produktivitas peternak, serta mendorong pemanfaatan limbah pertanian secara berkelanjutan. Mesin ini juga berpotensi direplikasi oleh masyarakat desa lain melalui panduan teknis yang telah disusun.
Kata Kunci: Pencacah, TTG, Mesin, Pakan, Ternak
Abstract
This community service activity aims to design and implement a corn leaf chopper machine as an appropriate technology solution to improve feed processing efficiency for smallholder farmers in Dusun Wringinanom, Desa Simbaringin, Mojokerto, East Java.
The initial problem identified was that local farmers still process corn leaves manually, resulting in high energy consumption and inconsistent feed size. The method used included field observation, interviews with village officials and farmer groups, and participatory equipment design.
The result of this activity is the development of a compact corn leaf chopper, powered by a 200-watt electric motor, capable of chopping 70–100 kg/hour of forage materials. The machine is easy to operate, safe, and energy-efficient.
Field tests show that the machine produces evenly sized cuts of 2–5 cm and is well received by the farmer group. The machine successfully replaces manual processing methods, improves productivity, and encourages sustainable use of agricultural waste as ruminant feed. This innovation is expected to be replicated by other rural communities through the guidance booklet and technical illustrations provided.
Keywords: Chopper, Appropriate Technology, Machine, Feed, Livestock
Pendahuluan
Pakan ternak merupakan salah satu komponen kunci dalam usaha peternakan ruminansia seperti kambing dan sapi, karena berperan langsung terhadap produktivitas dan kesehatan hewan (Amaliah et al., 2023). Di pedesaan, peternak sering menghadapi tantangan dalam memperoleh pakan yang berkualitas, terjangkau, dan mudah diperoleh sepanjang tahun (Retnani et al., 2010).
Salah satu sumber pakan potensial yang melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal adalah daun jagung, yang biasanya dibuang begitu saja setelah panen (Nurin et al., 2017).
Padahal, daun jagung memiliki kandungan serat kasar yang cukup tinggi dan dapat menunjang kebutuhan serat bagi ruminansia jika diolah dengan tepat, misalnya melalui fermentasi atau pengolahan fisik seperti dijadikan wafer (Retnani et al., 2010).
Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan klobot atau daun jagung dalam ransum hingga 20% dapat meningkatkan palatabilitas dan daya serap pakan tanpa menurunkan densitas atau nilai nutrisi (Retnani et al., 2010).
Oleh karena itu, pengembangan teknologi dan edukasi kepada peternak tentang pemanfaatan limbah pertanian seperti daun jagung sangat penting untuk meningkatkan efisiensi pakan lokal.
Baca juga: Optimalisasi Pengolahan Hasil Bumi dan Pembuatan Silase dari Limbah Pertanian
Di Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, terdapat setidaknya empat orang peternak aktif yang memelihara kambing dan sapi sebagai sumber pendapatan utama maupun tambahan keluarga.
Kegiatan beternak ini menjadi bagian penting dari ekonomi rumah tangga, baik untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari maupun sebagai tabungan jangka panjang. Namun, dalam praktiknya, para peternak masih menghadapi berbagai kendala teknis, terutama dalam pengolahan pakan hijauan seperti daun jagung yang tersedia melimpah pasca panen.
Selama ini, proses pencacahan daun jagung masih dilakukan secara manual menggunakan parang atau pisau dapur. Metode tradisional ini memakan waktu yang lama, membutuhkan tenaga fisik yang besar, dan sering kali menghasilkan potongan daun yang tidak seragam.
Akibatnya, proses konsumsi oleh ternak menjadi kurang optimal, yang pada gilirannya dapat memengaruhi efisiensi pencernaan dan pertumbuhan hewan. Ketergantungan pada teknik manual juga membatasi kapasitas peternak untuk meningkatkan jumlah ternak atau memanfaatkan sumber pakan secara maksimal.
Menanggapi permasalahan tersebut, tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Kelompok R-18 Subkelompok 05, menggagas solusi dengan merancang dan mengimplementasikan mesin pencacah daun jagung yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi masyarakat desa.
Mesin ini dikembangkan berdasarkan prinsip teknologi tepat guna (TTG), dengan desain yang ringkas, hemat energi, mudah dioperasikan, serta terbuat dari bahan-bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Penerapan TTG ini ditujukan agar alat dapat dirakit secara mandiri di bengkel lokal dan mudah diperbaiki jika mengalami kerusakan.
Melalui inovasi ini, diharapkan para peternak dapat menghemat waktu dan tenaga dalam menyiapkan pakan hijauan, sekaligus meningkatkan kualitas dan konsistensi bahan pakan yang diberikan kepada ternak.
Tidak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat desa, mendorong kemandirian peternak dalam mengelola limbah pertanian seperti daun jagung, dan membuka ruang bagi kolaborasi antarwarga untuk mengembangkan inovasi-inovasi serupa.
Dengan demikian, program ini diharapkan memberikan dampak positif tidak hanya secara teknis, tetapi juga secara sosial dan ekonomi dalam jangka panjang.
Kajian Literatur dan Pengembangan Hipotesis
Teknologi Tepat Guna dalam Peternakan
Teknologi Tepat Guna (TTG) adalah penerapan teknologi sederhana yang sesuai dengan kondisi, kebutuhan, dan kemampuan masyarakat lokal. Dalam bidang peternakan, TTG sering diaplikasikan untuk meningkatkan efisiensi usaha ternak dengan alat yang hemat energi, murah, dan mudah dirawat (Wahyuni & Dewi, 2018).
Konsep ini penting terutama bagi peternak kecil di daerah pedesaan yang memiliki keterbatasan modal dan akses terhadap teknologi industri.
Penerapan TTG bukan hanya mempermudah pekerjaan, tetapi juga mendukung pemberdayaan masyarakat agar lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan produksinya.
Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, TTG memungkinkan peternak mengembangkan alat atau sistem yang sesuai dengan kapasitas dan kemampuan teknis mereka. Keberadaan teknologi ini juga mendorong proses pembelajaran dan inovasi di tingkat masyarakat karena sifatnya yang mudah ditiru dan dikembangkan.
Dalam konteks pengolahan pakan, TTG berperan dalam menyediakan solusi yang dapat dioperasikan secara lokal tanpa tergantung pada teknologi mahal atau kompleks.
Mesin pencacah sederhana, fermentor skala rumahan, hingga pemotong rumput manual menjadi contoh implementasi nyata TTG yang sangat bermanfaat di tingkat peternak kecil. Alat-alat ini tidak hanya membantu menghemat waktu dan tenaga, tetapi juga meningkatkan kualitas hasil pakan yang diberikan kepada ternak, serta mendukung pola produksi yang lebih berkelanjutan dan efisien.
Mesin Pencacah Pakan
Salah satu bentuk penerapan TTG dalam peternakan adalah pengembangan mesin pencacah bahan pakan. Studi di Desa Mentaras menunjukkan bahwa mesin pencacah rumput dengan motor listrik 1 HP mampu mencacah hingga 100 kg/jam rumput basah dan menghasilkan potongan seragam ukuran 3–4 cm, yang sangat membantu efisiensi penyajian pakan (Mahardika et al., 2022).
Mesin seperti ini dinilai cocok bagi peternak lokal karena mudah dibuat, dirakit, dan dioperasikan bahkan oleh pengguna dengan keterampilan teknis terbatas.
Riset lain oleh Hadiyanto et al. (2020) mengembangkan mesin pencacah serbaguna menggunakan bahan rangka besi siku dan pisau baja tahan karat, yang mampu mencacah berbagai jenis bahan seperti rumput gajah, jerami, hingga daun pepaya. Efisiensi waktu pencacahan meningkat hingga 70% dibanding cara manual, serta mengurangi risiko luka kerja akibat penggunaan alat tajam secara tradisional.
Desain mesin pencacah pada umumnya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna di lapangan. Beberapa faktor utama yang dipertimbangkan meliputi daya dan putaran motor, jumlah dan bentuk pisau, bahan rangka, serta posisi corong masuk dan saluran keluar.
Semakin sederhana, ringan, dan modular desain mesin, semakin besar peluang adopsinya di tingkat peternak desa. Hal ini karena mesin yang mudah dibongkar-pasang dan dirawat akan lebih diminati dan berkelanjutan dalam penggunaannya.
Pemanfaatan Limbah Daun Jagung sebagai Pakan
Daun jagung atau klobot merupakan limbah pertanian yang melimpah pasca panen, namun seringkali tidak dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, klobot mengandung serat kasar yang berguna bagi ruminansia (Nurin et al., 2017). Pengolahan daun jagung secara fisik seperti pencacahan atau pembuatan wafer terbukti meningkatkan palatabilitas dan kecernaan pakan (Retnani et al., 2010).
Menurut Retnani et al. (2012), pencampuran klobot jagung dalam ransum hingga 20% tidak menurunkan nilai nutrisi dan dapat memperbaiki daya serap serta efisiensi pemberian pakan. Selain itu, limbah ini bersifat musiman dan gratis, sehingga sangat menguntungkan dari sisi ekonomi(Retnani et al., 2010).
Beberapa daerah telah mulai mengembangkan inovasi berbasis limbah pertanian, termasuk daun jagung, dengan berbagai metode seperti fermentasi, pencampuran dengan konsentrat, hingga pengolahan mekanik menggunakan mesin pencacah.
Langkah-langkah ini bertujuan untuk menjadikan klobot sebagai sumber pakan berkelanjutan, terutama dalam menghadapi fluktuasi ketersediaan hijauan, seperti saat musim kemarau. Dengan pengolahan yang tepat, daun jagung tidak hanya menjadi alternatif pakan, tetapi juga solusi strategis dalam sistem peternakan yang efisien dan berdaya saing.
Metode
Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan kualitatif deskriptif. Pendekatan ini dipilih untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai kebutuhan dan permasalahan peternak dalam pengolahan pakan, serta untuk mendeskripsikan proses perancangan dan implementasi teknologi tepat guna berupa mesin pencacah daun jagung.
Melalui pendekatan ini, data dikumpulkan secara langsung melalui observasi lapangan, wawancara dengan warga lokal (khususnya kelompok peternak dan kepala dusun), serta dokumentasi kegiatan. Pendekatan kualitatif deskriptif ini bertujuan untuk:
- Menggambarkan secara rinci tahapan perencanaan, perancangan, hingga pengujian mesin pencacah yang dikembangkan.
- Mengidentifikasi kebutuhan teknis dan sosial masyarakat, khususnya terkait pengolahan pakan ternak berbasis limbah pertanian.
- Menganalisis efektivitas kolaborasi antara mahasiswa KKN dan masyarakat dalam mengadopsi teknologi tepat guna di sektor peternakan.
Dengan pendekatan ini, diharapkan hasil yang diperoleh tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mampu memberikan gambaran menyeluruh tentang dampak sosial, kemudahan adopsi alat, serta potensi replikasi program di wilayah lain.
Lokasi Kegiatan
Lokasi pelaksanaan kegiatan pengabdian ini adalah di Dusun Wringinanom, RT 02/ RW 01, Desa Simbaringin, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, 61383.

Wilayah ini menjadi mitra Sub-Kelompok 5 dari Kelompok R-18 KKN Regular Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya karena memiliki potensi peternakan dan pertanian yang cukup tinggi, namun masih minim pemanfaatan teknologi tepat guna dalam pengolahan pakan ternak.
Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah proses pencacahan daun jagung sebagai pakan ternak yang masih dilakukan secara manual, sehingga menyita banyak tenaga dan waktu. Oleh karena itu, program pengabdian ini berfokus pada perancangan dan implementasi mesin pencacah daun jagung skala rumah tangga yang hemat energi dan mudah digunakan.
Waktu pelaksanaan program KKN berlangsung sejak tanggal 13 Juli hingga 24 Juli 2025, dengan tahapan kegiatan sebagai berikut:
- Pembagian anggota Sub-Kelompok 5
- Survei dan observasi awal ke lokasi Dusun Wringinanom
- Koordinasi dan wawancara dengan Kepala Desa dan Kepala Dusun selaku perwakilan peternak
- Identifikasi masalah dan potensi desa
- Perencanaan program kerja: rancang bangun mesin pencacah daun jagung
- Validasi program kerja kepada Kepala Dusun, Kepala Desa, dan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL)
- Pelaksanaan proses desain dan pembuatan mesin
- Uji coba alat dan sosialisasi penggunaan mesin kepada kelompok peternak
- Monitoring hasil serta dokumentasi kegiatan
- Evaluasi dan penyusunan buku panduan operasional mesin
Mitra Kegiatan
Mitra dalam kegiatan ini adalah kelompok tani dan ternak yang berada di bawah koordinasi Kepala Dusun Wringinanom. Kepala Dusun juga berperan sebagai perwakilan dari petani sekaligus peternak lokal. Koordinasi awal dilakukan dengan Kepala Desa Simbaringin, yang kemudian mengarahkan tim pelaksana untuk bekerja sama dengan pihak dusun.
Metode Pelaksanaan
Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan melalui pendekatan partisipatif dan aplikatif dengan melibatkan langsung mitra sasaran dalam setiap tahap kegiatan. Pelaksanaan dibagi menjadi beberapa tahapan sistematis, sebagai berikut:
a. Observasi
Tim pelaksana melakukan observasi langsung ke lokasi untuk mengidentifikasi potensi dan permasalahan utama yang dihadapi masyarakat desa. Hasil observasi menunjukkan bahwa sektor pertanian dan peternakan merupakan aktivitas dominan warga, namun dalam kegiatan peternakan, pengolahan pakan masih dilakukan secara manual.
Langkah pertama dilakukan dengan observasi lapangan secara langsung di Desa Simbaringin untuk mengidentifikasi potensi lokal dan permasalahan aktual yang dihadapi oleh masyarakat. Fokus utama observasi adalah aktivitas pertanian dan peternakan yang menjadi mata pencaharian utama warga.
Hasil observasi menunjukkan bahwa sebagian besar peternak masih mengandalkan metode manual dalam pengolahan pakan ternak, terutama dalam mencacah bahan hijauan seperti daun jagung. Aktivitas pencacahan dilakukan dengan pisau atau parang biasa, yang memerlukan waktu lama, tenaga besar, dan menghasilkan ukuran potongan yang tidak seragam. Kondisi ini berimplikasi pada efisiensi pakan dan kesehatan hewan ternak.
b. Wawancara Mitra
Setelah observasi, kegiatan dilanjutkan dengan wawancara terstruktur dengan Kepala Desa Simbaringin untuk memperoleh informasi mengenai kondisi sosial-ekonomi warga serta program prioritas yang sedang dijalankan di desa. Berdasarkan arahan Kepala Desa, tim kemudian melakukan diskusi mendalam dengan Kepala Dusun Wringinanom yang sekaligus menjadi representasi kelompok petani dan peternak di dusun tersebut.
Hasil wawancara menunjukkan bahwa terdapat keinginan kuat dari peternak untuk meningkatkan produktivitas, namun keterbatasan alat menjadi hambatan utama. Secara spesifik, mereka menyampaikan kebutuhan terhadap alat bantu untuk mencacah limbah pertanian, terutama daun jagung, yang selama ini hanya ditumpuk atau dibakar.
c. Perancangan Alat
Merespons kebutuhan mitra yang disampaikan melalui observasi dan wawancara lapangan, tim pelaksana melakukan proses desain dan perancangan alat pencacah berbasis teknologi tepat guna (TTG).
Perancangan ini dimulai dari analisis teknis terhadap bahan pakan yang umum digunakan di wilayah setempat, terutama daun jagung, serta karakteristik pengguna yang didominasi oleh peternak kecil dengan keterbatasan akses terhadap teknologi industri.
Alat yang dikembangkan adalah Mesin Pencacah Daun, yaitu mesin berukuran kompak yang didesain agar dapat digunakan baik di lingkungan rumah tangga maupun skala usaha kecil. Mesin ini dirancang sederhana namun fungsional, dengan konstruksi kokoh dan mudah dirakit.
Tim mempertimbangkan ketersediaan komponen lokal seperti besi hollow, plat baja, dan dinamo motor listrik yang umum dijual di bengkel sekitar, sehingga proses perawatan dan penggantian suku cadang di kemudian hari dapat dilakukan secara mandiri oleh pengguna.
Dari sisi operasional, mesin dilengkapi dengan dinamo berdaya rendah (sekitar 200 watt) untuk memastikan konsumsi listrik tetap hemat namun cukup bertenaga untuk mencacah hijauan dalam jumlah besar.
Untuk hasil potongan yang seragam dan mudah dikonsumsi oleh ruminansia seperti sapi dan kambing, mesin menggunakan pisau putar berbahan baja tahan karat dengan bentuk melengkung menyerupai kipas. Pisau ini dirancang agar mampu mencacah daun jagung, rumput lapangan, hingga sisa sayuran rumah tangga menjadi ukuran ideal sekitar 2–5 cm.
Selain fokus pada aspek teknis, proses perancangan juga memperhatikan keselamatan kerja, seperti desain penutup ruang pisau yang aman, posisi corong masuk yang ergonomis, dan stabilitas mesin saat digunakan. Kemudahan dalam pembersihan dan perawatan rutin juga menjadi perhatian utama, mengingat alat ini ditujukan untuk digunakan oleh masyarakat umum tanpa pelatihan teknis khusus.
Dengan pendekatan desain yang mengedepankan kesederhanaan, efisiensi, dan relevansi lokal, mesin ini diharapkan menjadi solusi praktis yang tidak hanya menjawab kebutuhan peternak, tetapi juga dapat direplikasi secara luas dalam konteks pemberdayaan masyarakat desa.
d. Spesifikasi Teknis Mesin
Berikut adalah spesifikasi teknis dari mesin pencacah yang dikembangkan:
Tabel 1. Rencana Spesifikasi Alat
| Spesifikasi |
Keterangan |
| Nama Mesin | Mesin Pencacah Daun |
| Fungsi | Mencacah daun jagung, rumput kecil, sayuran |
| Daya Motor | Maksimal 200 Watt |
| Dimensi Mesin | 65 cm × 43 cm × 53 cm |
| Sumber Energi | Dinamo listrik (motor otomatis) |
| Kapasitas | Skala rumah tangga / UMKM kecil |
| Keunggulan | Hemat listrik, mudah digunakan & dibersihkan |
Sumber: Kajian Penulis, 2025.
e. Bahan dan Alat
Dalam pembuatan dan uji coba Mesin Pencacah Daun CH-120D, bahan dan alat yang digunakan meliputi:
Tabel 2. Bahan dan Alat Mesin Pencacah
|
Bahan dan Alat |
Fungsi |
| Plat Besi | untuk pembuatan casing dan ruang pencacah |
| Hollow | sebagai rangka penopang mesin |
| Pisau Baja | sebagai mata pencacah daun |
| Dinamo Listri 200 watt | sebagai penggerak utama |
| Baut dan mur | untuk perakitan |
| Cat Besi | untuk finishing mesin agar tahan karat |
| Kabel listri | sebagai penghubung kelistrikan |
| Mesin Las Listrik | untuk penyambungan bagian logam |
| Gerinda tangan | untuk memotong dan menghaluskan plat |
| Bor listrik | untuk membuat lubang baut dan mur |
| Kunci pas & obeng | untuk pemasangan komponen |
| Multimeter | untuk menguji kelistrikan alat |
Sumber: Kajian Penulis, 2025.
Hasil dan Pembahasan
Proses Rancang Bangun Mesin Pencacah
Rancang bangun mesin pencacah daun jagung diawali dari kebutuhan nyata peternak di Dusun Wringinanom, Desa Simbaringin, yang hingga kini masih mencacah pakan secara manual menggunakan parang atau sabit. Cara ini membutuhkan waktu yang lama, menguras tenaga, dan menghasilkan potongan pakan yang tidak seragam, yang dapat berdampak pada efektivitas pakan yang diberikan ke ternak.
a. Desain Awal
Desain awal mesin disusun dengan mempertimbangkan aspek kemudahan replikasi, efisiensi biaya, serta kesesuaian dengan kondisi pengguna di pedesaan. Komponen utama yang dirancang meliputi:

- Rangka penyangga: Menggunakan bahan besi hollow 3 × 3 cm, kuat namun tetap ringan, dan mudah dilas.
- Ruang pencacah: Terbuat dari plat besi berbentuk silinder dengan diameter 25 cm dan panjang 20 cm, berfungsi sebagai tempat utama proses pencacahan berlangsung.
- Pisau pencacah: Terdiri dari 4 bilah baja per pegas yang dibentuk melengkung menyerupai kipas untuk memberikan hasil potongan yang merata dan tidak menyangkut.
- Motor dinamo: Menggunakan dinamo listrik 200 watt 220 volt, berdaya rendah agar hemat listrik namun cukup kuat untuk mencacah bahan berserat.
- Corong masuk dan saluran keluar: Dibuat dari plat galvanis, dirancang ergonomis untuk memudahkan proses pengisian dan pengambilan hasil cacahan.
Untuk membantu proses replikasi oleh warga, desain teknis disusun dalam bentuk poster, blueprint, dan dilampirkan pada buku panduan operasional.
b. Proses Pembuatan
Perakitan dilakukan oleh tim pelaksana di bengkel las lokal dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia di desa. Langkah-langkah pembuatan meliputi:
- Pemotongan bahan: Rangka dan plat dipotong sesuai ukuran desain menggunakan mesin potong besi.
- Perakitan rangka dan ruang pencacah: Disambung menggunakan teknik las listrik.
- Pemasangan pisau: Bilah dipasang secara simetris pada poros utama, dipastikan seimbang agar tidak menimbulkan getaran.
- Instalasi dinamo: Dipasang menggunakan dudukan khusus untuk menjaga stabilitas.
- Finishing: Mesin dicat anti-karat, dilengkapi stiker petunjuk operasional, serta diuji statis dan dinamis untuk memastikan tidak ada kendala teknis.
Seluruh proses perakitan memakan waktu kurang lebih 4–5 hari kerja efektif hingga mesin siap diuji lapangan.
c. Hasil Rancang Bangun
Spesifikasi akhir mesin pencacah yang dihasilkan adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Hasil Spesifikasi Alat
|
Spesifikasi |
Keterangan |
| Dimensi | 65 cm × 43 cm × 53 cm |
| Daya listrik | 200 watt |
| Tegangan | 220 V / 50 Hz |
| Kecepatan Motor | 2800 R.P.M |
| Arus Listrik | 1.1 A |
| Tipe Dinamo | B-200 |
| Kelas Insulasi Motor | Class B |
| Bahan rangka | Besi hollow dan plat baja |
| Jumlah pisau | 2 bilah baja |
| Kapasitas pencacahan | ±70–100 kg/jam (tergantung jenis bahan) |
| Target pengguna | Peternak rumah tangga dan UMKM desa |
Sumber : Kajian Penulis, 2025.
Hasil Uji Coba
Setelah proses perakitan mesin pencacah daun jagung selesai, tim pelaksana melakukan uji coba lapangan dalam dua tahap: pertama saat kegiatan Exhibition Teknologi Tepat Guna di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, dan kedua di lokasi mitra, yakni Dusun Wringinanom, Desa Simbaringin.
Uji coba ini melibatkan anggota kelompok peternak dan masyarakat sekitar, serta menggunakan bahan hijauan segar seperti daun jagung dan rumput lapangan yang umum digunakan oleh peternak setempat.
Berikut adalah hasil uji coba yang diperoleh:
a. Kualitas Hasil Cacahan
Mesin mampu mencacah daun jagung dan rumput secara merata, dengan ukuran potongan berkisar antara 2–5 cm, yang sesuai untuk konsumsi ternak ruminansia seperti kambing dan sapi. Untuk hasil optimal, bahan dipilah dan dimasukkan bertahap mengingat dimensi mesin yang ringkas dan jumlah pisau yang terbatas (dua bilah).
b. Kecepatan Kerja
Proses pencacahan 10 kg hijauan dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 6 menit, menunjukkan efisiensi waktu yang signifikan dibandingkan metode manual yang biasa dilakukan peternak.
c. Stabilitas dan Performa
Mesin mampu bekerja 15–20 menit secara terus-menerus tanpa mengalami gangguan mekanik. Tidak terdapat gejala getaran berlebih atau penurunan performa selama pengoperasian.
d. Tingkat Kebisingan dan Suhu Mesin
Mesin beroperasi secara stabil dan senyap, dengan tingkat suara yang tidak mengganggu aktivitas sekitar. Selain itu, suhu motor tetap terjaga dengan baik dan tidak menunjukkan tanda-tanda overheating meskipun digunakan dalam durasi sedang.
e. Kemudahan Penggunaan
Seluruh peternak yang mengikuti uji coba, termasuk peternak berusia lanjut, dapat mengoperasikan mesin dengan baik setelah diberikan pelatihan singkat. Ini menunjukkan bahwa desain mesin telah sesuai dengan prinsip teknologi tepat guna—mudah digunakan, praktis, dan dapat diadopsi oleh pengguna dengan keterampilan teknis minimal.
Hasil uji ini menunjukkan bahwa mesin pencacah yang dirancang berhasil memenuhi ekspektasi teknis dan sosial, serta siap untuk digunakan dan direplikasi di komunitas peternak desa.
Pembahasan
Keberhasilan rancang bangun mesin pencacah daun jagung ini membuktikan bahwa penerapan teknologi tepat guna (TTG) yang dirancang berdasarkan kebutuhan riil masyarakat dapat memberikan dampak nyata terhadap peningkatan efisiensi dalam kegiatan peternakan.
Mesin yang dikembangkan terbukti dapat menggantikan metode pencacahan manual yang sebelumnya banyak menyita waktu, tenaga, serta menimbulkan ketidakefisienan dalam proses pemberian pakan.
Dari sisi teknis, hasil pencacahan yang merata berperan penting dalam meningkatkan palatabilitas dan kecernaan pakan, yang berdampak langsung pada produktivitas hewan ternak. Ukuran potongan yang konsisten mempermudah ternak dalam mengunyah dan mencerna hijauan, sehingga proses metabolisme berjalan lebih optimal.
Selain itu, kecepatan kerja mesin yang jauh lebih tinggi dibandingkan metode manual memungkinkan peternak untuk menghemat waktu kerja, yang kemudian dapat dialokasikan untuk kegiatan produktif lainnya seperti pemeliharaan kandang, pemasaran hasil ternak, atau usaha sampingan lainnya.
Dari perspektif sosial, keberadaan mesin ini membuka peluang untuk membentuk kelompok kerja peternak berbasis alat bersama atau koperasi pengolahan pakan.
Dengan adanya panduan operasional dan desain mesin yang sederhana, masyarakat desa memiliki peluang besar untuk melakukan replikasi mandiri, baik secara individu maupun kolektif. Ini mendukung penguatan kapasitas lokal dan memperkuat nilai pemberdayaan dalam jangka panjang.
Lebih jauh, penggunaan limbah pertanian seperti daun jagung sebagai bahan baku utama juga memperlihatkan bahwa inovasi berbasis sumber daya lokal tidak hanya menyelesaikan persoalan teknis, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan. Limbah yang sebelumnya terbuang kini diolah menjadi pakan bernilai guna tinggi, memperkuat prinsip ekonomi sirkular di tingkat desa.
