Yuk! Kenali Penyebab Gagal Ginjal selain karena Penggunaan Syrup

penyebab gagal ginjal

Kesehatan anak adalah prioritas utama bagi setiap orang tua. Namun, pada medio 2022 hingga awal 2023, masyarakat Indonesia sempat diguncang oleh fenomena medis yang mengkhawatirkan: lonjakan kasus Gagal Ginjal Akut Progresif Atipikal (GGAPA) pada anak-anak. Hingga Oktober 2022 saja, tercatat ratusan kasus dengan tingkat fatalitas yang cukup tinggi, yang sebagian besar menyerang balita usia 1-5 tahun.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah bergerak cepat dengan mengidentifikasi adanya kontaminasi zat kimia berbahaya seperti Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG) pada produk sirup obat tertentu. Namun, penting bagi kita untuk memahami bahwa gagal ginjal akut tidak hanya disebabkan oleh konsumsi sirup.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Ginjal adalah organ yang sangat sensitif, dan ada banyak faktor lain yang bisa mengganggu fungsinya. Artikel ini akan mengupas tuntas penyebab gagal ginjal akut dari berbagai sisi medis agar kita bisa lebih waspada tanpa harus tenggelam dalam kepanikan.

Baca juga: Kesehatan Mental pada Pasien Gagal Ginjal: Tantangan dan Solusinya

1. Mengenal Ginjal, Sang Penyaring Darah Utama

Sebelum membahas penyakitnya, kita perlu memahami betapa hebatnya organ berbentuk kacang ini. Ginjal manusia, meski ukurannya kecil, memegang peranan vital sebagai sistem filtrasi tubuh.

Setiap harinya, sepasang ginjal menyaring sekitar 120 hingga 150 liter darah untuk menghasilkan sekitar 1 hingga 2 liter urin. Urin ini mengandung limbah sisa metabolisme dan kelebihan cairan yang jika dibiarkan menumpuk, akan menjadi racun bagi tubuh. Selain menyaring darah, ginjal juga berfungsi untuk:

  • Mengatur Keseimbangan Elektrolit: Seperti natrium, kalium, dan kalsium yang penting untuk kerja jantung dan otot.
  • Mengontrol Tekanan Darah: Melalui produksi hormon renin.
  • Memproduksi Sel Darah Merah: Melalui hormon eritropoietin.
  • Menjaga Kesehatan Tulang: Dengan mengaktifkan Vitamin D.

Ketika ginjal berhenti berfungsi secara mendadak (dalam hitungan jam atau hari), kondisi inilah yang disebut sebagai Gagal Ginjal Akut atau secara klinis dikenal sebagai Acute Kidney Injury (AKI).

ADS: Jika tertarik mengetahui tentang Poltekkes panaraganjayakota, Anda dapat mengunjungi situs: poltekkespanaraganjayakota.org

2. Belajar dari Kasus Sirup (Zat Toksik Etilen Glikol)

Krisis sirup pada tahun 2022 memberikan pelajaran berharga bagi dunia farmasi dan orang tua. Secara kimiawi, Etilen Glikol ($C_2H_6O_2$) adalah senyawa yang jika masuk ke dalam tubuh akan dimetabolisme menjadi asam oksalat. Asam oksalat ini kemudian berikatan dengan kalsium membentuk kristal kalsium oksalat yang tajam seperti jarum mikroskopis.

Kristal-kristal inilah yang menyumbat tubulus ginjal, menyebabkan kerusakan jaringan yang masif secara cepat. Inilah alasan mengapa gejalanya disebut “progresif atipikal”—karena kerusakannya terjadi sangat cepat dan tidak seperti pola kerusakan ginjal pada umumnya. Namun, setelah pengawasan sirup diperketat, kita tetap harus mewaspadai penyebab lain yang secara medis diklasifikasikan ke dalam tiga faktor utama.

Baca juga: 7 Pengobatan Herbal Terbaik untuk Penyakit Ginjal pada Mahasiswa

3. Faktor Prerenal (Gangguan Aliran Darah Sebelum Ginjal)

Penyebab prerenal adalah kondisi di mana ginjal itu sendiri sebenarnya sehat, namun ia tidak menerima aliran darah yang cukup untuk melakukan tugas penyaringan. Ibarat sebuah saringan air, jika tekanan air yang masuk sangat lemah, maka saringan tersebut tidak bisa mengeluarkan air bersih.

1. Dehidrasi Berat akibat Diare dan Muntah

Ini adalah penyebab paling umum pada anak-anak di negara berkembang. Ketika seorang anak mengalami diare hebat atau muntah terus-menerus tanpa penggantian cairan yang cukup, volume darah di dalam tubuhnya menyusut. Kondisi ini disebut syok hipovolemik. Ginjal yang kekurangan suplai darah akan “kelaparan” oksigen dan nutrisi, sehingga fungsinya menurun drastis. Inilah mengapa pemberian oralit dan cairan sangat krusial saat anak sakit perut.

2. Luka Bakar Luas dan Perdarahan

Luka bakar yang parah menyebabkan cairan tubuh menguap dan berpindah secara besar-besaran, yang juga berujung pada penurunan aliran darah ke ginjal. Begitu pula dengan perdarahan hebat akibat kecelakaan.

3. Sepsis (Infeksi Berat)

Sepsis adalah kondisi di mana infeksi telah menyebar ke seluruh aliran darah, menyebabkan tekanan darah turun drastis (syok septik). Dalam kondisi ini, tubuh akan memprioritaskan aliran darah ke otak dan jantung, sehingga ginjal seringkali “dikorbankan” dan mengalami gagal fungsi.

Baca juga: Mengenal CAPD: Solusi Dialisis Mandiri untuk Pasien Gagal Ginjal

4. Faktor Renal (Kerusakan Langsung pada Jaringan Ginjal)

Berbeda dengan prerenal, pada faktor renal, kerusakan terjadi tepat pada “mesin” penyaring di dalam ginjal itu sendiri.

1. Paparan Zat Beracun (Toksin) dan Obat-obatan

Selain Etilen Glikol, beberapa jenis obat-obatan jika dikonsumsi tanpa dosis yang tepat atau dalam kondisi dehidrasi dapat merusak sel ginjal. Obat pereda nyeri tertentu (NSAID) dan beberapa jenis antibiotik tertentu harus diberikan dengan pengawasan medis yang ketat pada anak-anak.

2. Infeksi Langsung pada Ginjal

Beberapa bakteri atau virus dapat menyerang jaringan ginjal secara langsung (glomerulonefritis). Contohnya adalah komplikasi dari infeksi tenggorokan atau infeksi kulit (bakteri Streptococcus) yang memicu respons imun yang justru merusak saringan ginjal.

3. Penyakit Vaskular

Kondisi langka seperti Hemolytic Uremic Syndrome (HUS), yang seringkali dipicu oleh infeksi bakteri E. coli dari makanan yang tidak bersih, dapat menyebabkan hancurnya sel darah merah yang kemudian menyumbat sistem penyaringan ginjal.

Baca juga: Pengaruh Ekstrak Air Daun Belimbing Wuluh Sebagai Peluruh Batu Ginjal 

5. Faktor Postrenal (Sumbatan Saluran Kemih Setelah Ginjal)

Faktor ini terjadi ketika ginjal berhasil menyaring darah dan memproduksi urin, namun urin tersebut tidak bisa keluar dari tubuh karena adanya hambatan di saluran kemih (ureter, kandung kemih, atau uretra).

Ibarat saluran pembuangan yang mampet, urin yang tertahan akan mengalir balik (refluks) ke arah ginjal. Tekanan dari urin yang terjebak ini akan menekan jaringan ginjal dan merusaknya. Beberapa penyebabnya antara lain:

  • Kelainan Bawaan: Adanya katup atau penyempitan abnormal pada saluran kemih anak sejak lahir.
  • Batu Saluran Kemih: Meski lebih jarang pada anak dibanding dewasa, batu dapat terbentuk akibat kelainan metabolik atau kurang minum.
  • Tumor: Adanya massa atau tumor di area perut bawah yang menekan saluran kemih.

6. Mengenali Gejala Dini: Kapan Orang Tua Harus Bertindak?

Sebagaimana disampaikan oleh dr. Yanti Herman dalam keterangan Kemenkes, kunci utama penanganan gagal ginjal adalah deteksi dini. Ginjal memiliki cadangan fungsi yang besar, sehingga seringkali gejala baru muncul ketika kerusakan sudah cukup signifikan.

Berikut adalah tanda bahaya (red flags) yang wajib dipantau:

  1. Oliguria (Volume Urin Berkurang): Jika biasanya Anda mengganti popok anak 5-6 kali sehari, dan tiba-tiba anak tidak kencing selama lebih dari 6-12 jam, ini adalah tanda darurat.
  2. Anuria: Tidak ada urin sama sekali yang keluar.
  3. Perubahan Warna Urin: Urin berwarna cokelat tua seperti teh atau kemerahan (berdarah).
  4. Edema (Pembengkakan): Karena ginjal tidak bisa membuang cairan, cairan menumpuk di wajah (terutama kelopak mata saat bangun tidur), tangan, atau kaki.
  5. Gejala Sistemik: Lemas yang luar biasa, sesak napas (karena penumpukan cairan di paru), mual, dan muntah hebat.

7. Langkah Pencegahan dan Pola Hidup Sehat untuk Ginjal Anak

Gagal ginjal bukanlah penyakit yang datang tanpa sebab. Kita bisa meminimalisir risikonya dengan langkah-langkah praktis:

1. Hidrasi yang Cukup dan Berkualitas

Pastikan anak minum air putih yang cukup sesuai usianya. Air adalah media utama bagi ginjal untuk membuang racun. Hindari minuman kemasan yang tinggi gula dan zat pewarna buatan secara berlebihan.

2. Bijak Menggunakan Obat-obatan

Jangan pernah memberikan obat dosis dewasa kepada anak. Pastikan setiap penggunaan sirup atau obat puyer sesuai dengan resep dokter atau rekomendasi apoteker. Simpan obat di tempat yang aman agar tidak terminum secara tidak sengaja oleh anak.

3. Menjaga Kebersihan Makanan

Untuk mencegah infeksi bakteri seperti E. coli yang dapat menyebabkan HUS, pastikan makanan daging dimasak hingga matang sempurna dan selalu cuci tangan sebelum makan.

4. Periksa Rutin Jika Ada Gejala Infeksi

Jangan abaikan infeksi saluran kemih (ISK) pada anak. Jika anak mengeluh sakit saat kencing atau sering kencing namun sedikit-sedikit, segera bawa ke fasilitas kesehatan.

Kesimpulan

Gagal ginjal akut pada anak memang menakutkan, namun dengan pengetahuan yang tepat, kita bisa melakukan proteksi maksimal. Kasus sirup 2022 adalah pengingat keras bagi kita semua tentang pentingnya keamanan obat, namun jangan lupakan faktor-faktor alami lainnya seperti pencegahan dehidrasi dan infeksi.

Sesuai dengan imbauan Departemen Kesehatan dan para ahli medis, kuncinya adalah pantau, waspada, dan jangan panik. Jika volume urin anak berkurang drastis, jangan tunda untuk membawa mereka ke Puskesmas atau Rumah Sakit terdekat. Evaluasi medis melalui tes kreatinin darah dan pemeriksaan fisik yang cepat dapat menyelamatkan nyawa buah hati Anda.

Disusun oleh: Putri Oktaviani (072211008)
Mahasiswa S1 Farmasi Universitas Binawan

Dosen Pengampu : Apriani Riyanti, M.Pd

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apakah anak yang pernah mengalami gagal ginjal akut bisa sembuh total?

Banyak anak dengan gagal ginjal akut (AKI) bisa sembuh total jika penyebabnya (seperti dehidrasi atau infeksi) ditangani dengan cepat. Namun, pada beberapa kasus berat, mungkin ada risiko kerusakan permanen yang membutuhkan pemantauan jangka panjang.

2. Berapa volume urin normal pada anak per hari?

Secara umum, anak harus kencing sekitar 1-2 ml per kg berat badan per jam. Jika anak beratnya 10 kg, setidaknya ia harus mengeluarkan 240-480 ml urin dalam 24 jam.

3. Apakah penggunaan parasetamol sirup sekarang sudah aman?

Pemerintah telah merilis daftar sirup yang aman dan telah melalui uji ketat bebas kontaminasi EG/DEG. Pastikan Anda hanya membeli obat yang masuk dalam daftar aman BPOM dan berkonsultasi dengan apoteker.

4. Apa perbedaan gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis?

Akut terjadi secara mendadak (tiba-tiba) dan seringkali bersifat reversibel (bisa sembuh). Kronis terjadi secara perlahan selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun dan biasanya bersifat permanen.

5. Mengapa dehidrasi bisa merusak ginjal?

Tanpa cairan yang cukup, tekanan darah turun. Ginjal membutuhkan tekanan darah tertentu untuk mendorong darah melalui saringan kecilnya (glomerulus). Jika tekanan hilang, sel-sel ginjal mulai mati karena kekurangan oksigen.

6. Apakah puyer lebih aman daripada sirup?

Puyer menghindari penggunaan pelarut cair yang berisiko terkontaminasi EG/DEG. Namun, puyer tetap harus diberikan sesuai dosis dokter karena kesalahan dosis pada obat puyer juga berbahaya bagi ginjal dan hati anak.

7. Apa itu tes kreatinin?

Kreatinin adalah zat sisa hasil metabolisme otot yang dibuang melalui ginjal. Jika kadar kreatinin dalam darah tinggi, itu berarti ginjal tidak bekerja dengan baik untuk membuangnya.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses