Dari Desa ke Kota, IKADI Tegaskan Dakwah Tanpa Pamrih dan Tanpa Afiliasi Politik

IKADI Indragiri Hilir

Di tengah maraknya tuduhan afiliasi politik yang sering mengarah kepada ormas-ormas Islam, Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Indragiri Hilir tampil dengan pernyataan tegas: organisasi ini independen, tidak berafiliasi dengan partai manapun, dan seluruh energinya dicurahkan untuk dakwah yang menyentuh masyarakat paling bawah.

Pernyataan itu disampaikan langsung oleh salah satu tokoh senior IKADI yang akrab disapa Buya, dalam sebuah wawancara eksklusif yang mengupas kiprah, tantangan, dan harapan organisasi ini di era modern.

Ingin publikasi Artikel, Opini, Berita dan Essay di Media Mahasiswa Indonesia?
Atau di Media Online Nasional, Hubungi Redaksi MMI

Bukan Underbow Siapapun

Nama IKADI kerap dikaitkan dengan salah satu partai politik besar di Indonesia. Namun Buya meluruskan anggapan tersebut dengan lugas.

“Banyak orang mengatakan IKADI ini kan underbow salah satu partai. Sebenarnya, tidak. IKADI ini independen. Dia bagaimana memperjuangkan dan menjaga NKRI,” ujarnya.

Ketegasan ini bukan sekadar retorika. IKADI sejak awal berdirinya menempatkan dakwah sebagai panglima, bukan kepentingan politik. Dengan struktur organisasi yang berjenjang dari pusat hingga daerah, setiap kebijakan dan program IKADI diarahkan semata-mata untuk memperluas jangkauan syiar Islam di seluruh pelosok negeri.

Baca juga: Dakwah di Atas Awan: Saat Doa Islam dan Mantra Tengger Larut dalam Satu Sarung

Dua Mobil ke Pedalaman: Kisah Dai yang Tak Butuh Imbalan

Salah satu program unggulan IKADI yang paling mencerminkan semangat keikhlasan adalah Dai Bina Desa. Program ini mengirimkan para dai langsung ke desa-desa terpencil yang selama ini minim sentuhan dakwah.

Buya menuturkan pengalaman nyata yang membekas:

“Dulu kita dua mobil ke daerah, ke Tempuling dan Tembilahan, kita turunkan dai kita di sana. Dan dai kita ini tidak butuh, tidak mengharapkan apa-apa, kecuali untuk menyampaikan dakwah,” tuturnya.

Tempuling dan Tembilahan adalah dua wilayah di pedalaman Indragiri Hilir yang secara geografis cukup terpencil. Fakta bahwa IKADI rela mengirimkan tim dai ke sana tanpa imbalan materi menjadi bukti konkret bahwa organisasi ini benar-benar berorientasi pada pelayanan, bukan seremoni.

Program ini kini akan kembali dihidupkan dengan cakupan lebih luas, menjangkau setiap desa yang memiliki masjid sebagai titik koordinasi dakwah.

Baca juga: Ramadhan di Negeri Minoritas: Catatan Dakwah dari Jepang dan Hongkong

Zoom Bulanan, Jurus IKADI Menyatukan Persepsi di Era Digital

Merespons pertanyaan tentang bagaimana IKADI beradaptasi dengan perkembangan teknologi, Buya menjelaskan bahwa koordinasi digital sudah menjadi rutinitas organisasi.

“Utama yang di provinsi, kita selalu melakukan Zoom. Zoom minimal dalam sebulan itu pasti ada untuk menyatukan persepsi dakwah itu sendiri,” katanya.

Penggunaan platform video conference ini memungkinkan seluruh pengurus provinsi IKADI yang tersebar di berbagai wilayah Indragiri Hilir tetap terkoordinasi meski terpisah jarak jauh.

Bagi Buya, perkembangan zaman justru menjadi peluang. Semakin canggih teknologi, semakin mudah para dai menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

Baca juga: Dakwah di Era Digital: Menjaga Adab, Kreativitas, dan Kesesuaian Zaman dalam Menyebar Kebaikan

Pesantren: Gerbang Kaderisasi Generasi Dai Masa Depan

Di bidang pendidikan, IKADI menaruh perhatian besar pada pesantren sebagai mitra strategis.

Buya menjelaskan alasannya:

“Hari ini IKADI itu banyak mengarah pada pesantren. Sebab pendidikan ini kan melahirkan pastinya, maka IKADI harus punya loyalitas ke dalam itu,” jelas Buya.

Pesantren dipilih bukan tanpa alasan. Selain memiliki lingkungan yang kondusif untuk pembinaan, pesantren juga lebih terbuka menerima program pengkaderan dai muda.

IKADI telah membentuk divisi khusus kepemudaan yang akan bergerak aktif mengunjungi pesantren, kampus, dan sekolah. Tujuannya satu: mencetak generasi dai yang siap meneruskan estafet dakwah.

“Pengaderan ini harus dilakukan, karena kan untuk menggantikan penerus-penerus ya, anak-anak muda,” tegas Buya.

Pernyataan ini mencerminkan kesadaran organisasi bahwa keberlangsungan dakwah tidak bisa hanya mengandalkan generasi lama, melainkan harus terus meregenerasi kader-kader baru yang berkarakter dan berilmu.

Baca juga: Hikmah Berdakwah bagi Remaja Muslim: Pelajaran Berharga dari Tafsir Surah ‘Abasa

Tiga Harapan IKADI untuk Indonesia

Menutup wawancara, Buya menyampaikan tiga harapan besar untuk IKADI di masa mendatang.

  1. Menjangkau seluruh daerah terpencil yang belum tersentuh dakwah.
  2. Memperbanyak kaderisasi dai agar penyebaran agama semakin merata.
  3. Mendorong masyarakat memahami Islam secara kaffah.

Banyak pemahaman Islam ini kan separuh-separuh. Maka IKADI itu berorientasi bagaimana memahami Islam ini secara keseluruhan, supaya tidak ada perpecahan di dalam,” pungkasnya.

Di tengah gempuran hoaks, polarisasi, dan berbagai tantangan sosial yang menggerus kohesi umat, kehadiran IKADI dengan program nyata dan semangat dakwah yang tulus menjadi oase tersendiri. Bukan organisasi yang sibuk berpolitik, tetapi organisasi yang sibuk berkhidmat dari desa ke desa, dari masjid ke masjid, dan dari generasi ke generasi.

Kerja sama yang terjalin antara IKADI dengan Pemerintah Daerah pun menjadi bukti bahwa dakwah dan pembangunan bukanlah dua hal yang bertentangan, melainkan dua sisi dari satu koin yang sama: membangun manusia Indonesia yang beriman, berilmu, dan berdedikasi untuk negeri.

Indragiri Hilir, 25 Mei 2026

Penulis: Mistiah Basir, S.Pd.I
Mahasiswa Pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam Universitas Islam Bogor

Artikel Jurnalistik
Mata Kuliah Pendidikan Aswaja | Pascasarjana Universitas Islam Bogor

Artikel ini disusun berdasarkan wawancara langsung dengan tokoh IKADI Indragiri Hilir pada 25 Mei 2026 sebagai bagian dari tugas UTS mata kuliah Pendidikan Aswaja, Pascasarjana Universitas Islam Bogor.

⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI Logo WhatsApp Channel

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses