Membangun Psikologis Remaja di Tengah Keluarga Broken Home
Remaja adalah masa periode yang penuh perubahan dan tantangan, di tahap ini mereka membutuhkan dukungan emosional yang kuat, terutama dari keluarga sebagai lingkungan terdekat.
Namun, ketika remaja berada dalam situasi keluarga broken home, di mana hubungan antara orang tua tidak harmonis atau telah berpisah, mereka sering menghadapi tekanan yang jauh lebih besar.
Konflik keluarga perceraian, atau hilangnya salah satu figur orang tua, dapat memberikan dampak signifikan terhadap kondisi psikologis mereka,
Namun, kondisi keluarga broken home bukanlah akhir segalanya. Dengan strategi dan pendekatan yang benar, remaja tetap memiliki peluang untuk berkembang menjadi individu yang kuat secara emosional.
Artikel ini akan mengulas berbagai cara untuk memperbaiki dan mendukung kondisi psikologis remaja yang hidup dalam keluarga yang tak utuh, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan oleh orang tua, keluarga dan lingkungan sekitar, guna membantu mereka tumbuh secara positif.
Pengertian Psikologis Remaja dalam Keluarga Broken Home
Perbaikan psikologis remaja dalam keluarga broken home mengacu pada proses untuk memulihkan dan memperkuat kondisi mental remaja, yang terdampak secara emosional akibat ketidakutuhan keluarga.
Proses ini berfokus pada tujuan mengurangi tekanan kecemasan atau rasa kehilangan yang timbul akibat konflik keluarga keluarga, perceraian, atau ketidakhadiran salah satu orang tua.
Baca Juga: Psikoedukasi: Membangun Kesejahteraan Emosional Anak Broken Home
Tujuan utama dari proses ini adalah membantu remaja membangun kembali rasa percaya diri, kestabilan emosional dan hubungan sosial yang positif.
Meskipun mereka menghadapi situasi sulit, pendekatan ini melibatkan peran penting dari orang tua, anggota keluarga lainnya, konselor dan lingkungan sekitar untuk menciptakan suasana yang mendukung bagi pertumbuhan mental dan emosional remaja.
Dengan kata lain, psikologis remaja di tengah keluarga broken home adalah refleksi dari bagaimana mereka memproses tekanan dari lingkungan keluarga yang tidak harmonis, yang sangat dipengaruhi oleh dukungan yang mereka terima serta cara mereka menghadapi situasi tersebut.
Beberapa Pendapat Para Ahli mengenai Perbaikan Psikologis Remaja
Menurut American Sosiological Review, anak dari keluarga broken home perilakunya jauh lebih agresif dibandingkan anak yang lahir dari keluarga cemara.
Erik Erikson (Teori Perkembangan Psikososial)
Erikson menekankan bahwa masa remaja adalah di mana individu berusaha membantu identitas diri.
Dalam keluarga broken home, remaja dapat merasakan kehilangan dukungan emosional dan model peran yang stabil sehingga mengalami kebingungan identitas.
Konflik dalam keluarga juga dapat menghambat perkembangan kepercayaan diri dan hubungan sosial yang sehat.
Baca Juga: Broken Home dan Psikis Anak
Sigmun Freud (Teori Psikoanalisis)
Freud menganggap keluarga sebagai sumber utama dari pembentukan kepribadiaan ketidakharmonisan dalam keluarga dapat mempengaruhi perkembangan ego dan superego.
Carl Rogers (Pendekatan Humanistik)
Carl Rogers berpendapat bahwa setiap individu memiliki potensi untuk tumbuh secara positif jika mendapatkan lingkungan yang mendukung.
Dalam keluarga broken home, remaja sering merasa tidak diterima atau tidak dicintai, yang dapat menghambat perkembangan mereka.
Rogers menekankan pentingnya memberikan unconditional positive regard (penerimaan tanpa syarat) kepada remaja agar mereka merasa dihargai dan mampu mengatasi tantangan.
Faktor-Faktor Psikologis Remaja di Tengah Keluarga Broken Home
Kehilangan rasa aman dikarenakan keluarga biasanya menjadi sumber aman bagi remaja.
Ketidakharmonisan dan perpisahan dapat memunculkan perasaan tidak adanya rasa terlindungi dan khawatir akan masa depan yang akan mereka jalani.
Baca Juga: I’m A Broken Home
Keterbatasan dukungan emosional dikarenakan konflik keluarga yang dapat mengurangi perhatian dan dukungan emosional yang diberikan kepada remaja.
Kebingungan identitas dikarenakan masa remaja adalah proses pencarian identitas atau bisa disebut dengan jati diri.
Remaja sering kali kehilangan identitasnya dikarenakan tidak adanya seorang figur orang tua. Ketidakharmonisan dalam keluarga sering kali memengaruhi stabilitas emosional remaja.
Mereka mungkin merasa kehilangan rasa aman akibat konflik yang terus terjadi atau ketidakhadiran salah satu orang tua.
Selain itu, remaja kerap menyalahkan diri sendiri atas permasalahan yang terjadi dalam keluarga, meskipun itu bukan tanggung jawab mereka. Perasaan bersalah ini dapat berkembang menjadi depresi atau kesedihan mendalam.
Dalam beberapa kasus, remaja juga mengekspresikan emosinya melalui kemarahan atau perilaku agresif sebagai bentuk pelampiasan.
Baca Juga: Menilik Mental Anak “Broken Home”
Penangan Psikologis Remaja di Tengah Keluarga Broken Home
Membangun dukungan emosional, seperti menunjukan rasa kasih saying dan perhatiam, berikan afirmasi postifi untuk meningkatkan rasa percaya diri.
Memperkuat hubungan dengan orang tua dengan cara melakukan aktifitas yang disukai secara Bersama-sama. Hindari membicarakan hal buruk didepan anak.
Konseling dan terapi psikologis dikarenakan peran lingkungan sekitar juga berperan penting, seperti guru dan teman-temannya.
Ajarkan remaja cara mengelola emosi, seperti teknik relaksasi, seperti pernapasan dalam atau meditasi.
Menulis jurnal untuk mengekspresikan perasaan. Sebagai orang tua atau wali, tetaplah menjadi teladan yang baik dalam menghadapi masalah. Menunjukkan sikap tenang, tangguh, dan bijak dapat menjadi inspirasi bagi remaja untuk menghadapi situasi sulit.
Psikologis remaja dari keluarga broken home membutuhkan pendekatan yang berfokus pada pemulihan emosional, stabilitas lingkungan dan penguatan keterampilan sosial.
Baca Juga: Kesulitan Belajar pada Siswa Broken Home
Proses ini melibatkan dukungan dan keluarga, komunitas, serta layanan profesional untuk membantu remaja mengatasi dampak negatif dan tumbuh menjadi individu yang sehat secara mental dan emosional.
Dengan pendekatan yang tepat, remaja dari keluarga broken home tidak hanya dapat mengatasi dampak psikologis yang mereka alami, tetapi juga mengembangkan ketahanan mental yang kuat dan tumbuh menjadi individu yang mandiri dan percaya diri.
Sehingga, di kemudian hari dia tidak mengulangi kesalahan yang sama dan bisa memutus rantai rasa sakit yang diberikan oleh orang tuanya.
Penulis: Armadhata Surya
Mahasiswa Prodi Psikologi, Universitas muhammadiyah Malang
Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












