Tolong Kaki Saya Sakit, Tapi Isi Pikiran Teriak: “Kau Diam!”

Ilustrasi Olahraga (Sumber: Penulis)

Setiap atlet pasti punya cerita soal titik terendahnya saat tubuh mulai bicara, tapi otak merasa keras kepala. Kadang lewat napas yang mulai berat, kadang lewat otot yang kaku, atau nyeri yang selalu kambuh. Buat saya, suara tubuh itu datang pada sore hari di tahun 2023.

Saat itu, kaki kiri seperti menolak untuk melangkah. Awalnya saya pikir cuma pegal biasa. Tapi itu adalah awal kehancuran karir yang mengubah saya memandang hidup. Waktu itu saya masih aktif jadi atlet atletik nomor 5.000 meter.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Hidup teratur, empat kali seminggu latihan lari, tiga kali latihan kekuatan. Dunia cuma berputar di sekitar lintasan, stopwatch, sepatu, dan target waktu. Semua terasa jelas ada tujuan, proses, hasil yang bisa diukur. Kalau berhasil menurunkan waktu satu detik saja, rasanya seperti menaklukkan dunia kecil saya sendiri.

Dari catatan 19 menit 48 detik, saya terus bermimpi bisa tembus 18 menit di nomor 5.000 meter. Tetapi pelatih mengatakan, “menurunkan satu detik itu berat, tapi pelatih yakin kamu ada potensi dengan catatan tidak berambisi dengan mimpimu yang terlalu tinggi”. Dalam pikiran saya, “mustahil” itu cuma kata yang dibuat orang malas, prinsip saya hanya “mental aja bos”.

Baca juga: Olahraga dan Penguatan Kepercayaan Diri Atlet

Ternyata, tubuh punya logika sendiri. Ada batas yang tidak bisa dipaksa, sekuat apa pun tekad kita dalam mengejar ambisi dan kemampuan, saya kalah bukan karena menyerah, tapi karena ingin jadi yang lebih cepat, kuat, dan tangguh karena idola saya waktu itu adalah Eliud Kipchoge, pelari Kenya yang mempunyai rekor fantastis.

Di benak saya mungkin orang dengan kekuatan super. Saya ingin buktikan sesuatu, bahkan tanpa sadar bukan cuma ke pelatih atau orang lain, tapi ke diri sendiri. Sampai akhirnya, kaki saya benar benar menyerah, rasanya tubuh ingin kembali istirahat total dan masih ingat momen itu.

Saya berhenti di tengah lintasan, pegang pergelangan kaki, dan bilang ke pelatih, “Tolong, kaki saya sakit.” Tapi anehnya, di dalam kepala malah ada suara yang teriak, “Kau diam, mental aja boss!”. Seolah ada dua versi diri yang sedang berdebat. Satu ingin istirahat, satu lagi memaksa buat lanjut.

Di situlah saya sadar, manusia bisa keras kepala dengan dirinya sendiri. Saya pikir sedang berjuang, padahal sedang melawan tubuh yang cuma minta dimengerti seperti layaknya wanita.

Saat itu, hasil latihan yang saya bangun sejak 2018 terasa runtuh begitu saja. Tidak ada lagi target waktu, jadwal latihan, dan suara carbon plate yang menghantam lintasan sore hari. Dunia saya langsung sunyi. Saya kehilangan arah. Hari pertama setelah itu terasa aneh.

Setiap pulang sekolah masih teringat jam yang sama, tapi tidak tahu harus bagiamana. Saya duduk di kasur dan terasa hampa. Semua orang di sekitar saya masih sibuk dengan rutinitasnya, ada yang latihan, lomba, dan upload Strava di Instagram. Saya cuma bisa melihat melalui media sosial. Di titik itu, otak mulai berpikir: siapa diriku yang sebenarnya jika aku berhenti dari dunia atletik?.

Pertanyaan itu menghantui terus dari hari ke hari. Sampai akhirnya saya mulai membaca hal-hal yang dulu tidak sempat saya pikirkan, termasuk tentang filsafat. Di situ saya menemukan pandangan dari eksistensialisme tentang bagaimana manusia didefinisikan bukan dari apa yang dia capai, tapi dari kesadarannya terhadap keberadaan.

