“Klik keranjang kuning, stok terbatas!” Kalimat ini menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia yang berbelanja melalui ponsel.
Fenomena yang dikenal sebagai live commerce berkembang menjadi salah satu tren utama dalam perdagangan digital. Di tengah perkembangan internet dan media sosial, live commerce menjadi jembatan lahirnya cara baru masyarakat Indonesia dalam berbelanja.
Perilaku konsumsi masyarakat Indonesia dalam berbelanja telah mengalami tiga fase pergeseran yang cukup signifikan. Pada fase awal, konsumen mengandalkan pengalaman langsung di toko fisik untuk menilai kualitas produk melalui sentuhan, pengamatan, dan interaksi tatap muka dengan penjual.
Memasuki era e-commerce konvensional, aktivitas berbelanja menjadi lebih praktis karena dapat dilakukan dari mana saja. Namun, keterbatasan informasi visual dan minimnya interaksi real-time membuat konsumen seringkali dihadapkan pada ketidakpastian atau “gambling” terhadap kesesuaian produk yang diterima.
Baca juga: Pengaruh Influencer Marketing terhadap Minat Beli di E-Commerce
Fitur live commerce hadir sebagai inovasi yang menjembatani kedua model tersebut. Melalui siaran langsung, konsumen dapat memperoleh penjelasan produk secara detail, mengajukan pertanyaan secara interaktif, serta merasakan suasana transaksi yang menyerupai pengalaman berbelanja di toko fisik. Fenomena ini tidak hanya mengubah cara konsumen mengambil keputusan pembelian, tetapi juga membuka ruang baru bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk berinovasi dalam strategi penjualan mereka.
Model e-commerce konvensional menawarkan efisiensi waktu dan jangkauan pasar yang luas. Konsumen dapat mengakses berbagai produk tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun, transaksi yang sepenuhnya berbasis teks dan gambar menimbulkan kendala baru. Deskripsi produk yang bersifat generik, dan foto yang ditampilkan rentan disunting sehingga tidak merepresentasikan kondisi riil barang.
Akibatnya, muncul fenomena ketidakpastian informasi atau information asymmetry antara penjual dan pembeli. Konsumen tidak dapat mengevaluasi tekstur, ukuran, maupun fungsi produk secara langsung. Interaksi dengan penjual pun terbatas pada fitur chat yang cenderung lambat dan kurang personal.
Keputusan pembelian lebih banyak didasarkan pada asumsi dan ulasan pengguna lain, sehingga risiko ketidaksesuaian produk menjadi lebih tinggi. Kondisi inilah yang disebut sebagai “gambling” dalam berbelanja daring.
Live commerce muncul sebagai respon terhadap keterbatasan tersebut. Dengan memanfaatkan fitur siaran langsung, platform e-commerce memungkinkan terjadinya interaksi dua arah secara real-time antara penjual dan konsumen. Konsumen dapat meminta penayangan detail produk, menanyakan ukuran dan material, bahkan melihat demonstrasi penggunaan secara langsung.
Inovasi ini menuntut kompetensi baru yang sebelumnya tidak krusial dalam e-commerce konvensional. Kemampuan berkomunikasi persuasif, membaca dinamika audiens, dan menjaga konsistensi siaran menjadi faktor penentu keberhasilan. Akibatnya, terjadi kesenjangan antara pelaku usaha yang mampu beradaptasi dengan cepat dan mereka yang belum memiliki kesiapan tersebut.
SIRCLO pada akhir 2024 memperluas pusat live streaming di BSD City hingga tiga kali lebih besar dan membina lebih dari 130 host profesional, sehingga meningkatkan durasi live streaming hingga 14 kali lipat. Jumlah pesanan melalui live commerce juga meningkat secara konsisten sebesar 8%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa pelaku usaha mampu menjangkau konsumen dan mendorong pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Mengingat jumlah penjual dan toko daring naik 75% secara tahunan pada 2025, mencapai 800 ribu pelaku usaha.
Dari sisi konsumen, live commerce meningkatkan tingkat kepercayaan dan mengurangi tingkat pengembalian barang. Interaksi langsung memungkinkan verifikasi informasi secara cepat, sehingga keputusan pembelian menjadi lebih rasional. Namun, kombinasi antara hiburan dan promosi terbatas juga dapat mendorong konsumsi impulsif yang perlu disikapi secara bijak oleh konsumen.
Meskipun menawarkan kemudahan dan peluang bagi konsumen maupun pelaku usaha, perkembangan live commerce juga memiliki tantangan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah tingginya tingkat persaingan antar penjual.
Dengan banyaknya pelaku usaha yang mengakses fitur ini, sehingga dituntut untuk terus berinovasi dalam menyajikan konten yang menarik untuk mempertahankan perhatian calon pembeli. Selain itu, live commerce juga mendorong perilaku pembelian impulsif.
Strategi pemasaran seperti diskon terbatas, flash sale, serta promosi eksklusif selama siaran berjalan membuat konsumen mengambil keputusan secara cepat. Akibatnya, konsumen menyesali pembelian setelah transaksi dilakukan .
Prospek live commerce di Indonesia masih sangat menjanjikan, walaupun menghadapi berbagai tantangan. Masa depan live commerce di Indonesia akan semakin berkembang dengan pesatnya perkembangan teknologi digital dan jumlah pengguna internet yang semakin meningkat.
Live commerce tidak hanya akan menjadi sarana promosi produk, tapi juga berkembang menjadi ekosistem perdagangan digital yang lebih terintegrasi. Sehingga, live commerce akan terus menjadi salah satu penggerak utama perdagangan digital Indonesia.
Live commerce membuktikan bahwa inovasi dalam kewirausahaan tidak selalu harus bersifat disruptif secara teknologi. Kadang, inovasi yang berhasil adalah yang mampu menyederhanakan masalah lama dengan cara yang lebih baik. Dengan menggabungkan kenyamanan berbelanja daring dan interaksi personal dari toko fisik, live commerce menjawab kebutuhan dasar konsumen: merasa yakin sebelum membeli.
Bagi ekosistem kewirausahaan di Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh modal besar atau teknologi canggih. Pemahaman mendalam terhadap perilaku konsumen dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan saluran penjualan menjadi kunci. Selama kebutuhan akan kepastian dan interaksi tetap ada, model live commerce akan terus relevan dan menjadi motor pertumbuhan ekonomi digital nasional.
Penulis:
- Kamilatunnisa Az Zahra Wiwaha (H3501251011)
- Riska Melati Agustina (H3501251013)
- Alfu Laily (H3501251033)
- Shinta Wahyu Ningsih (H3501251041)
Mahasiswa Magister Sains Agribisnis, IPB University
Dosen Pengampu: Dr. Ir. Burhanuddin, MM
Editor: Salwa Alifah Yusrina
Bahasa: Rahmat Al Kafi
⚡ Baca Lebih Cepat Artikel MMI di Ponsel Anda!
Ikuti Channel WhatsApp
Media Mahasiswa Indonesia (MMI):
KLIK DI SINI














