Apa itu Broken Home? Penyebab, Dampak, dan Cara Mencegah

Apa itu broken home
Apa itu broken home?

Istilah broken home sering kita dengar ketika membicarakan masalah keluarga. Biasanya, istilah ini menggambarkan kondisi rumah tangga yang tidak lagi harmonis, penuh pertengkaran, bahkan berujung pada perceraian.

Namun, broken home tidak hanya sebatas perceraian saja. Kondisi ini lebih luas dan mencakup situasi di mana orang tua tidak lagi peduli dengan suasana rumah, tidak ada komunikasi, hingga hilangnya kasih sayang antaranggota keluarga.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Dalam artikel ini, kita akan membahas secara mendalam tentang:

  • Apa itu broken home
  • Penyebab umum terjadinya broken home
  • Dampak broken home bagi anak dan keluarga
  • Cara mengatasi serta mencegah kondisi broken home

Apa itu Broken Home?

Secara sederhana, broken home adalah kondisi ketika keluarga tidak lagi berjalan harmonis. Biasanya hal ini ditandai dengan seringnya terjadi pertengkaran, hilangnya rasa saling peduli, hingga adanya keputusan untuk bercerai.

Pada dasarnya, setiap keluarga pasti pernah menghadapi konflik. Namun, ketika konflik tersebut dibiarkan tanpa penyelesaian, maka hubungan rumah tangga dapat rusak. Inilah yang kemudian dikenal sebagai broken home.

Baca juga: Kesulitan Belajar Siswa yang Broken Home

Penyebab Broken Home dalam Keluarga

Tidak ada keluarga yang menginginkan keretakan rumah tangga. Namun, ada beberapa faktor yang sering menjadi penyebab broken home:

1. Perceraian Orang Tua

Perceraian merupakan salah satu penyebab paling umum dari broken home. Ketika suami dan istri memutuskan untuk berpisah, anak-anak sering kali menjadi pihak yang paling terluka.

Mereka kebingungan memilih ingin tinggal dengan ayah atau ibu, dan sering kali mendapatkan tekanan dari pandangan masyarakat.

2. Egoisme dan Egosentrisme

Sifat egois dan egosentris orang tua bisa merusak keharmonisan rumah tangga. Egoisme membuat seseorang lebih mementingkan dirinya sendiri dibandingkan orang lain, sementara egosentrisme menjadikan dirinya pusat perhatian. Jika sifat ini tidak dikendalikan, hubungan suami istri akan penuh konflik.

3. Luka Batin dan Inner Child yang Belum Sembuh

Banyak orang membawa luka masa lalu ke dalam pernikahan. Inner child yang belum sembuh dapat membuat seseorang mudah marah, tidak bisa mengendalikan emosi, dan sulit berdamai dengan diri sendiri. Akibatnya, hubungan rumah tangga rentan retak.

4. Hilangnya Tanggung Jawab Orang Tua

Orang tua yang sibuk dengan pekerjaan, karier, atau bahkan hobinya, kadang melupakan tanggung jawab utama dalam keluarga. Hal ini membuat anak kehilangan perhatian dan kasih sayang yang seharusnya mereka dapatkan.

5. Faktor Ekonomi

Masalah finansial juga menjadi pemicu utama broken home. Ketika kebutuhan keluarga tidak terpenuhi, pertengkaran sering kali muncul. Misalnya, suami yang tidak sanggup menafkahi atau istri yang merasa tidak puas dengan kondisi ekonomi.

6. Hilangnya Kehangatan Keluarga

Komunikasi adalah kunci dalam membangun keluarga yang harmonis. Ketika komunikasi hilang, rumah menjadi sepi, dingin, dan penuh jarak antaranggota keluarga. Padahal, perhatian sederhana seperti menanyakan kabar atau mengapresiasi usaha pasangan bisa menjaga keharmonisan.

7. Kehadiran Orang Ketiga

Perselingkuhan adalah salah satu penyebab besar terjadinya perceraian. Kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga merusak kepercayaan dan menimbulkan luka yang sulit disembuhkan.

8. Kurangnya Edukasi tentang Pernikahan dan Parenting

Banyak pasangan menikah tanpa bekal pengetahuan tentang pernikahan dan pengasuhan anak. Akibatnya, mereka kesulitan mengendalikan emosi, tidak memahami kebutuhan pasangan, dan tidak tahu cara membesarkan anak dengan baik.

Baca juga: Cara Bangkit dari Masalah Broken Home

Dampak Broken Home bagi Anak dan Keluarga

Kondisi broken home tidak hanya menyakiti suami atau istri, tetapi juga berdampak besar pada anak-anak. Berikut beberapa dampak yang sering muncul:

1. Hilangnya Rasa Percaya Diri

Anak dari keluarga broken home sering kehilangan rasa percaya diri. Mereka merasa berbeda dengan teman-temannya yang memiliki keluarga utuh.

2. Tekanan Mental dan Emosional

Perasaan stres, tertekan, hingga trauma psikologis sering dialami anak dari keluarga broken home. Tidak jarang, hal ini berdampak pada kesehatan mental mereka.

3. Hubungan yang Renggang dengan Orang Tua

Anak mungkin menyalahkan salah satu orang tua, bahkan keduanya, atas perceraian yang terjadi. Akibatnya, muncul perasaan benci, marah, dan kehilangan rasa kasih sayang.

4. Kesepian dan Insecurity

Anak merasa kesepian karena tidak mendapatkan perhatian yang cukup. Mereka juga mengalami insecurity karena takut ditinggalkan dan merasa tidak berharga.

5. Perilaku Menyimpang

Dalam beberapa kasus, anak dari keluarga broken home rentan terjerumus ke dalam pergaulan bebas, penggunaan narkoba, atau perilaku negatif lainnya sebagai bentuk pelarian.

Cara Mengatasi dan Mencegah Broken Home

Meski berat, kondisi broken home bukan berarti tidak bisa diperbaiki. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mengatasi atau mencegah keretakan keluarga:

1. Mendekatkan Diri kepada Tuhan

Nilai-nilai agama dan spiritual dapat menjadi pegangan penting dalam menghadapi konflik rumah tangga. Dengan iman yang kuat, pasangan lebih mudah ikhlas, sabar, dan berdamai dengan keadaan.

2. Menjaga Komunikasi dalam Keluarga

Komunikasi yang sehat adalah kunci keharmonisan. Luangkan waktu untuk quality time, saling mendengarkan, dan mengungkapkan perasaan dengan jujur.

3. Memberikan Perhatian Penuh

Perhatian kecil bisa membawa dampak besar. Seperti menanyakan kabar anak, memuji pasangan, atau sekadar mengucapkan terima kasih atas usaha yang dilakukan.

4. Edukasi tentang Pernikahan dan Parenting

Pasangan suami istri perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang pernikahan dan pengasuhan anak. Hal ini penting untuk mengelola emosi, memahami peran masing-masing, dan membesarkan anak dengan penuh kasih sayang.

5. Co-Parenting Pasca Perceraian

Jika perceraian tidak bisa dihindari, penting bagi kedua orang tua untuk tetap kompak dalam membesarkan anak. Co-parenting dapat membantu anak merasa tetap dicintai meskipun orang tuanya sudah berpisah.

6. Berdamai dengan Keadaan

Menerima kenyataan adalah langkah awal untuk memulai hidup yang baru. Dengan berdamai, hati menjadi lebih tenang dan hubungan keluarga bisa perlahan membaik.

Baca juga: Memperbaiki Psikologis Remaja di Tengah Keluarga Broken Home

Kesimpulan

Broken home adalah kondisi serius yang tidak hanya memengaruhi pasangan suami istri, tetapi juga berdampak besar pada anak. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari perceraian, faktor ekonomi, hilangnya komunikasi, hingga kehadiran orang ketiga.

Namun, dengan komunikasi yang baik, tanggung jawab, serta pendidikan tentang keluarga, kondisi broken home bisa dicegah. Dan jika pun harus terjadi, yang terpenting adalah bagaimana keluarga tetap menjaga kasih sayang, terutama kepada anak.

Keharmonisan keluarga memang tidak selalu sempurna, tetapi dengan usaha bersama, rumah bisa tetap menjadi tempat yang hangat, penuh cinta, dan nyaman untuk ditinggali.

Penulis: Nanda Nugraheni
Mahasiswa D3 Manajemen Administrasi Universitas Sebelas Maret Surakarta

Editor: Ika Ayuni Lestari

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

1 Komentar

  1. Tahun ini seperti banyak banget gelar anak broken home, karena tingkat perceraian semakin tinggi