Dengan demikian, mesin pencacah daun jagung yang dihasilkan dari program pengabdian ini telah memenuhi fungsinya sebagai solusi teknis sekaligus sarana pemberdayaan masyarakat. Inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal untuk pengembangan lebih lanjut, baik dari segi teknologi maupun kelembagaan peternak desa yang lebih mandiri dan berdaya saing.

Simpulan
Program rancang bangun mesin pencacah daun jagung yang dilaksanakan di Dusun Wringinanom, Desa Simbaringin, telah berhasil diwujudkan sebagai bentuk nyata pengabdian masyarakat berbasis Teknologi Tepat Guna (TTG).
Inovasi ini secara langsung menjawab permasalahan mitra, yaitu proses pencacahan pakan ternak yang sebelumnya masih dilakukan secara manual—lambat, menguras tenaga, serta menghasilkan potongan yang tidak seragam.
Seluruh tahapan perancangan dan perakitan alat dilaksanakan dengan mempertimbangkan ketersediaan bahan lokal, efisiensi energi, serta kemudahan dalam pengoperasian.
Mesin yang dihasilkan memiliki desain kompak, konsumsi daya rendah (200 watt), dan mampu mencacah bahan hijauan seperti daun jagung dengan kapasitas ±70–100 kg per jam. Berdasarkan uji coba lapangan, mesin beroperasi dengan stabil, hasil cacahan merata, serta dapat dioperasikan dengan mudah oleh seluruh peternak, termasuk kelompok usia lanjut.
Capaian ini membuktikan bahwa pendekatan partisipatif dan kontekstual dalam perancangan alat berbasis kebutuhan lokal sangat efektif dalam menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat desa. Tidak hanya memberikan dampak teknis dalam peningkatan efisiensi pakan ternak, alat ini juga mendorong kemandirian peternak dan berpotensi direplikasi di komunitas lain yang memiliki kondisi serupa.
Dengan demikian, rancang bangun mesin pencacah ini tidak hanya memberikan solusi praktis, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam mendukung pemberdayaan masyarakat, pengelolaan limbah pertanian yang berkelanjutan, dan penguatan ekonomi lokal berbasis inovasi sederhana.
Penulis:
- Dr. (Cand.) Fiky Two Nando., S.T., M.T.(Fakultas Teknik)
- Ninda Qurmaulia Dhani (Fakultas Teknik)
- Vina Afrilia (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
- Tiara Alidra Sampurna (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)
- Febrian Fergiawan (Fakultas Ekonomi dan Bisnis)
- Firman Ghani (Fakultas Teknik)
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Referensi
Amaliah, R., Nursani, N., & Ramadani, D. (2023). Evaluasi Kualitas Pakan antara Ransum Komplit Berbasis Daun Jati Putih dan Tongkol Jagung pada Ternak Kambing. Buletin Peternakan Tropis, 4(1). https://doi.org/10.31186/bpt.4.1.49-54
Mahardika, S., Hartono, R. Y., Lostari, A., Riani, N. I., & Sugiono, D. (2022). Mesin Cacah Rumput, Solusi Pengolahan Pakan Ternak Untuk Peningkatan Bobot Dan Kesehatan Ternak Di Desa Mentaras, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Selaparang: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan, 6(1). https://doi.org/10.31764/jpmb.v6i1.7560
Nurin, L. A., Amalia, R., Arisna, T. S. W., Sulistyanto, W. N., & Trimulyono, G. (2017). Isolasi dan karakterisasi bakteri asam laktat yang berperan dalam fermentasi tumpi jagung bahan pakan ternak. Jurnal Sains & Matematika, 6(1).
Retnani, Y., Furqaanida, N., Pratas, R. G., & … (2010). Pemanfaatan klobot jagung sebagai wafer ransum komplit untuk domba. Majalah Ilmiah Peternakan, 13(1).
Wahyuni, R., & Dewi, R. A. (2018). Teknologi Tepat Guna Mendukung Pengembangan Sapi Lokal Pesisir Sumatera Barat. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Pertanian, 37(2). https://doi.org/10.21082/jp3.v37n2.2018.p49-58
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