Awalnya tidak paham, tapi makin lama makin nyantol di kepala. Saya mulai sadar, mungkin selama ini terlalu mengukur dari catatan waktu, medali, dan hasil. Padahal eksistensi saya sebagai manusia tidak berhenti cuma karena saya tidak bisa berlari lagi.

Tepat di tahun 2024, saya kuliah di Fakultas Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Malang, dan ironisnya, sekarang saya belajar teori – teori tentang tubuh, latihan, dan keseimbangan hal-hal yang diabaikan kala itu. Dulu saya cuma pengen kuat, tapi tidak pernah peduli bagaimana cara tubuh tetap sehat. Sekarang saya mengerti, tubuh itu bukan mesin.

Dia hidup, dan dia juga butuh istirahat. Lucunya, setelah berhenti jadi atlet, justru merasa punya ruang buat hal lain. Mulai bekerja sampingan sebagai kurir, mengerjakan tugas kuliah, mengobrol dengan banyak orang tanpa harus memikirkan jadwal latihan. Saya mulai “berlari” dalam bentuk lain mengejar kewajiban, bukan kecepatan. Mungkin memang ini fase baru yang harus saya jalani.

Dari pengalaman itu, saya juga belajar makna yang lebih dalam tentang batas. Selama ini selalu menganggap batas itu musuh yang harus ditembus. Tapi sekarang tahu, batas itu juga pelindung. Tubuh punya caranya sendiri buat kasih sinyal, dan kalau kita terlalu keras kepala, ya dia akan memaksa kita berhenti.

Dulu merasa paling hebat karena bisa tahan sakit, padahal sekarang saya sadar, berhenti itu juga bentuk kekuatan. Mungkin ini juga bagian dari perjalanan eksistensial saya mengenali diri lewat kehilangan. Karena setelah kehilangan “identitas” sebagai atlet, mengerti siapa saya jika tanpa sepatu plat carbon, stopwatch, dan pelatih.

Ternyata masih bisa jadi seseorang yang berarti, bahkan tanpa podium atau medali “walaupun dari dulu tidak pernah podium”. Saya bisa tetap jadi manusia yang hidup dengan penuh makna, cuma karena masih mau belajar, masih sadar, dan masih mau tumbuh.

Sekarang kalau ada yang tanya, “Kamu udah ga pengen lari lagi?” Saya akan jawab, “Saya lebih pengen versi diri saya yang tenang dan pergi memancing ikan.” Karena sekarang merasa jauh lebih damai. Tidak perlu lagi buktikan apa-apa. Saya cuma pengen jalan menikmati proses, dan sesekali merasa cukup.

Kadang berpikir, mungkin benar kata para filsuf: manusia itu makhluk yang terus mencari makna. Dan rasa sakit fisik maupun batin, adalah salah satu cara hidup mengajarkan kita buat berhenti sejenak dan mendengarkan diri sendiri.

Saya pernah paksa tubuh saya buat diam, sekarang justru belajar diam untuk mendengar tubuh. Kaki saya mungkin tidak akan pernah pulih seperti dulu, tapi tidak akan menyesal. Dari situ saya belajar tentang kesadaran, batas, dan penerimaan.

Bahwa hidup bukan cuma tentang cepat atau lambat, tapi tentang seberapa sadar kita dalam melangkah. Kemenangan sejati bukan di garis finish, tapi di titik ketika kita bisa berdamai dengan diri sendiri.

Sekarang saya tahu, mencapai target bukan satu satunya cara buat maju. Kadang, dengan berhenti pun, kita tetap bisa tumbuh. Karena yang bikin manusia benar-benar bergerak adalah kesadaran. Mungkin, di antara semua hal yang pernah tercapai, kesadaran itu adalah catatan waktu terbaik.

 

Penulis: Muhammad Wildan Hadiansyah
Mahasiswa Pendidikan Kepelatihan Olahraga, Universitas Negeri Malang
Dosen Pengampu: Nurrul Riyad Fadhli

Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses