Belakangan ini, dua wilayah di Indonesia yakni Bali dan Banjar (Kalimantan Selatan) dilanda bencana banjir bandang dan longsor. Peristiwa ini tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan korban jiwa dan kerugian besar. Artikel ini menguraikan kronologi, faktor penyebab, dampak terhadap masyarakat, serta langkah mitigasi yang perlu dilakukan agar bencana serupa tidak kembali terjadi.
Kronologi Peristiwa
1. Bali
Sejak Selasa, 9 September 2025, hujan deras mengguyur hampir seluruh Bali, menyebabkan longsor dan banjir bandang. Puluhan lokasi banjir dilaporkan di Denpasar yang merupakan salah satu daerah yang terkena dampak. Hingga saat ini, sekitar 18 orang meninggal dunia, dan beberapa orang masih hilang, menurut data yang dikumpulkan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selain itu, kerusakan infrastruktur sangat signifikan. Ratusan fasilitas umum rusak, jembatan putus, jalan rusak, tembok penyengker atau penyenggak jebol, dan rumah serta fasilitas umum lainnya terkena dampak.
2. Banjar (Kalimantan Selatan)
Di Kabupaten Banjar, cuaca ekstrem dengan hujan lebat juga menyebabkan banjir yang merendam banyak kawasan dan desa. Sebagai contoh, di Desa Tunggul Nangka, Kecamatan Pengaron, desa yang merupakan dataran terendah di wilayah tersebut, air banjir mencapai ketinggian sekitar satu meter akibat kenaikan tinggi muka air sungai dan curah hujan tinggi.
Jumlah warga terdampak di Banjar mencapai ribuan jiwa dan ratusan rumah. Antara lainnya, tercatat 4.611 jiwa terdampak serta 1.176 unit rumah rusak dalam satu kejadian banjir akibat cuaca ekstrem di Banjar.
Baca Juga: Opini Publik: Banjir Wamena, Tanda Bahaya bagi Tata Ruang dan Respons Bencana di Papua Pegunungan
Penyebab Banjir Bandang dan Longsor
Beberapa faktor alam dan faktor manusia berkontribusi terhadap terjadinya banjir bandang dan longsor di kedua wilayah tersebut:
1. Faktor Alam
- Curah Hujan Ekstrem
Hujan deras yang berlangsung lama di Bali serta hujan deras di Banjarlah yang memicu meluapnya sungai dan luapan air - Fenomena Atmosferik
Gelombang equatorial Rossby disebut sebagai pemicu utama hujan lebat di Bali. Anomali cuaca juga dilaporkan, termasuk kelebihan kelembaban udara dan kondisi hidrologis yang tak mendukung. - Topografi
Daerah perbukitan, lereng curam, dan jaringan Sungai atau “ tukad” di Bali dan Banjar membuat air cepat mengalir, longsor, dan banjir besar ketika curah hujan sedang tinggi.
2. Faktor Manusia
- Alih Fungsi Lahan
Banyak lahan hijau, lereng, sawah, dan bahkan ruang resapan air diubah menjadi hotel, villa, cottage, atau fasilitas pariwisata lainnya di Bali yang mengurangi kemampuan lingkungan untuk menyerap air hujan - Sampah dan Drainase Tersumbat
Tumpukan sampah menyumbat sungai dan selokan, terutama di kota kota seperti Denpasar di mana air tidak dapat mengalir - Tata Ruang Tidak Mendukung
Pembangunan infrastruktur yang tidak memperhatikan jalur air resapan dan ruang hijau terbuka memperparah dampak hujan ekstrem.
Baca Juga: Analisis Dampak dan Penanganan Banjir Besar di Kota Cirebon pada Awal Tahun 2025
Dipengaruhi oleh masyarakat dan infrastruktur
- Korban Jiwa: Sekurang-kurangnya 18 orang meninggal dunia di Bali, dan beberapa lainnya masih hilang.
- Pengungsi dan Warga Terdampak: Ratusan hingga ribuan orang harus meninggalkan rumah mereka untuk mengungsi ke pos pengungsian. Infrastruktur umum seperti sekolah, gereja, dan balai desa digunakan sebagai tempat penampungan sementara.
- Kerusakan Fisik: Ada ribuan fasilitas umum yang rusak di Bali, termasuk rumah, jalan, tembok, jembatan yang runtuh atau rusak, dan fasilitas umum.
Mitigasi dan Penanganan
Beberapa tindakan penting dilakukan untuk mengurangi dampak di masa depan dan merespons situasi darurat:
- Pembersihan dan Pengelolaan Sampah: Pemerintah daerah harus memperkuat sistem pengelolaan sampah dan pembersihan rutin agar sungai dan aliran air tidak tersumbat.
- Penataan Ruang dan Alih Fungsi Lahan Terencana: Tidak boleh sembarangan membangun bangunan keras di lereng, sawah, atau lahan resapan tanpa mempertimbangkan daya tampung lingkungan. Kawasan yang rawan longsor harus dipetakan dan dijaga.
- Early Warning System (EWS) mengukur debit sungai, tinggi muka air, kelembapan, dan curah hujan untuk memberikan informasi cepat kepada masyarakat. Sudah ada pemantauan (TMA) Tinggi Muka Air dan penggunaan sensor di Banjar.
- Mengembangkan infrastruktur drainase kota yang lebih besar, memperkuat jembatan dan tembok penyengker, dan membangun sistem pengaliran air hujan yang mampu menampung hujan yang sangat tinggi
- Edukasi publik dan partisipasi publik akan sangat penting untuk menjaga lingkungan bersih, menghindari pembuangan sampah sembarangan, dan mempertahankan area resapan air.
- Koordinasi antar sektor pemerintah harus lebih diperkuat. Pemerintah pusat, daerah, BMKG, BNPB, dan institusi lingkungan hidup harus saling bekerja sama. Dalam hal tata ruang dan pembangunan lestari, undang-undang lokal juga harus diperkuat.
Kesimpulan
Banjir bandang dan longsor yang terjadi di Bali dan Banjar menunjukkan bahwa kombinasi peristiwa alam dan manusia dapat sangat mematikan jika tidak ditangani dengan baik. Faktor penyebab yang signifikan termasuk curah hujan yang ekstrim, fenomena seperti gelombang Rossby, topografi yang rawan, alih fungsi lahan, dan masalah sampah dan drainase.
Mitigasi dan adaptasi bencana harus menjadi prioritas utama di masa mendatang. Ini termasuk tata ruang yang bijaksana, sistem peringatan dini yang handal, kesadaran masyarakat, dan penegakan regulasi lingkungan hidup. Langkah-langkah ini dapat mengurangi risiko korban dan dampak ekonomi bencana alam seperti banjir bandang dan longsor.
Penulis: Muhammad Farrel Muzhaffar
Mahasiswa Prodi Akuntansi Universitas Airlangga (UNAIR)
Editor: Fifi Elvira
Bahasa: Rahmat Al Kafi
Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI












