Biaya Mahal Anak Bangsa: Kalah Perang di Kamar Sempit

Biaya Mahal Anak Bangsa: Kalah Perang di Kamar Sempit
Sumber: freepik.com

“Bebas!” Itulah kata pertama yang terlintas saat saya resmi menjadi mahasiswa rantau. Sebuah ritual yang mungkin dinanti oleh jutaan anak muda di Indonesia.

Saya bisa bebas dari omelan orang tua, bebas mengatur jadwal sendiri, bebas menentukan kapan tidur dan kapan makan. Namun, beberapa bulan pertama saya ditampar realitas.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Kata “bebas” ternyata nama lain dari perang batin setiap hari. Alarm jam 5 pagi yang saya snooze hingga jam 9. Kamar kos yang awalnya rapi kini penuh tumpukan baju kotor.

Rasa bebas ini juga merambat ke tugas kuliah yang baru dikerjakan beberapa jam sebelum tenggat waktu, tentunya diiringi rasa penyesalan, ‘Kenapa baru aku kerjakan sekarang ya?’. Kebebasan ini terasa seperti sabotase.

Usaha pertama saya untuk berubah adalah dengan cara “melawan”. Saya membuat to-do-list di smartphone lalu bersumpah akan disiplin. Hasilnya? Gagal total dalam seminggu.

Energi saya habis untuk “melawan” kemalasan. Lucunya, semakin keras saya melawan, semakin kuat ia mencengkeram.

Baca Juga: Konflik yang Terjadi pada Tawuran Pelajar atau Mahasiswa Muncul karena Apa?

Saya merasa rusak, payah, dan tidak sehebat teman-teman. Saya merantau membawa harapan besar. Gagal bukan pilihan. Saya harus survive dan membangun masa depan. Tapi bagaimana?

Saya buntu, hingga saya menemukan sebuah konten YouTube dari TED Talks yang dibawakan oleh psikiater Judson Brewer.

Ia menjelaskan bahwa otak kita tidak bodoh. Otak kita bekerja dalam lingkaran sederhana yang terdiri dari pemicu (trigger), perilaku (behavior), dan imbalan (reward).

Kebiasaan buruk saya mulai terpetakan. Pemicunya adalah stres melihat notifikasi tugas. Perilakunya adalah membuka media sosial.

Imbalannya adalah distraksi sementara dari rasa cemas. Otak saya hanya mencari “imbalan” termudah untuk lari dari rasa ketidaknyamanan.

Di sinilah metode Brewer mulai membantu saya. Alih-alih “melawan” dorongan itu, ia menyarankan untuk menjadi penasaran. Jangan dilawan tapi diamati.

Baca Juga: The Lack of Public Spaces in Indonesia

Kita diminta untuk menyadari dorongan itu, menjadi penasaran tentang apa yang sebenarnya kita rasakan, lalu merasakan dengan jujur imbalan dari perilaku buruk tersebut. Setelah itu, otak kita akan belajar sendiri.

Saya putuskan untuk mencoba. Sore itu, pemicunya datang. Tugas kuliah menatap saya di layar laptop.

Dorongan untuk scrolling muncul dengan kuat. Kali ini, saya tidak melawan. Saya diam. Saya sadari dorongan itu ada.

Lalu, saya bertanya pada diri sendiri, ‘Apa yang sebenarnya saya rasakan? Kalau saya turuti scrolling, apa yang saya dapat?’

Kali ini saya tetap lanjut scrolling, tapi sambil “penasaran”. Saya pun menyadari ada rasa yang berbeda.

Setelah saya pikirkan, ternyata imbalan dari scrolling itu hampa. Rasanya hanya seperti pelarian murahan yang membuat saya semakin pusing dan cemas setelahnya.

Saat itulah “imbalan” yang baru muncul. Bukan imbalan dari media sosial, tapi kegembiraan kecil karena berhasil melihat jebakan itu.

Ada rasa “menang” karena saya tidak lagi diperbudak oleh dorongan impulsif sendiri. Saya kembali ke laptop.

Tentu saja, beberapa menit kemudian dorongan itu datang lagi. Saya ulangi lagi prosesnya. Sadari, penasaran, dan rasakan kemenangan kecil itu.

Baca Juga: 7 Cara Mengatasi Homesick saat Kuliah bagi Mahasiswa Rantau

Apakah saya langsung berubah menjadi mahasiswa teladan? Tentu tidak. Artikel ini ditulis setelah beberapa kali pertarungan “penasaran”.

Ini bukan tentang “keberhasilanku” tapi tentang “saya yang sedang berproses”. Proses ini mengajarkan saya bahwa perubahan tidak datang dari paksaan, tapi dari kesadaran.

Perjuangan ini bukan hanya soal nilai atau IPK. Ini adalah agenda personal saya untuk menjadi manusia yang berfungsi utuh.

Bagaimana saya bisa bicara muluk-muluk soal membangun masa depan yang berkualitas, berkontribusi bagi masyarakat, atau sekadar hidup sejahtera, jika hari ini saja saya masih kalah perang dengan diri sendiri?

Rugi rasanya menghabiskan biaya besar jika saya tidak bisa fokus menyerap ilmu, hanya karena tidak bisa mengelola diri.

Menjadi mahasiswa rantau adalah simulasi kehidupan. Jauh dari orang tua, kita dipaksa menjadi “pengurus” bagi hidup kita sendiri. Pertarungan inilah yang sering luput dari perhatian.

Padahal, di sinilah letak investasi terpenting itu. Negara kita memang sering berbicara tentang “SDM unggul” atau bonus demografi.

Baca Juga: Dia yang Menyerupaiku: Kisah Mistis dari Sebuah Kamar Kos

Tapi, apa arti semua jargon besar itu jika individu di dalamnya rapuh? Kualitas sebuah bangsa tidak dibentuk oleh slogan, tapi oleh jutaan individu yang berhasil mengelola dirinya.

Dengan berhenti “melawan” dan mulai “penasaran”, saya tidak hanya sedang belajar mengerjakan tugas.

Saya sedang belajar menempa diri menjadi manusia yang sadar, disiplin, dan utuh. Kita, para mahasiswa, adalah aset berharga itu.

Namun, aset itu tidak terbentuk di ruang kelas saja. Ia ditempa di kamar kos, dalam pertarungan sunyi melawan prokrastinasi.

Saya percaya, sebelum kita bisa mengelola masalah besar bangsa ini, kita harus terlebih dahulu memenangkan perang batin di kamar kita masing-masing.

Perubahan besar selalu dimulai dari sana, satu dorongan dalam satu waktu.

 

Penulis: Afifah Nabila Devi
Mahasiswa Prodi Teknik Informatika, Universitas Brawijaya

Editor: Siti Sajidah El-Zahra
Bahasa: Rahmat Al Kafi

 

Ikuti berita terbaru Media Mahasiswa Indonesia di Google News

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses