Tradisi Nyeruit: Simbol Kebersamaan Masyarakat Lampung

Tradisi Nyeruit: Simbol Kebersamaan Masyarakat Lampung
Tradisi Nyeruit: Simbol Kebersamaan Masyarakat Lampung

Indonesia merupakan negara multikultural karena keanekaragaman budayanya. Menurut KEMENDIKBUD RISTEK (2022), Indonesia memiliki 1728 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) yang terbagi menjadi 5 kategori. Lima kategori tersebut mencakup 491 warisan budaya kategori adat istiadat masyarakat, ritual dan perayaan-perayaan; 440 warisan budaya kategori kemahiran dan kerajinan tradisional; 75 warisan budaya kategori pengetahuan dan kebiasaan perilaku terhadap alam dan semesta; 503 warisan budaya kategori seni pertunjukkan; dan 219 warisan budaya kategori lisan dan ekspresi.

Keanekaragaman budaya Indonesia menjadi bukti adanya toleransi terhadap perbedaan dalam masyarakat. Budaya Indonesia menjadi harta yang tidak ternilai harganya yang dimiliki oleh bangsa kita. Budaya menjadi salah satu perhatian bagi masyarakat Indonesia untuk selalu dilestarikan dan dijaga. 

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Lampung merupakan salah satu provinsi yang berada di selatan Pulau Sumatera. Lampung sendiri memiliki suku asli Lampung yang mendiami beberapa daerah di pulau Sumatera, dalam suku Lampung terdapat dua perbedaan adat yang melahirkan semboyan “Sai Bumi Ruwa Jurai” yang memiliki arti bahwa dalam bumi yang sama terdapat suku Lampung yang hidup berdampingan meskipun adatnya berbeda.

Kelompok adat yang dimaksud dalam semboyan ini ialah Lampung Pepadun dan Lampung Saibatin. Dua kelompok masyarakat tersebut juga berbeda domisili, Lampung Pepadun mendiami daerah daratan sedangkan masyarakat Lampung Saibatin mendiami daerah pinggir pantai (Krisnawati, 2023). 

Baca Juga: Melestarikan Budaya Betawi dengan Penuh Kreasi yang Lebih Menyenangkan Bersama Anak-Anak RPTRA Taman Lenteng Agung

Tradisi nyeruit merupakan tradisi makan bersama khas masyarakat Lampung. Kegiatan nyeruit ini biasa dilakukan ketika ada acara besar seperti pernikahan atau upacara keagamaan, namun saat ini masyarakat Lampung khususnya suku asli Lampung bisa melakukan kegiatan ini tanpa harus melakukan acara – acara besar, terkadang kegiatan nyeruit ini dilakukan untuk menambah keakraban antar keluarga (Anggraini, 2017 dalam Ningrum, dkk, 2021).

Cara menikmati seruit biasanya dilakukan dengan cara duduk bersama – sama di atas tikar karena dalam pandangan orang Lampung kegiatan ini lebih terasa kekeluargaannya ketika dilakukan secara bersama – sama.  Istilah “Nyeruit” berasal dari “Seruit” yang menjadi sebutan untuk makanan yang dimakan. Seruit merupakan salah satu makanan khas Lampung yang terdiri dari ikan, sambal terasi, tempoyak dan lalapan.

Ikan yang digunakan dalam seruit adalah belida, baung dan layis yang dihidangkan dengan dibakar atau digoreng. Sambal terasi yang bahannya terdiri dari cabai, terasi dan rampai. Tempoyak merupakan hasil fermentasi dari durian atau mangga. Lalapan yang biasanya digunakan adalah petai, kol, tomat, kemangi dan timun. Diletakkannya lauk pauk dalam satu wadah dan diaduk hingga tercampur dan disantap secara bersama-sama, inilah yang disebut dengan “nyeruit”.

Masyarakat Lampung memaknai seruit bukan hanya sebagai makanan, namun ada nilai budaya yang dijunjung dalam kegiatan ini. Dulunya, nyeruit dilakukan sebagai sarana untuk menumbuhkan rasa saling menghormati, menghargai dan menambah kedekatan antar masyarakat.

Baca Juga: Kyai Mojo dan Warisan Lebaran Ketupat: Jejak Budaya Islam-Jawa di Tondano

Proses mencampur lauk pauk dan sambal dalam satu wadah biasanya dilakukan oleh orang yang lebih tua atau dihormati dalam suatu keluarga dan hal inilah yang dipertahankan oleh masyarakat Lampung sampai saat ini (Ningrum, dkk 2021). Nilai filosofis yang terdapat dalam kegiatan nyeruit ini adalah simbol kebersamaan masyarakat Lampung yang tertuang dalam pedoman hidup masyarakat Lampung (Piil Pesenggiri) yaitu pada poin sakai sambayan atau saling tolong menolong dan bergotong royong.

Dalam kegiatan nyeruit, mulai dari proses membuat hingga pada akhirnya masyarakat duduk dan makan bersama kegiatan ini dilakukan secara bersama – sama tanpa memandang status sosial sehingga memupuk rasa saling menghargai dan menambah kedekatan antar masyarakat serta rasa hormat kepada tetua keluarga atau masyarakat (Ningrum, dkk 2021).

Kegiatan nyeruit menjadi kegiatan yang tidak bisa dipisahkan dalam kuliner masyarakat Lampung. Bagi masyarakat Lampung kegiatan ini menjadi simbol eratnya persaudaraan serta menjadi momen yang ditunggu – tunggu karena sanak saudara jauh berkumpul sehingga momen ini menjadi momen kedekatan antar keluarga. Adanya seruit ketika keluarga mengadakan acara tertentu menandakan bahwa peran seruit dalam menjaga kerukunan dan kehangatan dalam keluarga.

Penulis:
1. Kun Darasuta Hastiti Sanjaya
2. Wanda Tsalistya Nurrahma
3. ⁠Hapsari Santyanika Tataka
4. ⁠Hilda Elfanny Zakiya
Mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Editor: Ika Ayuni Lestari
Bahasa: Rahmat Al Kafi

Daftar Pustaka

Anggraini, S., Shantiya, D., Prayogi, R., & Nurlelawati, N. (2025). UPAYA MELESTARIKAN BUDAYA LAMPUNG SERUIT SEBAGAI SIMBOL KEBERSAMAAN DALAM BUDAYA KULINER LAMPUNG. JURNAL SELAKSA MAKNA, 1(1, Februari), 19-32.

Direktorat Perlindungan Kebudayaan. (2022). Sebanyak 1728 Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia Ditetapkan. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/dpk/sebanyak-1728-warisan-budaya-takbenda-wbtb-indonesia-ditetapkan/. Diakses pada tanggal 18 Mei 2025 pukul 16.50. 

Krisnawati, S. D. (2023). Studi Etnografi Tari Sigeh Pengunten sebagai Warisan Budaya Lampung di Lembaga PAUD. JURNAL PENA PAUD, 4(1), 88-94.

Kurniawati, D., Triatma, B., Kuswardinah, A., & Putri, M. F. (2022). Inovasi Bumbu Tabur Sambal Seruit: Aplikasinya pada Keripik Pisang khas Lampung. Food Science and Culinary Education Journal, 11(2), 63-68.

Ningrum, F. C., Turgarini, D., & Bridha, R. L. (2021). Pelestarian tradisi nyeruit sebagai warisan gastronomi kota Bandar Lampung. The Journal Gastronomy Tourism, 1(2), 85-95.

 

 

Ikuti berita terbaru di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses