Hampir disetiap sudut media sosial, kita melihat orang mengunggah foto saat sedang ngopi di Kafe, Piknik di alam atau jalan-jalan keluar kota dengan caption: “Lagi butuh healing” atau “Self-Healing dulu ya, biar waras“. Tapi benarkah semudah itu menyembuhkan luka batin?
Banyak orang mulai menyadari pentingnya kesehatan mental. Kata Self-Healing mulai popular sejak pandemi Covid-19 melanda. Perasaan takut kehilangan, cemas, tekanan hidup membuat kita ingin memulihkan diri, bukan sekedar fisik namun juga secara emosional.
Istilah healing menjadi menjadi semacam trend, yang maknanya disederhanakan. Seolah-olah kata healing merupakan soal bepergian, memanjakan diri atau sekedar rehat sejenak dari rutinitas sehari-hari. Padahal sejatinya proses pemulihan diri lebih dari sekedar “Me-Time”.
Menurut tokoh psikologi Carl Rogers yang terkenal dengan teori humanistiknya, mengatakan proses penyembuhan diri (healing) terjadi saat seseorang mampu menerima dirinya sendiri atau self-acceptance secara utuh termasuk sisi-sisi yang dianggap lemah atau ideal. Proses ini mampu mendorong pemulihan dan pertumbuhan batin secara alami.
Self-Healing bukan pelarian tapi sebuah perjalanan kedalam diri. Tidak semua luka batin bisa sembuh sendiri, saat Anda menangis tanpa sebab, sulit tidur, makan tidak teratur, mudah marah dan tersinggung atau merasa hidup sudah tidak bermakna lagi. Saatnya kamu memerlukan bantuan orang lain atau professional seperti psikolog atau psikiater untuk healing yang sebenarnya.
Tips Healing
Berikut 5 cara healing yang bisa kamu lakukan:
1. Rutin berolahraga
Membantu melepasakan hormon bahagia yang membantu mengurangi emosi negatif. Di samping itu, tubuh akan terasa lebih sehat dan bugar.
2. Lakukan Meditasi (Berdoa) atau Melatih Pernapasan
Melalui teknik pernapasan yang tepat mampu menurunkan tingkat stres dan kecemasan, serta mampu meningkatkan fokus serta kesadaran diri sehingga mudah mengambil keputusan tanpa melibatkan emosi negatif.
3. Menulis jurnal
Journaling dapat membantu memberi ruang untuk melepaskan beban mental dan membantu mengenali emosi yang belum selesai.
4. Berada di Alam Hijau dan Terbuka
Penelitian menunjukan bahwa berada di lingkungan hijau membantu menurunkan hormon kortisol (hormon cemas) dan mengurangi gejala depresi ringan.
5. Lakukan Hobi yang disukai
Aktivitas ini membantu sebagai media ekspresi diri. Saat kita menikmati sesuatu, otak akan melepaskan hormon serotonin yang membantu memperbaiki suasana hati.
Setiap orang punya cara healingnya masing-masing. Yang satu lewat doa yang satu lagi lewat journaling. Yang satu lewat terapi yang lainnya berbagi dengan cerita. Semuanya sah saja dilakukan asal tidak menyakiti diri sendiri dan orang lain.
Penulis: Deasy Ori Indriowati, S.Psi, M.Si, Psikolog.
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Borobudur Jakarta
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












