Yoo gaiss… Pernahkah Kalian memulai sesuatu dengan semangat membara, tetapi perlahan berhenti di tengah jalan karena hasilnya tidak muncul secepat yang diharapkan?
Pengalaman ini sangat familiar bagi saya, terutama ketika memulai latihan angkat beban. Saya memulai weight training pada 1 September 2022 dengan pemikiran naif: “Dalam tiga bulan, badan impian pasti tercapai.” Jika diingat kembali sekarang, anggapan itu terasa lucu.
Seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa latihan angkat beban bukan sekadar membentuk tubuh, tetapi juga membangun karakter, kesadaran diri, serta kedisiplinan.
Dalam konteks filsafat olahraga, latihan fisik merupakan jalan menuju keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan moral. Konsistensi di sini bukan hanya soal rajin hadir ke gym, melainkan upaya berkelanjutan untuk mencapai kesempurnaan diri melalui disiplin dan pengendalian diri.
Pertanyaan
Dari perjalanan ini, muncul sejumlah pertanyaan:
Mengapa banyak orang gagal bertahan, padahal semangat awal sangat tinggi?
Apakah konsistensi hanya soal rajin berlatih, atau tentang kesetiaan terhadap tujuan jangka panjang?
Jika hasil datang dengan lambat, apakah itu berarti gagal, atau justru bagian dari pelajaran kesabaran?
Mengapa Banyak Orang Gagal? Rahasia Konsistensi yang Sering diabaikan
Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena ekspektasi yang tidak realistis. Keinginan mendapat hasil cepat membuat seseorang mudah menyerah ketika progres tidak segera terlihat. Saya melihat ini pada banyak teman yang memulai latihan: semangat awal luar biasa tinggi, tetapi begitu tubuh tidak menunjukkan perubahan signifikan, mereka memilih berhenti.
Padahal, fase awal latihan bukan hanya tentang fisik, tetapi juga menguji komitmen dan ketahanan mental.
Konsistensi adalah kunci utama. Tanpa itu, disiplin, teknik latihan, maupun pola makan tidak akan berjalan dengan benar. Penelitian Kaushal & Rhodes (2015) menunjukkan bahwa konsistensi membangun kebiasaan positif yang akhirnya mempermudah seluruh proses latihan.
Contoh Nyata dari Tokoh Paling Terkenal dan Bodybuilder
Salah satu contoh nyata adalah Cristiano Ronaldo. Pada usia 40-an, ketika kondisi fisik manusia biasanya menurun, ia masih mampu bersaing di level tertinggi. Hal tersebut dicapai melalui rutinitas latihan yang ketat, pola makan teratur, dan disiplin tinggi dalam menjaga tubuh.
Banyak sumber menyebut kondisi biologisnya sekitar 11 tahun lebih muda dari usia sebenarnya. Tentu ada yang mengatakan performanya menurun, namun itu wajar karena usia tetap memberi batas alamiah.
Analogi sederhana: sebuah motor yang dirawat dengan baik tetap dapat berjalan optimal, tetapi tidak akan kembali seperti baru. Begitu pula Ronaldo; performanya mungkin menurun, tetapi konsisten membuatnya tetap kompetitif di laga-laga yang krusial, bayangkan di usia yang ke 40 kemarin baru saja mencetak gol bicycle kick pada 24 November 2025
Tokoh lain yang menginspirasi saya siapa lagi kalau bukan Ade Rai, bapak binaraga Indonesia. Dengan tubuh seperti dewa Yunani dan tutur kata yang selembut sutra, beliau bukan hanya membangun otot, tetapi juga membangun pola pikir masyarakat tentang pentingnya gaya hidup sehat.
Melalui analogi-analogi yang mudah dipahami, ia mengajarkan bahwa hasil besar berasal dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. bayangkan di umur yang sudah 50 tahunan dengan tubuh selayak di masa primenya sekitar 20 tahun yang lalu, itu menunjukkan bahwa beliau juga menunjukkan konsistensi layaknya atlet binaraga yang akan bertandaing.
Begitu pula para atlet Mr. Olympia dua diantaranya adalah atlet yang mewakili indonesia di panggung dunia yaitu Isai Kesek dan Fanni Fuadi. Mereka melewati proses panjang: mulai dari NPC, Arnold Classic, hingga IFBB, layaknya sistem kualifikasi Piala Dunia. Setiap hari mereka menjalani latihan, pola makan, dan istirahat yang sangat teratur. Hasil yang mereka dapat bukan keberuntungan, melainkan buah dari dedikasi dan konsistensi tingkat tinggi.
Pierre de Coubertin, pendiri Olimpiade modern, pernah menegaskan bahwa olahraga bukan hanya tentang kemenangan, tetapi tentang pembentukan watak, moral, dan ketekunan. Konsistensi adalah cara seseorang menghargai proses, terutama ketika semangat mulai menurun.
Sisi Gelap Konsisten
Namun, konsistensi tidak selalu positif bilamana tidak didampingi oleh kesadaran diri. Di dalam dunia fitness, terdapat risiko besar pada saat konsistensi berubah menjadi obsesi terhadap tubuh. Ketidakpuasan terhadap body image dapat mendorong seseorang untuk merasa “tidak pernah cukup”, meski sudah berlatih keras.
Pada titik waktu ini banyak orang ingin mencari jalan pintas. Salah satu jalan pintas itu adalah penggunaan steroid anabolik. Steroid sering kali dipersepsikan sebagai suatu solusi untuk secara instan. Solusi ini diyakini akan mampu mempercepat pertumbuhan otot.
Padahal, steroid pada penggunaan kemudian membawa risiko serius. Ini termasuk gangguan pada hormon tersebut, kerusakan pada organ tubuh, masalah psikologis juga, hingga ketergantungan sepenuhnya.
Atlet bodybuilding profesional memang berada pada konteks berbeda. Mereka hidup dari tubuhnya di bawah suatu pengawasan medis yang sangat ketat. Selanjutnya, karena adanya tuntutan kompetisi membuat standar fisik mereka menjadi tidak alami lagi. Namun, bagi masyarakat awam yang berolahraga demi kesehatan juga tujuan badan realistis, steroid bukanlah solusi, melainkan masalah.
Konsistensi yang sehat tentu saja perlu membangun ke arah atas, alih-alih menghancurkan ke arah bawah. Andai tujuan kita tubuh ideal, tubuh sehat, juga tubuh berkelanjutan, maka olahraga rutin, nutrisi seimbang, serta istirahat cukup, itu sudah lebih dari cukup. Justru sebuah jalan instan mengkhianati terhadap makna konsistensi itu sendiri.
Konsistensi: Lebih Dari Sekadar Kebiasaan, Ini Filsafat Hidup
Konsistensi bukan sekadar mengulang tindakan yang sama, tetapi mempertahankan komitmen meski hasil belum terlihat. Banyak orang mengatakan bahwa konsisten itu berat. Namun sebenarnya, yang berat adalah tetap menjaga motivasi ketika tidak ada perubahan instan.
Dalam filsafat Aristoteles, khususnya dalam Nicomachean Ethics, kebajikan terbentuk dari kebiasaan. Kita menjadi baik karena terus menerus melakukan tindakan baik. Dalam dunia latihan, konsistensi bukan hanya membangun otot, tetapi juga membangun karakter.
Stoikisme, melalui ajaran Epictetus dan Marcus Aurelius, mengingatkan bahwa manusia hanya dapat mengendalikan tindakannya, bukan hasil akhir. Maka, fokuslah pada usaha dan ketekunan, bukan kecewa terhadap progres yang lambat. Keterlambatan bukan kegagalan, melainkan latihan kesabaran.
Konsistensi juga membangun kesadaran diri. Dengan rutin berlatih, seseorang belajar mengenali tubuhnya, memahami batasannya, dan mengatur ritme hidupnya. Tetapi konsistensi tidak berarti memaksa tubuh terus bekerja. Ada saatnya tubuh membutuhkan istirahat dan pikiran membutuhkan ketenangan. Keseimbangan antara latihan dan pemulihan adalah kunci agar konsistensi dapat bertahan lama.
Baca juga: Body Goals Menurut Ahli Gizi
Penelitian Ann L. Coker & Butz (2017) menjelaskan konsep perseverance of effort, yaitu kemampuan untuk terus berusaha meskipun progres lambat. Di sinilah makna konsistensi sebenarnya: tetap setia pada tujuan, apa pun hambatannya.
Jika dianalogikan, konsistensi mirip dengan cinta. Ia bukan emosi sesaat, tetapi komitmen yang dijaga meski kondisi berubah. Jika kita masih mencintai prosesnya, kita akan terus bertahan.
Selama lebih dari tiga tahun menjalani latihan, saya menyadari bahwa konsistensi membentuk cara berpikir dan karakter saya. Setiap repetisi, setiap set, dan setiap variasi latihan menyimpan nilai filosofis tentang usaha, kesadaran, dan pertumbuhan diri. Aristoteles pernah berkata, “Excellence is not an act, but a habit.” Konsistensi bukan sekadar kebiasaan, melainkan prinsip hidup.
Kesimpulan: Konsistensi adalah Fondasi Kesuksesan
Dari pengalaman pribadi, saya menyadari bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada motivasi sesaat. Saya dulu mengira hasil bisa datang dengan cepat. Namun ternyata, bagian tersulit adalah bertahan ketika perubahan belum terlihat.
Konsisten bukan berarti harus sempurna setiap hari, tetapi tetap berusaha meski sedang malas, lelah, atau kehilangan semangat. Jika di tahap awal saja seseorang tidak mampu membiasakan diri, bagaimana mungkin ia bisa mencapai tahap berikutnya?
Pada akhirnya, yang terpenting bukan seberapa cepat kita berubah, tetapi seberapa kuat kita bertahan dalam prosesnya. Hasil adalah bonus dari rutinitas yang dijaga. Konsistensi mungkin terlihat sederhana, tetapi dari situlah semua hal besar dimulai.
Penulis: M. Nabil Raditya Madani
Mahasiswa Ilmu Keolahragaan, Universitas Negeri Malang
Aktif juga sebagai Mahasiswa dan Personal Trainer GYM
Referensi
Ann L Coker, & Butz, A. M. (2017). HHS Public Access. Physiology & Behavior, 176(5), 139–148. https://doi.org/10.1080/17439760.2014.898320.Unpacking
Henslee, J., & Henslee, J. N. (2017). Body Image and Bodybuilding : The Impact Commitment to Bodybuilding Has on Body Image Disturbance among Competitive Bodybuilders.
Kaushal, N., & Rhodes, R. E. (2015). Exercise habit formation in new gym members: a longitudinal study. Journal of Behavioral Medicine, 38(4), 652–663. https://doi.org/10.1007/s10865-015-9640-7
Marcori, A. J., Gamberini, M. G., & Nunes, J. P. (2024). Do bodybuilders pose symmetrically ? Lateral bias analysis in mandatory poses of Mr . Olympia Classic Physique athletes. Laterality: Asymmetries of Brain, Behaviour, and Cognition, 29, 487–503. https://doi.org/10.1080/1357650X.2024.2432451
Oktario, R. (2023). Suntik Hormon Meningkatkan 20lbs Masa Otot ? Natural vs Steroid. 02(06), 55–61.
Platonov, R. (2021). The Function of Ethical Virtues in Aristotle’s Ethics. Ethical Thought. https://doi.org/10.21146/2074-4870-2021-21-2-77-89.
Isaacs, D. (2023). Control and Stoicism. Journal of Paediatrics and Child Health, 59. https://doi.org/10.1111/jpc.16300.
Saputra, M., Rais, Z., & Elfi, E. (2023). Marcus Aurelius’ Stoicism and its Solution to Overthinking. Islamic Thought Review. https://doi.org/10.30983/itr.v1i1.6422.
Nanayakkara, S. (2020). Educating youth through sport: Understanding Pierre de Coubertin’s legacy today. European Scientific Journal ESJ. https://doi.org/10.19044/esj.2020.v16n39p95.
Rolla, G. (2024). Self-knowledge from resistance training. Phenomenology and the Cognitive Sciences. https://doi.org/10.1007/s11097-024-10020-z.
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














