Anemia dan Remaja Putri: Fakta Mengejutkan yang Harus Kamu Tahu!

Kesehatan
Ilustrasi: Instagram @rrce_id.

Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia yang dapat dialami semua kelompok umur, mulai dari balita hingga lanjut usia. Anemia sendiri adalah kondisi tubuh dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal.

Gejala yang sering ditemui adalah 5L (Lesu, Letih, Lemah, Lelah, Lalai), disertai sakit kepala dan pusing (“kepala muter”), mata berkunang-kunang, mudah mengantuk, serta sulit konsentrasi. Secara fisik, penderita anemia dikenali dengan “pucat” pada area wajah  (kelopak mata, bibir), kuku dan telapak tangan. 

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dari hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2018, tercatat sebesar 26,8% anak usia 5-14 tahun menderita anemia dan 32% pada usia 15-24 tahun. Itu artinya 3 dari 10 remaja menderita anemia. Anemia di kalangan remaja perempuan lebih tinggi dibanding remaja laki-laki.

Anemia pada remaja berdampak buruk terhadap penurunan imunitas, konsentrasi, prestasi belajar, kebugaran remaja dan produktivitas. Selain itu, anemia yang dialami remaja putri akan berdampak lebih serius, mengingat mereka adalah calon ibu yang akan hamil dan melahirkan seorang bayi.

Sehingga hal tersebut dapat memperbesar risiko kematian ibu selama dan pasca melahirkan, serta bayi dapat lahir prematur dan berat bayi lahir rendah (BBLR).

Remaja yang kurus atau kurang energi kronis (KEK) dapat disebabkan karena kurang asupan zat gizi, baik karena alasan ekonomi maupun alasan psikososial seperti masalah penampilan. Kondisi remaja KEK dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit infeksi dan gangguan hormonal yang berdampak buruk pada kesehatan.

Asupan gizi yang terpenuhi dapat menentukan status gizi baik seorang remaja. Kondisi tidak anemia dapat terwujud jika kebutuhan akan zat gizi, termasuk zat besi juga terpenuhi. Selain itu, sebagian besar remaja putri yang berstatus anemia juga disebabkan karena setiap bulannya mengalami menstruasi.

Baca Juga: Anemia pada Remaja Putri Masih Terbilang Tinggi?

Sehingga dibutuhkan asupan zat besi yang banyak. Pola menstruasi yang tidak normal menyebabkan remaja putri mengalami pendarahan yang berlebih. 

Remaja putri sebagian besar memiliki pengetahuan tentang anemia, tetapi belum diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seperti tidak sarapan sebelum berangkat sekolah dan sering mengganti makan pagi menjadi makan siang.

Mayoritas remaja putri juga jarang mengkonsumsi makanan yang mengandung zat besi (heme iron) seperti daging, ikan, dan hati. 

Meningkatkan kesadaran tentang pentingnya kesehatan bukanlah hal yang mudah, terutama bagi remaja putri. Padahal, edukasi yang tepat dapat menjadi solusi efektif untuk mencegah dan mengurangi jumlah kasus anemia.

Banyak remaja tidak sepenuhnya memahami apa itu anemia, apalagi menyadari betapa pentingnya mengadopsi kebiasaan sehat seperti mengkonsumsi tablet besi secara rutin.

Salah satu langkah konkret yang dapat diambil adalah memperkenalkan tablet tambah darah (Fe) sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Baca Juga: Adakah Hubungan Antara Frekuensi Asupan Kalsium, Magnesium, dan Zat Besi dengan Siklus Menstruasi pada Remaja?

Tablet ini terbukti efektif dalam mencegah dan mengatasi anemia, seperti yang direkomendasikan oleh berbagai penelitian kesehatan. Namun, kunci keberhasilannya terletak pada sikap dan penerimaan remaja putri terhadap program ini. 

Oleh karena itu, program edukasi harus dirancang menarik dan relevan bagi remaja. Pendekatan interaktif seperti seminar, konten digital, atau kampanye di media sosial dapat menjadi cara untuk menjangkau mereka.

Jika remaja putri memahami betapa pentingnya langkah-langkah ini untuk kesehatan mereka, pencegahan anemia akan menjadi lebih mudah tercapai. Pendidikan kesehatan tidak hanya berbicara tentang fakta, tetapi juga tentang membangun sikap positif dan mendorong perubahan perilaku.

Penulis:
1. Maulani Pratiwi
2. ⁠Rizqi Firdiana Lubis
3. ⁠Vita Yulia
Mahasiswa Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia

Editor: Ika Ayuni Lestari

Bahasa: Rahmat Al Kafi

Ikuti berita terbaru di Google News

Sumber 

Eka Rati Astuti. (2023). Faktor-Faktor Penyebab Anemia Remaja Putri. JJHSR Vol. 5 No.2  https://ejurnal.ung.ac.id/index.php/jjhsr/index 

https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20180515/4025903/kenali-masalah-gizi-ancam-remaja-indonesia/

Kemenkes RI, 2016. Pedoman Pencegahan dan Penanggulangan Anemia Pada Remaja Putri Dan Wanita Usia Subur. Dirjen Kesmas

Mayang D. Safitri & Noerfitri. 2022. Hubungan antara Pengetahuan, Sikap, Perilaku Terkait Anemia dan Asupan Zat Besi dengan Kejadian Anemia pada Mahasiswi Baru STIKes Mitra Keluarga. Jurnal Penelitian Kesehatan Suara Forikes Volume 13 Nomor 2, April 2022. DOI: http://dx.doi.org/10.33846/sf13216 

Risna’im AR, Mahtuti EY, Masyhur M, Faisal (2022) Overview Of Anemia In Young Women Low Body Mass Index (Thin Category) Medicra (Journal of Medical Laboratory Science/Technology). 5:2. doi:10.21070/medicra.v5i2.1636 

Jaswadi. Hubungan Sikap dengan Kejadian Anemia Remaja Putri di SMAN 9 Mataram. J Ilmu Sos dan Pendidik. 2020;4.

Masthalina H. Pola Konsumsi (Faktor Inhibitor dan Enhancer Fe) Terhadap Status Anemia Remaja Putri. J Kesehat Masy. 2015;11(1):80.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses