Di era digital saat ini, perkembangan fintech di Indonesia membawa perubahan besar dalam cara mahasiswa bertransaksi. Kini, mahasiswa tidak perlu lagi harus membawa dompet tebal atau menghitung uang kembalian. Cukup dengan menggunakan smartphone, semua transaksi bisa dilakukan dengan mudah dan cepat.
Dompet digital seperti GoPay, OVO, dan DANA menjadi alat pembayaran sehari-hari. Bahkan, dengan sistem QRIS, mahasiswa bisa membayar berbagai kebutuhan hanya dengan satu scan, mulai dari membeli makanan, bayar kos, hingga belanja online.
Berdasarkan data dari Bank Indonesia, nilai transaksi uang elektronik di Indonesia meningkat lebih dari 50% dalam lima tahun terakhir. Ini membuktikan bahwa financial technology atau disebut fintech bukan hanya tren sementara, tapi telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat, termasuk mahasiswa.
Kemudahan ini membuat banyak mahasiswa lebih memilih transaksi digital dibanding membawa uang tunai. Semuanya hanya butuh satu langkah sederhana, yaitu, swipe, klik, bayar.
Perubahan Gaya Hidup yang Semakin Instan
Fenomena ‘swipe, klik, bayar’ tidak hanya mempermudah transaksi, tapi juga mengubah pola hidup mahasiswa. Segala sesuatu kini serba cepat dan instan. Ingin makan siang? Tinggal pesan lewat aplikasi ojek online.
Butuh buku kuliah atau alat tulis? Bisa langsung checkout lewat e-commerce. Bahkan pembayaran listrik atau paket internet kos pun bisa dilakukan tanpa harus keluar rumah.
Survei dari Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan bahwa lebih dari 60% pengguna fintech berusia 18–25 tahun, yang sebagian besar adalah mahasiswa.
Ini menunjukkan bahwa mahasiswa menjadi kelompok yang paling aktif memanfaatkan teknologi keuangan. Kebiasaan ini membuat transaksi menjadi lebih mudah, tapi sekaligus menimbulkan risiko kebiasaan konsumtif.
Ancaman Perilaku Konsumtif dan Paylater
Kemudahan bertransaksi sering kali membuat mahasiswa membeli barang tanpa berpikir panjang. Proses yang cepat membuat pengeluaran terasa ‘tidak nyata’, karena uang digital tidak terlihat secara fisik.
Salah satu contohnya adalah layanan paylater yang ditawarkan oleh platform seperti ShopeePayLater atau GoPayLater. Fitur ini memungkinkan mahasiswa membeli barang sekarang, tetapi membayarnya nanti.
Menurut laporan OJK (2023), sekitar 40% pengguna paylater adalah mahasiswa dan generasi muda. Jika tidak bijak, penggunaan paylater bisa menimbulkan utang kecil yang menumpuk, hingga akhirnya menjadi masalah finansial.
Banyak mahasiswa yang awalnya hanya ingin membeli kebutuhan sehari-hari, tapi akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu penting. Hal ini menjadi bukti bahwa fintech, meski mempermudah, juga dapat menimbulkan tantangan baru.
Baca Juga: Tren Top Up Game Online di Kalangan Mahasiswa: Cepat, Aman, dan Praktis
Peluang Fintech bagi Mahasiswa
Di sisi lain, fintech membuka berbagai peluang positif bagi mahasiswa. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai pengguna, tetapi juga dapat memanfaatkan teknologi ini untuk berwirausaha. Kini, banyak mahasiswa yang memulai bisnis online, menjadi reseller, membuka jasa digital, hingga mengembangkan startup.
Dengan sistem pembayaran digital, proses transaksi menjadi lebih cepat dan efisien, sehingga mahasiswa dapat lebih fokus pada pengembangan produk dan layanan mereka.
Fintech juga mendorong inklusi keuangan, yakni memberikan akses layanan keuangan yang lebih luas kepada mahasiswa. Mahasiswa yang sebelumnya kesulitan memiliki rekening bank atau layanan kredit kini dapat menabung, berinvestasi, atau memperoleh pinjaman dengan lebih mudah.
Hal ini menjadi kesempatan berharga bagi mahasiswa untuk belajar mengelola keuangan sekaligus mengeksplorasi peluang bisnis.
Pentingnya Literasi Keuangan
Kemudahan akses yang ditawarkan oleh fintech memang menggiurkan, tetapi hal ini harus diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai. Mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk membedakan antara kebutuhan pokok dan sekadar keinginan, serta mengelola pengeluaran secara bijaksana.
Sebagai contoh, sebelum memanfaatkan layanan paylater, mahasiswa sebaiknya mengevaluasi dengan teliti apakah pembelian tersebut benar-benar esensial dan sesuai dengan kapasitas finansial pribadinya.
Selanjutnya, pemahaman mendalam tentang mekanisme bunga, biaya administrasi, serta potensi denda pada layanan digital menjadi krusial. Dengan bekal literasi keuangan yang bagus, mahasiswa dapat menjadikan fintech sebagai sarana pendukung yang efektif, bukan sebagai perangkap konsumsi yang berlebihan.
Mahasiswa yang pandai mengelola keuangan digital tidak hanya akan terhindar dari risiko, tetapi juga mampu menjadi teladan bagi generasi muda yang melek teknologi sekaligus bijak dalam urusan finansial.
Baca Juga: Peran Literasi Keuangan dan Gaya Hidup dalam Pemanfaatan Fintech oleh Generasi Z
Kesimpulan
Adanya fenomena ‘swipe, klik, bayar’ ini sangat menunjukkan bagaimana gaya hidup mahasiswa berubah total di era digital sekarang. Fintech tentu membuat transaksi harian menjadi super gampang, dari membeli makanan dan membayar kosan, serta membuka peluang baru seperti investasi kecil-kecilan atau side hustle.
Akan tetapi, jika tidak digunakan dengan bijak, malah akan menjadi masalah, seperti utang menumpuk atau belanja impulsif. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa, tentunya harus dapat membangun literasi keuangan yang baik, agar kemudahan fintech menjadi alat yang sangat produktif, bukan malah menjadi bom waktu.
Intinya, dengan pendekatan yang hati-hati dan cerdas, fintech dapat membantu hidup menjadi lebih praktis, efisien, dan pintar dalam mengatur keuangan jangka panjang.
Penulis: Ellen Priscilla
Mahasiswa Prodi S1 Bisnis Digital Universitas Bangka Belitung
Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












