Sebelum Kanye West, Kapan dan Apa Isi Slogan White Lives Matter yang Mengundang Kontroversi di Amerika Serikat

Rasisme
Provokasi Kanye West

Seorang selebritis, Kanye West, yang dikenal juga sebagai seorang desainer telah mendapat perhatian publik Amerika di tengah isu-isu mengenai kehidupan orang-orang kulit hitam yang menjadikan propaganda rasisme dan menuai kasus, terutama pembunuhan orang kulit hitam, penembakan, dan juga ujaran rasisme yang tidak kunjung reda, Kanye menghadiri Paris Fashion Week dengan mengenakan kaus bergambar Paus Yohanes Paulus II dan di bagian belakang yang bertuliskan “White Lives Matter”.

Hal ini menjadikannya sorotan, terlebih alasan West adalah untuk memberikan sebuah kejutan bagi para penonton di tengah-tengah kisruh “Black Lives Matter” semenjak kematian seorang pemuda AS bernama George Floyd di tangan polisi.

Ia menganggap slogan “White Lives Matter” ini sebagai sebuah perlawanan dan dijadikan sebagai ujaran kebencian.

Bacaan Lainnya
DONASI

Baca Juga: Rasisme di Amerika Serikat

Sejarah Black Lives Matter sendiri ada ketika ini dijadikan simbol perlawanan orang-orang yang menantang hak-hak orang berkulit hitam.

Dan gerakan atau makna dari frasa #BLM itu sendiri adalah sebuah istilah terutama tagar, yang digunakan untuk menyoroti rasisme, diskriminasi, dan ketidaksetaraan yang dialami oleh orang kulit hitam.

Penggunaannya tumbuh di AS setelah pembunuhan profil tinggi oleh polisi, tetapi juga telah digunakan di Inggris dan di tempat lain. Pendukung menunjukkan fakta bahwa orang kulit hitam jauh lebih mungkin ditembak oleh polisi di AS.

Mereka mengatakan bahwa di AS dan banyak negara lain, mereka juga mengalami banyak bentuk diskriminasi lainnya. Mereka menginginkan tindakan untuk mengatasi perlakuan tidak setara dan penindasan yang telah berlangsung sejak era perbudakan, tetapi masih berlanjut hingga hari ini.

Slogan itu banyak digunakan setelah kematian Trayvon Martin di Florida, pada tahun 2012. Pemuda kulit hitam tak bersenjata berusia 17 tahun itu ditembak oleh sukarelawan penjaga lingkungan George Zimmerman.

Dukungan tumbuh setelah pembunuhan polisi lainnya, termasuk Eric Garner, yang meninggal karena tercekik, dan Michael Brown, yang dibunuh oleh seorang petugas yang mengatakan dia bertindak untuk membela diri.

Pada musim panas 2020 George Floyd, seorang pria kulit hitam tak bersenjata, dibunuh oleh seorang petugas polisi yang berlutut di lehernya.

Lalu apa hubungannya dengan kasus Kanye West “White Lives Matter?

Ye, pria yang sebelumnya dikenal sebagai Kanye West, mungkin telah melepas ide-idenya mengenai topi merah bertuliskan “Make America Great Again”, tetapi dia belum selesai menjajakan kiasan supremasi kulit putih.

Hanya dalam seminggu terakhir, kejenakaan Ye termasuk mengenakan kemeja “White Lives Matter” selama Paris Fashion Week dan memuntahkan teori konspirasi antisemit yang mengakibatkan akun Instagram dan Twitter-nya dibatasi dan penampilan di The Shop tiba-tiba ditarik. Kemitraannya dengan Adidas dan Gap juga bermasalah.

Bagi mereka yang mengakui kejeniusan musiknya terutama saat dia menggali peti untuk menghidupkan kembali sampel dan bagaimana hal itu memungkinkannya melampaui panggung, kami tahu ini adalah pola yang akrab setiap kali Anda merasa diremehkan.

Baca Juga: Rasisme di Amerika, Tantangan dan Harapan

Dia menyerang, menjadi sangat picik dan kemudian mengklaim reaksinya didasarkan pada beberapa referensi intelektual yang terlalu umum untuk dipahami oleh publik.

Panggung kali ini mungkin berbeda, tapi penampilan yang selalu berkisar pada pengalaman Black di Amerika tetap sama. Bahkan jika ingin memperdebatkan ada gunanya pertunjukan itu, sulit bagi kebanyakan orang untuk pergi ke sana bersama Ye.

Sementara dia bangga menjadi seorang provokator, menggali jari-jarinya ke dalam luka keberadaan Black, dia menolak untuk mengakui rasa sakit yang ditimbulkannya. Sebaliknya, dia menolaknya. Berkali-kali.

Banyak orang menganggap bahwa supremasi Kanye hanyalah cara untuk menguntungkan dirinya sendiri dikarenakan apa yang dibuatnya layaknya sebuah provokator bagi para sesama orang kulit hitam untuk mengumumkan ‘perang’ dengan slogan White Lives Matter, hal ini menjadi sentimen di mana orang kulit putih tidak identik dengan tindakan rasisme.

Namun, kontroversi akan White Lives Matter ini berhenti ketika Yeezy, brand yang dinaungi Kanye West terancam dipidana untuk mengklaim HAKI industri lain sebagaimana tulisan White Lives Matter sudah dimiliki juga oleh brand kepunyaan dua wanita kulit hitam, dan terpaksa, Kanye harus mengetahui bahwa usahanya gagal kembali dan meyakinkan bahwa ini hanyalah kontroversi belaka.

Penulis: Randy Geraldo Timothy
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Binus University

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Kirim Artikel

Pos terkait

Kirim Artikel Opini, Karya Ilmiah, Karya Sastra atau Rilis Berita ke Media Mahasiswa Indonesia
melalui WhatsApp (WA): 0822-1088-8201
Ketentuan dan Kriteria Artikel, baca di SINI