Tak Banyak yang Tahu: Diskriminasi terhadap ODHA di Indonesia Masih Tinggi!

Diskriminasi terhadap ODHA
Ilustrasi Diskriminasi (Sumber: MMI)

Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) masih menjadi isu kesehatan utama di Indonesia. Hal ini diperkuat oleh data Kementerian Kesehatan RI yang menunjukkan bahwa angka kasus kumulatif HIV/AIDS mencapai 519.158 kasus yang tercatat hingga Juni 2022.

Banyak masyarakat memiliki pemahaman keliru mengenai cara penularannya, seringkali mengaitkan HIV dengan kelompok tertentu saja seperti pekerja seks atau pengguna narkoba suntik. Ketidaktahuan ini memicu stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) yang berdampak negatif pada akses mereka ke pelayanan kesehatan dan kehidupan sosial.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Diskriminasi ini menyebabkan ODHA menghindari diagnosis dan pengobatan, memperburuk kondisi kesehatan dan menyulitkan upaya pencegahan penyebaran virus. Edukasi yang benar sangat dibutuhkan untuk mengurangi stigma dan mendukung ODHA agar dapat hidup lebih sehat dan bermartabat.

Stigma terhadap ODHA masih kuat dan meluas di masyarakat, tidak hanya sebatas prasangka, tetapi juga berbentuk sikap dan persepsi negatif yang melekat secara sistematis.

Banyak orang memandang ODHA dengan kecurigaan dan ketakutan, seringkali didasari oleh kurangnya pengetahuan tentang bagaimana HIV ditularkan ataupun bagaimana kehidupan sehari-hari ODHA. Hal ini memunculkan bentuk stigma yang disebut stigma instrumental, stigma simbolis, dan stigma kesopanan terhadap ODHA.

Akibatnya, ODHA bisa mengalami diskriminasi, pengucilan sosial, dan penolakan, bahkan berpotensi membuat mereka enggan mengakses layanan kesehatan, mengisolasi diri, atau menyembunyikan status mereka. Hal ini tidak hanya merugikan individu tersebut, tetapi juga menghambat upaya pencegahan dan penanganan HIV/AIDS secara luas.

Baca juga: Penularan HIV melalui Apa Saja? Kesalahan Fatal Berakibat Makin Banyak Kasus Baru!

Perlakuan diskriminatif yang umumnya dialami ODHA adalah pengucilan sosial di masyarakat karena mayoritas masyarakat takut tertular. Pengucilan sosial juga berkaitan dengan ketidakadilan atau diskriminasi struktural yang dialami ODHA dalam memenuhi hak mereka untuk memperoleh pelayanan kesehatan dan mengembangkan karir mereka karena adanya penolakan dari lingkungan kerja.

Bentuk penolakan masyarakat juga dapat berujung kepada kekerasan verbal dimana ODHA seringkali diejek, dilecehkan, serta dilabeli oleh stigma atau rumor yang tidak etis. Segala kekerasan ini membuat ODHA berada pada tahap “Self Stigma” 

Stigma kepada diri sendiri atau self-stigma merupakan penilaian negatif terhadap diri sendiri yang muncul pada ODHA karena dicap buruk oleh masyarakat karena kondisinya. ODHA juga sering merasa bahwa ia merupakan sumber ancaman bagi lingkungannya, sekitar 11,9% ODHA menghindari kegiatan sosial, menghindari layanan kesehatan (10,7%), dan menghindar dari seks (13,4%)  (Maya Trisiswati, et.al).

Perempuan merupakan golongan yang paling rentan terhadap self-stigma, dimana dalam penelitian oleh Turan (2017) sebagaimana dikutip dalam Maya Trisiswati (2025), laporan terhadap self-stigma ODHA lebih banyak pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki. 

Banyak masyarakat di Indonesia masih memiliki pandangan yang salah mengenai HIV/AIDS. Kurangnya pengetahuan membuat sebagian orang berpikir bahwa HIV/AIDS hanya berdampak pada kelompok tertentu, seperti pekerja seks atau pengguna narkoba suntik.

Hal ini menyebabkan stigma dan perlakuan yang tidak adil terhadap Orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Padahal, faktanya HIV/AIDS bisa menyerang siapa saja tanpa melihat profesi, gaya hidup, atau latar belakang.

Diskriminasi membuat banyak ODHA menghindari layanan kesehatan karena takut diperlakukan buruk. Akibatnya, banyak yang terlambat didiagnosis, tidak patuh terapi, dan mengalami kecemasan hingga depresi. Tekanan sosial juga memperburuk kualitas hidup dan menurunkan produktivitas.

Ketika ODHA terisolasi, peluang penularan meningkat karena kurangnya akses informasi dan perawatan yang aman. Lingkungan yang mendukung menjadi kunci memutus stigma dan rantai infeksi.

Untuk mengurangi diskriminasi, masyarakat perlu meningkatkan pemahaman tentang HIV melalui edukasi yang benar dan terbuka. Pemerintah dan tenaga kesehatan harus memastikan layanan bebas stigma serta memberikan pelatihan anti diskriminasi.

Dukungan keluarga dan komunitas juga penting untuk menciptakan lingkungan aman bagi ODHA. Media dapat membantu dengan menyebarkan informasi akurat dan menghilangkan stereotip yang keliru tentang HIV/AIDS.

Diskriminasi terhadap ODHA menunjukkan bahwa tantangan penanganan HIV di Indonesia tidak hanya bersifat medis, tetapi juga sosial. Masyarakat perlu memahami fakta yang benar agar stigma tidak terus berkembang.

Setiap individu, tenaga kesehatan, dan pembuat kebijakan memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang ramah dan inklusif. Dengan mengurangi diskriminasi, ODHA dapat hidup lebih sehat, produktif, dan bermartabat, sekaligus memperkuat upaya pencegahan HIV secara nasional.

 

Penulis:

  1. Andi Farida Rahma
  2. Rika Nurkia Seisabila
  3. Shofwa Mumtaz Zakiya
  4. Tania Khalisha Maharani
  5. Xena Talitha Tri Putri

Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia 

 

Referensi

  • UNAIDS. (2023). Global AIDS Update.
  • World Health Organization. (2022). HIV Stigma and Discrimination.
  • Kementerian Kesehatan RI. (2022). Laporan Situasi HIV di Indonesia.
  • Maya, T., dkk. (2023). Depresi dan self-stigma pada perempuan dengan HIV/AIDS (PDHA) di Jabodetabek. Jurnal Comserva, Universitas YARSI.
  • Dwianita, D. (2017). Model komunikasi antarpribadi ODHA dalam menghadapi stigma dan diskriminasi lingkungan sosial. Jurnal Simbolika, Universitas Medan Area
  • Kusumaningrum, T. A. I., & Paramita, E. K. (2023). Apakah stigma terhadap ODHA pada mahasiswa kesehatan dan non-kesehatan berbeda? Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat. Universitas Jember.
  • Yani, F., Sylvana, F., & J. Hadi, A. (2020). Stigma Masyarakat Terhadap Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) Di Kabupaten Aceh Utara. Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI), 3(1), 56-62. https://doi.org/10.56338/mppki.v3i1.1028

 

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses